Fact About Jenni

1353 Words
“Tuan, saya sudah membawa informasi lengkap mengenai Nona Jenni dan Lily.” Jake bersandar pada sofa. Meminum sedikit kopi dari cangkir dengan uap yang masih mengepul di atasnya. “Baik, lanjutkan.” Jake menaruh cangkir di meja bulat di depannya. Dia menegakan tubuhnya dan menatap lurus detective yang tengah mengambil beberapa lembaran kertas di sebuah map berwarna hitam. Saat kertas itu ditaruh, matanya menangkap sosok Jenni yang masuk ke club malam akasia –meski menggunakan masker, Jake masih dapat melihatnya dengan jelas- dengan jam yang menunjukan hampir malam. Kemudian terdapat foto Jenni yang tengah keluar dari club malam tersebut pada pagi hari, dengan pakaian yang sama seperti sebelum dia masuk ke club malam tersebut. “Jenni dan Lily adalah orang yang sama. Pada jam normal, yaitu dari pagi hingga jam pulang kantor telah selesai dan tidak ada yang mengharuskan dirinya untuk lembur. Dia adalah pegawai teladan di perusahaan ini. Saat menjelang jam malam, Jenni selalu datang ke club akasia, menjadi penari striptis di sana dengan nama samaran, Lily. Tiga jam sebelum masuk kantor, dia baru akan pulang ke rumahnya.” Penjelasan detective membuat sudut bibir Jake terangkat. Dugaannya selama ini tentang Jenni benar. Seperkian detik kemudian dia sadar ada sebuah kejanggalan yang belum di ungkapkan di sini. “Oh iya, kau pernah bilang tentang sulit sekali mendapatkan informasi mengenai Lily karena ada seorang influencer yang menyembunyikan identitasinya. Tapi kenapa mudah sekali menyelidiki info tentang Jenni ya?” “Sebenarnya tidak mudah juga. Saya bisa menemukan kesimpulan ini, karena Tuan menyuruh saya menyelidiki secara bersamaan, jadi saya sudah bisa menangkap garis besarnya.” “Kau tahu siapa influencer itu? Jangan-jangan influencer itu pernah menyewa Lily juga, makanya dia tidak menginginkan Lily menjadi miliknya?” “Tidak ada yang tahu identitas influencer itu. Tapi yang pasti, Lily tidak pernah bekerja, bertemu client selain diluar club, dan influencer tersebut bahkan tidak pernah menginjakan kaki di club akasia.” Jake mengangguk paham. Dia mengambil sebuah cek dari saku celananya yang menaruh cek tersebut di atas meja. “Terima kasih untuk kerja keras mu.” Influencer yang menyembunyikan identitas Lily itu. Jake sebenarnya penasaran, mengenai apa hubungan influencer tersebut dengan Lily yang notabenenya adalah Jenni juga. Pasti orang yang menyembunyikan identitas Lily, juga mengenal Jenni. Tapi orang itu bukan orang sembarangan, pasti sulit bagi Jake untuk mengetahui siapa orang tersebut dan toh Jake juga sudah mengetahui identitas Lily sebenarnya. Jadi sepertinya, untuk sekarang ini Jake belum perlu menyelidiki kembali. Sebab sekarang ini. Dirinya hanya perlu fokus, membawa Jenni dalam kukungannya sebab Jake sudah mengetahui rahasia terbesar Jenni. Jake mengambil lembaran ketas berisi foto Jenni. Dia mengusap foto tersebut dengan ibu jarinya, “let’s start the game. And I’m sure I will be the winner, Jenni,” gumam Jake dengan senyum yang semakin mengembang. Businesstimeline- Setelah kembali ke Indonesia, Mark dikabarkan ikut andil mengurus perusahaan keluarganya. Dan sekarang ini dikabarkan akan melakukan kerja sama dengan Synopecti Group Rio : Hei, kau sungguh akan kerja sama dengan Synopecti Group milik Jake Rio : Kau melakukan ini karena aku bilang Jenni juga kerja di sana ya? Rio : Jangan sampai Jake tahu bahwa aku memberitahu mu tentang keberadaan Jenni Mark : Ayahku memang ingin bekerja sama dengan Synopecti Group. Kebetulan aku sudah berada di Indonesia, jadi aku sekalian belajar mengurus perusahaan Tentang itu, Mark memang tidak berbohong. Tapi lebih tepatnya mungkin, ayahnya ingin Mark belajar mengurus perusahaan, jadi ayahnya memberikan pilihan perusahaan mana yang ingin Mark ajak kerja sama untuk permulaan, dan Mark memilih Synopecti Group, terlepas dari perform perusahaan tersebut yang terus meningkat. Tentu saja Mark memilih Synopecti Group karena Jenni bekerja di perusahaan tersebut. Sehingga dia punya alasan untuk berada di sini meski tidak dengan intensitas yang sering. Tapi paling tidak, Mark bisa kembali mencari tahu segala hal tentang Jenni selama mereka tidak bertemu semenjak bertahun-tahun lalu. Hari ini adalah pertemuan pihaknya dengan pihak Synopecti Group, memilih membahas mengenai pekerjaan di restoran sekitar sini. Mark kira, Jake selaku Branch Manager juga akan ikut datang, nyatanya kehadiran Jake hanya diwakilkan oleh Adam. Mark mengenal Adam karena lelaki itu juga satu almameter dengannya. Sesekali Mark bicara dengan Adam, ketika ayahnya dan Presdir Synopecti Group berbicara lewat dari hal pekerjaan. Ternyata ayahnya mengenal Presdir perusahaan ini karena dulu merupakan adik tingkat yang cukup dekat dengannya. Itu adalah hal plus untuk memulai kerja sama bisnis. Bahkan selepas makan siang bersama, ayahnya dan presdir berniat untuk menghabiskan hari dengan bermain golf bersama. Mark sebenarnya juga di ajak. Namun Mark enggan, jadi dia berdalih. “Aku ingin mengunjungi kantor Synopecti Group, untuk perusahaan yang nantinya akan bekerja sama dengan perusahaan yang akan aku pegang, sepertinya aku harus tahu lebih dalam.” Tak ada yang curiga sama sekali. Terlebih lagi, ayahnya pun tidak tahu jika Jenni bekerja di sana, jadi itu adalah kesempatan yang bagus untuk Mark. Jadi di sinilah Mark sekarang. Kantor utama Synopecti Group dengan Adam yang berada di sebelahnya. “Ah aku lupa tanya. Di mana Jake? Bukannya dia adalah Branch Manager di sini?” tanya Mark ketika sudah sampai di lobby kantor. “Jake sedang berada di kantor cabang daerah luar pulau. Aku tidak ikut, karena menjadi perwakilan dirinya untuk meeting dengan perusahaan mu hari ini.” “Oh, padahal aku ingin bertemu dengannya.” Adam terkekeh pelan. “Dia tidak jauh beda dari yang dulu. Mungkin untuk meeting selanjutnya dia akan ikut jika tidak ada urusan mendadak lagi.” Mark melangkahkan kakinya memasuki kantor, dengan Adam yang berjalan tak jauh di belakangnya. Karena ini mamasuki jam isirahat, tentu saja banyak pegawai yang keluar dari ruangnnya, dan sudah pasti Mark banyak berpapasan dengan para pegawai Synopecti Group. Kebanyakan pegawai wanita yang melihatnya, menunjukan pandangan canggung –mungkin sudah tahu kabar miring mengenai dirinya-, tapi ketika mata mereka beradu pandangan Mark tetap mendapatkan sikap sopan dari para pegawai yang menundukan badannya sedikit sebagai tanda hormat. Mark tidak peduli pada pandangan banyak orang yang mungkin menatapnya dengan padangan menjijikan. Toh pada kenyataannya dirinya tak seperti itu. Yang dia pedulikan saat ini adalah bertemu kembali dengan Jenni. “Oh iya, aku dengar ada salah satu teman kampus kita yang juga berada di sini.” Adam mengangguk, kemudian dia mengernyit. “Jenni juga bekerja di sini. Kalau tidak salah, kau bukannya dekat sekali dengan Jenni? Kenapa kau tidak tahu hal itu?” “Kami putus komunikasi setelah aku berada di agensi. Ya… kau tahu sendiri, semacam peraturan agensi untuk tidak dengan lawan jenis,” Mark mengedikan bahu, “apa kau tahu Jenni berada di ruangan mana? Aku ingin bertemu dengannya.” “Saat jam istirahat aku pernah melihatnya di perpustakaan atau di kantin bersama temannya. Mungkin sekarang dia ada di antara dua tempat itu.” “Um… aku rasa untuk sekarang dia tidak mungkin berada di tempat sepi seperti perpustakaan. Bisa tunjukan di mana kantinnya? Aku juga ingin minum kopi.” “Ah baiklah. Kantin juga tidak jauh dari sini.” Di persimpangan lorong. Mark mengikuti langkah Adam, sahabat dari Jake itu melangkah lebih dulu dengan Mark yang kini berada di belakangnya. Mark memasukkan tangannya ke saku celana panjangnya, mencoba tenang selama mengikuti Adam menuju kantin, dengan cara mengepalkan kuat tangannya yang berada di saku. Saat kakinya mulai memasuki ruangan besar yang disebut kantin. Matanya mulai menelusur mencari sosok gadi cantik yang selama ini hanya bisa dilihat olehnya lewat foto-foto lama yang ditempelnya di dinding kamarnya, atau album foto yang berada di ponselnya. “Nah. Itu dia, Jenni,” Adam menyenggol lengan Mark, lelaki itu menunjuk meja tengah kantin yang di duduki oleh tiga orang karyawan perempuan, “Jenni!” Panggilan dari Adam membuat si empunya nama menoleh. Sesaat perempuan itu menoleh pada Adam, senyum kecil mengembang, melambaikan tangan sebagai tanda menyapa. Namun dalam seperkian detik ketika matanya beradu pandang dengan Mark yang berada tak jauh dari Adam, senyum itu memudar dengan cepat. Tubuh Jenni terlihat membatu, tangan yang tadinya melambai, kini bergetar seiring dengan tangannya yang kembali dia taruh di sisi tubuhnya. Berbanding terbalik dengan Mark, yang kini menunjukan senyum miring sebagai salam untuk Jenni yang sudah lama tak ditemuinya. Pandangan yang Mark tunjukan adalah pandangan bahwa dirinya tak akan melepaskan Jenni lagi. Dan Mark yakin, Jenni juga pasti sadar akan hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD