“Jangan bengong gini, Kania. Gue ambilin air putih aja, ya. Lo kayaknya sedikit syok.” “Iya, Nal. Thanks, ya.” Acara itu akhirnya kembali berjalan seperti biasa. Kekacauan yang sempat terjadi sudah dibersihkan oleh penjaga yang bertugas di sana. Kania, Nala, dan Naren kini menikmati kue dan hidangan lain. Nala berdiri di sisi bar. Pandangannya menyapu deretan botol, sebelum akhirnya mengambil dua jenis minuman beralkohol. Ia membawa dan memberikannya pada Naren. “Nih, gue ambilin. Lo biasanya minum ini, kan?” “Biasanya?” Dahi Kania mengernyit. Kata-kata Nala seolah tahu dan paham kebiasaan Naren. “Ah, iya. Aku pernah cerita sama Nala kalau sering minum jenis ini.” Kania akhirnya mengangguk. Ia memilih meneguk air putih yang sempat diambilkan Nala beberapa waktu lalu, sambil mena

