“Iya, sama-sama. Aku masuk dulu.” “Oke.” Kania akhirnya melangkah, meninggalkan mobil itu. Ia menaiki satu per satu anak tangga dengan langkah ringan. Ia merogoh sesuatu dari dalam tas. Kunci pintu balkon itu diputar. Kania masuk dengan hati-hati dan menutupnya. Ia sempat melihat keluar dari balik tirai. Mobil Naren sudah pergi dengan laju tinggi. Suasana kamar Kania yang gelap membuat gadis itu berjalan hati-hati untuk mencari sakelar lampu yang berada di dekat pintu. Bugh! Tiba-tiba Kania menubruk sesuatu yang keras. Bahunya bahkan merasa sakit. Ia memegangi bagian itu sambil meringis. “Duh, sakit banget,.” Gadis itu mengaduh. Ia kembali berusaha meraba benda yang ia cari. Namun, sesuatu menghalangi tepat di depannya. Kania menyentuhnya. Meraba dengan hati-hati. Sesuatu it

