Bab 72-2

710 Words

Beberapa menit setelah hidangan siap, Melati turun bersama Biantara. Tangan Melati menggandeng lengan suaminya saat mereka menuruni anak tangga satu per satu. Kania sudah lebih dulu duduk setelah menuangkan air putih ke setiap gelas. Luka di punggungnya kini mulai mengering, cukup membuatnya bisa bergerak lebih leluasa, meski tetap pelan dan hati-hati. “Wah, harum banget masakan kamu pagi ini, Kania.” Melati memberi pujian sambil menghirup dalam-dalam aroma masakan yang ada di meja. Ia menatap takjub apa yang ada di sana. “Cuma menu rumahan, Kak.” Kania mengambilkan nasi untuk Biantara, lalu Melati. Sudut matanya sempat berbalas dengan mata Biantara yang menatapnya penuh arti. “Mas. Kamu cobain perkedel buatan Kania, deh. Enak tau.” Pria tersebut meneguk air putihnya lebih dulu,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD