Mark

1646 Words
Guritadotcom –Mark yang merupakan seorang penyanyi dari agensi besar dikabarkan memiliki penyimpangan menyukai sesama jenis. Investigasidotcodotid –karena skandal yang menimpa dirinya Mark dikabarkan kembali ke Indonesia. Agensi menginformasikan Mark sedang dalam masa hiatus. Wordbydotca –Benarkah Mark seorang gay? Bukti Mark lebih sering dekat dengan lelaki dari pada lawan jenis! Notifikasi pada ponselnya penuh mengenai berita tentang salah satu teman kampusnya dulu yang bernama Mark. Henry tidak begitu mengenal Mark dengan baik, dia hanya cukup tahu bahwa Mark adalah teman dekat Jenni dulu dan sekarang ini Jenni tidak ingin bertemu kembali dengan Mark meski hanya sekilas. Berita tentang Mark menyeruak di tanah air, seolah tidak mungkin ada yang tidak tahu tentang Mark yang akan kembali ke Indonesia karena skandal tentang penyimpangan seksualnya tersebut. Tak terkecuali Jenni, perempuan itu pasti sudah tahu kabar ini. “Ayolah, angkat,” gumam Henry seraya melihat ponselnya yang sedang menelepon Jenni tapi tak kunjung di angkat. Ini adalah panggilan teleponnya yang ke sepuluh kali. Tak juga mendapat jawaban dan tak juga mendapatkan panggilan kembali dari Jenni. Biasanya ketika menelepon perempuan itu sekali, juga dalam deringan pertama, Jenni langsung mengangkatnya. Jika Jenni tidak berlaku seperti biasa. Perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. Henry memarkirkan mobilnya di lahan kosong yang tidak jauh dari rumah Jenni. Dia berjalan cepat menuju kediaman yang ditinggali perempuan itu seorang diri. Beruntung pagar rumahnya tidak dikunci sehingga Henry mudah masuk ke pekarangan rumah sederhana itu. Sudah tidak peduli dengan mengucapkan salam sebagai tanda kesopanan. Henry langsung menggedor pintu rumah Jenni dan memanggil perempuan yang sudah dianggapnya adik itu. “Jenni… Jenni…” Henry cemas karena Jenni tak kunjung membuka pintu juga. Butuh beberapa saat hingga Henry mendengar suara kunci yang sedang diputar dan tak lama setelahnya pintu coklat itu terbuka. Jenni tampak pucat dengan tubuhnya yang dibalut beberapa lapis pakaian sehingga sulit dibuka. Jenni sedang tidak baik-baik saja. Henry tahu itu sehingga dia tidak bertanya hal itu, yang tentunya akan dijawab Jenni, bahwa dirinya baik-baik saja, berbanding terbalik dengan kondisi sebenarnya. “Boleh aku masuk ke rumah mu?” tanya Henry meminta izin. Jenni mengangguk sebagai jawaban verbal, mengesampingkan tubuhnya agar Henry bisa masuk ke rumahnya. Saat Henry sudah duduk di sofa ruang tamu, Jenni menutup pintunya sedikit sehingga masih ada celah untuk melihat keluar melalui pintu. Jenni duduk di sofa yang sama dengan sofa yang Henry duduki. Perempuan itu menunduk dalam, tak ingin beradu pandang dengan Henry, tak ingin Henry melihat wajahnya. Meski begitu, Henry mudah sekali menangkap ekspresi kecemasan parah yang Jenni tunjukan. Henry tahu asal dari kecemasan itu, namun dia tidak ingin berbicara atau bertanya untuk memperjelas, biarlah Jenni yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Kau… sudah dengar atau baca berita mengenai Mark?” tanya Jenni sendu. “Sudah. Berita tentang Mark ada di mana-mana.” “Katanya dia sedang dalam masa hiatus karena terkena skandal penyuka sesama jenis,” Jenni mendengus geli, “orang bodoh mana yang menyebar berita gila itu? Karena berita yang tak masuk akal seperti itu Mark jadi kembali lagi ke sini.” Panik yang berlebihan mulai Jenni tunjukan ketika mengingat lelaki yang pernah menjadi sahabat dekatnya itu. Henry memegang pundak Jenni, mengarahkan Jenni untuk menghadapnya meski Jenni masih menunduk dalam. “Jenni. Kau tidak perlu cemas, Mark tidak akan bisa menyentuh mu. Aku janji, tidak akan pernah selama masih ada aku di sini,” ucap Henry berusaha meyakinkan Jenni bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ada dirinya. Dengan tangannya yang gemetar Jenni menyentuh kerah bajunya dan menggengganya kuat. “Aku juga berbeda dari yang dulu. Aku tidak takut sama sekali dengan dirinya lagi. Dan aku juga… bisa melawan sehingga dia tidak akan menyentuhku lagi walau hanya seujung rambut.” “Iya Jenni kau lebih kuat dari pada tahun-tahun sebelumnya,” ujar Henry memuji Jenni, bukan hanya omong kosong belaka. Namun memang Jenni tumbuh jauh lebih baik dari pertama kali Henry menemui perempuan itu tengah dalam keadaan mengenaskan. Tapi Henry tidak yakin Jenni bisa tetap seperti sekarang ini saat berhadapan dengan lelaki yang menjadi sumber ketakutan terbesarnya. “Kau tenang saja, aku di sini akan melindungi dari apa pun.” Termasuk pada ucapannya kali ini. Henry benar-benar serius akan melindungi Jenni, agar kejadian yang berhubungan dengan Mark tidak terulang kembali untuk kedua kalinya. Rio: Mark kau sudah sampai di Indonesia Rio: Aku sudah berada di parkiran bandara. Mobilku satu-satunya yang berwarna biru gelap di sini Mark: Oke Tak ada yang menyorotnya ketika sudah menginjakan kaki di bandara. Tentu saja. Karena ayahnya adalah salah satu orang terpandangan yang memiliki kedudukan tinggi, sehingga mudah bagi ayahnya menyembunyikan kehadiran anak tunggalnya yang kembali lagi ke negara asalnya. Yang media tahu, Mark akan pulang ke Indonesia minggu depan. Nyatanya sekarang ini, dia sudah menginjakan kakinya di Negara yang sangat dia rindukan ini. Semenjak berada di Negara tetangga, Mark tidak pernah pulang ke sini. Terlepas dari ke sibukannya. Ayahnya yang tidak menginginkan dirinya berada di sini. Mark beruntung karena skandal yang tak benar itu –dia juga enggan mengelak- ayahnya mau tak mau memperbolehkannya kembali ke Indonesia. Kalau tahu semudah ini kembali ke tempat kelahirannya. Sudah pasti akan Mark lakukan sejak dulu. Netra hitam itu menangkap satu-satunya mobil berwana biru yang ada di parkiran. Mark mendekati kendaraan beroda empat itu, mengetuk pintu kacanya. Pintu itu di buka sedikit, Rio menyuruh Mark untuk segera masuk ke mobilnya. Takut ada orang yang melihat mereka. Mark pun mengambil posisi duduk di kursi samping pengemudi, mengenakan seat belt sebelum Rio menjalankan mobilnya. “Bagaimana rasanya setelah sekian lama menginjakan kaki di Indonesia lagi?” tanya Rio ditengah perjalanan. “Tentu saja menyenangkan. Aku rindu sekali Negara in,” sahut Mark disertai senyum kecil. “Kau jauh berbeda dengan yang dulu ya. Selama ini aku hanya melihat mu dari jauh saat kau sedang konser atau ketika kau sedang melakukan live i********:. Pantas saja kau punya banyak penggemar perempuan.” Mark tertawa renyah. “Lain dengan kau ya. Sepertinya kau tidak banyak berubah.” Rio menghela napas pelan. “Iya penampilanku dari dulu memang begini. Ya… paling tidak, tidak begitu buruk untuk di pandang.” “Bukan, maksudku bukan begitu,” ralat Mark, “dari dulu kau sudah mendengar gossip kalau aku itu gay. Kau masih mau berteman denganku. Bahkan skandal ku yang sekarang ini pun berhubungan dengan hal serupa, tapi sikap mu sama sekali tidak ada perubahan. Ya paling tidak kau merasa jijik.” “Aku tidak peduli dengan itu. Aku merasa cocok berteman denganmu, jadi tak masalah buatku,” Rio mengedikan bahu, “jujur saja ya. Dari dulu, bahkan aku tidak pernah merasa kalau kau itu menyukai sesama jenis. Insting seorang lelaki, menurutku kau itu normal. Tapi tidak tahu juga ya, itu urusan mu.” “Ah begitu,” respon Mark singkat. Dia bersandar pada jendela mobil, menopang dagunya dengan satu tangan sementara matanya menatap lurus pada jalanan yang dilalui. Mark tidak suka banyak bicara, meski profesinya mengharuskan dia banyak berinteraksi dengan fans. Mungkin media mengenalnya sebagai pribadi yang menyenangkan, ramah dan segala hal positif lainnya yang dia tunjukan pada orang luar. Percayalah, kepribadiannya yang itu adalah buatan agensi, sebab fans menginginkan idolanya yang penuh kesempurnaan. Ketika saat sedang bersama orang terdekat saja Mark tidak harus pusing mencari bahan obrolan agar dikenal menyenangkan. “Oh iya.” Mark menoleh ke Rio yang masih mengemudi. “Apa?” “Tak hanya aku yang mau menjadi teman mu dulu ‘kan? Kau sangat dekat dengan primadona kampus, membuat lelaki mana pun iri karena kau satu-satunya lelaki yang bisa dekat dengannya. Mereka sangat iri padamu meski mereka sudah mendengar gossip bahwa kau itu tidak menyukai perempuan.” “Ahh… maksud mu Jenni,” gumam Mark menyebut nama perempuan yang tidak mungkin bisa dilupakannya. “Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Jenni?” timpal Rio, “bicara tentang Jenni, aku mendapatkan kabar dari Jake tentang perempuan itu. Kau masih ingat dengan Jake?” Mark mengangguk. Dia menegakan tubuhnya, sedikit menyerong ke arah Rio. “Jake adalah orang yang paling tidak di sukai Jenni. Tentu saja aku mengingat dia.” “Belum lama ini aku bertemu dengan Jake. Dia membicarakan tentang Jenni, kalau perempuan itu-” Rio menggantungkan ucapannya. Seperti berpikir untuk menlanjutkan pembicaraan ini atau tidak. Mark sangat mengenal Rio yang sangat tidak bisa menyimpan sebuah rahasia. Mark yakin sekali, pembicaraan antara Rio dan Jake pasti sangat privasi sehingga Jake meminta Rio untuk menyembunyikannya, namun Rio lupa akan hal itu sebab banyak yang ingin dia ceritakan. Dan sekarang dia baru ingin jika tidak boleh membicarakan ini pada siapa pun. “Hei, kalau kau tidak bisa menceritakan semuanya. Bicara tentang garis besarnya saja,” bujuk Mark. Dengan disertai sedikit kalimat memelas agar Rio lebih terbuka padanya, “kau tahu sendiri ‘kan aku selama ini mencari informasi tentang Jenni. Tapi satu pun tidak berhasil aku temukan. Selagi aku ada di sini, aku ingin kembali bertemu dengannya.” Rio menghela napas pelan, melirik sekilas ke Mark yang menatapnya penuh harap. “Jenni sekarang bekerja di perusahan milik keluarga Jake, dan Jake menjabat sebagai Branch Manager di sana.” Mark tidak berbicara apa pun setelah itu. Mobil yang dibawa Rio berhenti karena lampu merah. Karena tak kunjung mendapatkan respon dari Mark, Rio mencoba leihat Mark dari ekor matanya. Salah satu teman dekatnya itu, kembali menoleh ke arah luar sehingga Rio tidak dapat melihat ekspresi Mark sekarang ini. Rio hanya melihat tangan Mark yang mengepal dengan kuat. “Mark, aku masih penasaran. Kau dan Jenni berteman dengan dekat. Masa kau sama sekali tidak tahu kabarnya?” “Bukannya aku sudah pernah bilang pada mu? Semenjak dia menghilang dari kampus, dia pun sama sekali tidak pernah menghubungi ku.” “Ah begitu,” Mark tampaknya tak ingin membahas hal ini. Sehingga Rio tidak ingin membicarakan tentang Jenni lagi. Alasan mengapa Rio menganggap Mark bukanlah penyuka sesama jenis. Terakhir kali dirinya tak sengaja melihat Mark bersama Jenni, pandangan yang Mark tunjukan pada Jenni, adalah pandangan memuju seolah ingin memiliki Jenni secara mutlak. Bukan pandangan hanya sebatas teman saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD