Lagi pula, semuanya Kania lakukan hanya kepada Biantara. Hanya di depan pria yang telah merenggut kesuciannya ia berperan sebagai j.a.l.a.ng yang tidak tahu diri. ** Malam hari .... Meski belum dalam kondisi membaik, Kania tetap melakukan tugasnya. Ia berdiri di dapur, tangannya dengan terampil mengolah bahan untuk makan malam Biantara. Sesekali ia berdiri, istirahat sebentar, lalu melanjutkan lagi kegiatannya. Tubuhnya yang lemah sebenarnya masih membutuhkan waktu istirahat. “Biar saya bantu, Non.” Seorang pelayan menawarkan diri. “Boleh, Mba. Tolong buatin mienya aja. Aku mau nyiapin baksonya.” “Baik, Non.” Pelayan itu dengan cekatan membuat mie dari tepung dan telur. Sementara Kania mulai membuat kuah bakso dan memastikan rasanya pas. Selagi menunggu kuahnya mendidih, Kania

