Bab 72-3

714 Words

Padahal, sedari tadi Kania diam. Gadis itu menanggapinya santai. Ia tidak terseret arus ketegangan yang sedang dibuat pamannya. “Kalau aku bilang mau Om hancur ... Om mau apa?” Biantara berdecih sinis. “Jangan sok kuat kamu!” Kania mengedikkan bahu, acuh tak acuh. Ia tidak peduli dengan Biantara yang terus menekannya. Ia menduga dari awal bahwa hal ini akan terjadi. Sang paman selalu mengintimidasinya di belakang Melati. “Lebih baik urungkan niat itu sebelum foto ini sampai ke tangan papa kamu!” Biantara menunjukkan foto Kania dan Naren kemarin. Dari sisi belakang, keduanya memang seperti tengah berciuman. “Oh, jadi Om mau ngancem aku, nih?” “Diam kamu!” Biantara berusaha menahan amarah yang siap meledak. “Nggak sepantasnya kamu melakukan ini, Kania.” “Ya, pantes aja, dong, Om.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD