Bab 68-4

660 Words

Kalimat itu terasa seperti penutup, tapi Davin belum menyerah. Ia membuka mulut lagi, hendak mengatakan sesuatu, tetapi Kania sudah berdiri lebih dulu. Kania melangkah menjauh tanpa menoleh. Hak sepatunya menyentuh lantai batu di tepi kolam dengan ritme cepat, menandakan ketidaksabarannya. Ia memilih kursi kosong yang agak tersembunyi di balik pot besar berisi tanaman hias, berharap jarak bisa menjadi penghalang yang cukup jelas. Nyatanya, tidak. Beberapa detik kemudian, suara langkah menyusul dari belakang. Davin muncul lagi, seperti bayangan yang sengaja tidak mau lepas. “Ngapain pindah?” tanyanya santai sambil menarik kursi di hadapan Kania, lalu duduk tanpa izin. “Gue belum selesai ngomong.” Kania mengembuskan napas panjang. “Aku yang udah selesai,” katanya datar. “Tolong, janga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD