Mr. Sun: Tuan. Apa kita bisa bertemu sekarang?
Jake: Tentu saja. Datang saja ke kantor ku. Ku tunggu di ruanganku
Mr. Sun: Baik, Tuan
Adam melirik layar laptop Jake yang sedang menampilkan room chat antara Jake dan salah satu detective yang sering Jake sewa bahkan untuk urusan yang sebenarnya tidak begitu penting untuk diselidiki.
Adam tahu tahu tidak sopan jika mencampuri urusan atasannya. Tapi kadang, jika dirinya tidak mencampuri segala urusan mengenai Jake, yang ada sahabatnya itu lepas kendali dan melakukan hal diluar akal sehat manusia pada umumnya.
Seperti saat ini. Menghamburkan uang –walau memang uangnya banyak- hanya untuk menyewa detective agar bisa mencari tahu tentang penari striptis yang baru sekali ditemuinya.
“Selanjutnya hal gila apa yang akan kau lakukan?” tanya Adam sarkastik.
Jake memode sleep laptopnya, dia menopang dagu di atas meja, tampak menimbangkan sesuatu sebelum menjentikan jari, dengan raut wajah tanpa beban dia berkata, “aku akan cari tahu kelemahannya dan segala hal apa pun yang bisa aku lakukan untuk mengancamnya agar aku bisa melihat wajahnya tanpa ditutupi topeng.”
Jake mengungkapkan ide gilanya tepat ketika Adam meminum espresso dingin. Terkejut dengan jalan pikiran Jake, hingga dia tersedak minumannya sendiri. Tumpahan kopi dari mulutnya itu mengenai kemeja putihnya.
“Hei. Kau kalau minum itu tidak usah terburu-buru, kau jadi tersedak seperti itu ‘kan. Aku tahu kau-”
“Aku ini tersedak gara-gara kau!” sela Adam emosi. Dia menaruh gelas kosong itu di atas meja dengan cukup keras.
Persetan dengan status Jake sebagai atasannya. Jika sedang emosi seperti ini, dirinya mendoktrik otaknya sendiri bahwa Jake hanyalah sahabatnya saja!
Jake menunjuk dirinya sendiri dengan tampang bodoh tidak tahu apa-apa. “Ada apa memangnya dengan ku? Sepertinya aku tidak melakukan apa pun.”
“Kau dan otak gila mu itu masalahnya. Kenapa kau berpikiran hal sejauh itu hanya untuk seorang penari striptis yang bahkan tidak bisa kau ajak tidur!”
Bibirnya terbuka beberapa saat, seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, Jake lebih dulu mengedikan bahunya yang berkata, “dia itu sangat misterius. Jadi aku tertantang untuk menaklukan dia yang sepertinya tidak terpengaruh sama sekali dengan pesonaku.”
Adam menghela napas kasar. Dia beranjak dari sofa yang berada di ruangan Jake, mengambil berkas yang sudah ditanda tangani oleh Jake. “Itu berarti dia adalah gadis yang waras. Aku kagum dengan penari striptis itu.”
Jaket tergelak. “Sarkas mu lucu sekali.”
“Aku tidak becanda. Yang aku bilang itu serius, Jake.”
“Eh? Kau mau ke mana?” tanya Jake ketika melihat Adam berjalan keluar dari ruangannya.
“Aku ingin beli kemeja di mall depan kantor, tidak mungkin aku meeting dengan pakaian yang penuh tumpahan kopi ini dan aku juga akan mempersiapkan ruangan file untuk meeting nanti.”
“Ah begitu. Baiklah.”
Pintu ruangan di tutup. Kini hanya ada dirinya saja.
Jake bersandar pada kursi putarnya dan menghela napas panjang. Telunjuknya mengetuk meja. Sebenarnya dia ingin berkata jujur pada Adam mengenai alasan utama mengapa dirinya terobsesi mengetahui identitas Lily.
Sebab dia sepertinya merasa kenal dengan penari itu, dari harum bahkan lekuk tubuhnya seperti mirip dengan Jenni –meski Jake sendiri belum pernah melihat tubuh Jenni yang hanya memakai dalaman saja, entah kenapa dia yakin kalau Lily adalah Jenni.
Jika Jake memberitahu tebakan konyol itu pada Adam, pasti Adam akan menganggapnya gila dan meledeknya, seperti; “Kau gila? Jenni si gadis bermatabat tinggi dan paling membenci lelaki, terutama lelaki sepertimu, dia tidak mungkin melakukan pekerjaan seperti itu.”
Jadi, biarlah dia menyimpan ini sendirian dulu.
Pintu ruangannya terbuka. Membuat atensinya mengarah ke depan, memperhatikan orang yang memasuki ruangannya.
Pria dewasa yang lebih tua darinya, yang merupakan detective sewaan kepercayaannya untuk menyelidiki segala hal apa pun yang ingin dia tahu tanpa harus bersusah payah mencari tahu sendiri. Pria itu duduk di sofa yang sebelumnya diduduki oleh Adam. Jake pun beranjak dari kursinya untuk mengambil posisi duduk yang tidak jauh dari pria yang biasa dia panggil Mister.
“Jadi, bagaimana dengan penyelidikan selama seminggu ini? Tentu kau sudah mendapatkan informasi secara terperinci bukan?” tanya Jake dengan percaya diri.
Dia selalau memakai jasa pria itu karena melakukan pekerjaannya dengan baik, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hasil yang dia mau. Jadi dia yakin detective itu pas membawa informasi yang mendetail hanya dengan penyelidikan satu minggu.
“Maaf sebelumnya, Tuan. Dalam satu minggu ini saya tidak mendapatkan hasil yang maksimal seperti biasanya.”
Jake menaikan sebelah alisnya, merasa heran. “Lantas apa yang kau dapatkan selama satu minggu ini?”
“Lily mempunyai backup orang penting yang membuat identitasnya sulit diketahui orang lain, itu mengapa dia aman sampai sekarang, meski banyak pelanggan penting yang ingin mengetahui identitas. Backup dari perempuan itu adalah salah satu influencer terkenal dan juga merupakan penerus salah satu perusahaan besar. Bahkan backup dari Lily tersebut, saya tidak bisa menemukan informasinya sama sekali.”
“Berarti dia adalah milik influencer tersebut?”
“Fakta yang saya dapatkan. Lily sendiri tidak tahu bahwa ada orang yang membantunya menyembunyikan identitasnya.”
“Aku kira dia hanya perempuan biasa yang membutuhkan banyak uang hingga melakukan pekerjaan seperti ini. Nyatanya dia bukan perempuan biasa seperti apa yang aku pikirkan.” Jake memijat pelipisnya yang berkerut, “kalau begitu cari tahu dalam seminggu lagi. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus aku keluarkan. Intinya minggu depan, aku ingin kau memberikan informasi secara mendetail.”
“Baik, Tuan.”
Hari ini, tepat seminggu dari terakhir kali Jake bertemu dengan Lily. Dia kembali datang di jam yang sama, dan memesan ruangan yang sama pula untuk bisa bertemu dengan gadis yang disewanya malam ini hanya untuk melihat tarian special dari gadis itu.
Tapi untuk malam ini , Jake tidak ingin hanya melihat. Jake yang paham jika dirinya sangat manipulative ini tentu saja membuat Lily mulai masuk dalam kukungannya.
Ketika dia menggeser pintu dan membukanya sedikit hanya untuk dirinya bisa masuk ke ruangan khusus itu. Iris pria itu menangkap sosok Lily yang duduk di sofa dengan posisi kaki sedikit mengangkang dengan memegang gelas kecil yang sudah berisi vodka.
Suara pintu yang dibuka, ternyata terdengar oleh perempuan itu. Lily menoleh, dan ketika mendapati Jake sudah berada di ruangan ini, Lily pun menaruh gelas yang sudah kosong itu di atas meja bundar.
Seperti saat pertama kali bertemu, Lily menunjukan sikap ramah dengan senyuman manisnya. “Tuan sudah datang ya ternyata,” sapanya dengan suara lembut yang sangat Jake sukai.
Jake duduk di sofa tepat di samping Lily. Mengambil gelas yang berada di tangan Lily dan meminum sisa vodka yang masih ada.
“Kau tidak boleh terlalu sering minum minuman keras sayang,” ucap Jake setelah menghabiskan cairan yang berisi kandung alcohol sekitar 40 persen itu.
Dia meletakan gelas yang sudah kosong itu di atas meja bundar di depannya. Kemudian merangkul Lily agar semakin dekat dengannya. Atensinya memperhatikan Lily, kemeja hitam tipis yang dikenakannya terlihat polos dan nakal dalam waktu yang bersamaan.
Tiga kancing teratas kemeja tersebut di buka sehingga memperlihatkan belahan d**a yang menyembul di sana, dengan masih dilindungi bra berwarna senada dengan kemeja yang dipakainya. Ah –jangan lupakan juga celana jeans pendek yang sebaiknya tidak usah dipakai sebab lebih serupa dengan celana dalam. Jadi tak ada bedanya jika jeans itu dilepas atau tidak.
“Hanya sesekali saja, Tuan,” sahut Lily.
Jemari perempuan itu sudah berada di tengkuk Jake, memberikan sentuhan sensual yang membuat Jake mendesis beberapa kali. Perempuan itu sungguh lihat dalam menyentuh titip sensitive lelaki.
“Apa kau meminum alcohol jika ada masalah saja?”
“Tidak,” Lily terkekeh pelan, “jika aku meminum alcohol tiap ada masalah. Itu berarti aku akan meminum alcohol setiap hari.”
Lily memang tidak menjelaskan secara gamblang, namun Jake dapat menangkap dengan jelas bahwa setiap harinya hidup perempuan itu diliputi oleh masalah.
Jake merangkup wajah cantik yang ditutupi topeng itu, beradu pandang dengan Lily yang membuatnya seperti terhipnotis oleh pandangan sayu milik Lily.
“Aku bisa membuat mu melupakan semua masalah mu, dan membuat hidup mu lebih bahagia jauh dari pada sekarang.”
Lily tersenyum miring. Tentu saja perempuan itu tidak mudah percaya dengan omongan Jake. “Oh iya? Bagaimana caranya?” tantang Lily.
Jake berbisik tepat di telinga Lily. “Jadilah milikku dulu, sayang. Baru aku akan lakukan semua hal yang kau mau tanpa terkecuali.”
Lily terdiam beberapa saat. Tak sengaja Jake melihat tangan Lily yang tampak mengepal di sisi tubuhnya, sepertinya memendam rasa kesal akan ucapan Jake yang terdengar cukup kurang ajar.
Ternyata perempuan itu tidak tertarik dengan tawaran fantastis yang Jake berikan. Berarti Jake benar. Yang harus dilakukannya untuk mendapatkan penari striptis itu adalah dengan menekan Lily dengan rahasia yang disimpan rapat perempuan itu.
“Jangan terburu-buru, Tuan, bukankah kita baru saling mengenal?” Lily yang tadinya bersandar pada bahu Jake, kini memberikan jarak antara tubuh mereka, “jika kita sudah mengenal dekat. Coba rayu aku kembali dengan tawaran mu, kemungkinan besar aku bisa menerimanya, Tuan.”
Jake menaikan sebelah alisnya. Bohong. Jake dapat menangkap jelas kebohongan yang ada di mata Lily. Jake dapat melihat, pandangan Lily yang ditunjukan padanya seolah berkata bahwa sampai kapan pun, apa pun yang Jake tawarkan padanya, Lily tidak akan pernah bisa di dapatkannya.
“Jujur saja aku tidak pernah pendekatan dengan perempuan mana pun atas dasar kemauan ku sendiri. Jadi aku tidak tahu bagaimana caranya memulai pendekatan, lantas dari mana aku memulainya? Agar kau mau terbuka denganku?”
Lily mengedikan bahu. “Aku ingin memberikan satu fakta tentangku, semua orang menjuluki ku sebagai permata palung mariana karena sulit di dapatkan, bahkan aku juga tidak pernah punya hubungan yang khusus dengan seorang lelaki. Jadi, aku sendiri pun tidak tahu cara. Toh, aku juga ingin tahu bagaimana cara Tuan agar bisa dekat dengan ku.”
“Menarik,” Jake tersenyum miring, “bagaimana kalau kita mulai dari hal yang aku janjikan minggu lalu saat terakhir kali kita bertemu?”
Iris perempuan itu terarah ke atas tampak berpikir sesaat sebelumnya teringat kembali dengan obrolan antara mereka minggu lalu. “Ah Tuan ingin menunjukan wajah Tuan padaku?”
“Right.” Jake menggenggam tangan Lily, mengarahkan jemari lembut perempuan itu ke topeng yang dipakainya, “bukalah, sayang.”
Tak dapat dihindari, Lily juga sepertinya cukup penasaran dengan wajah Jake. Jake dapat melihat hal itu.
Perlahan Lily melepaskan topeng yang menutupi separuh wajah tampan Jake. Dan ketika topeng yang Jake pakai terlepas semuanya. Jake mendapati iris Lily tampak membelalak seolah sangat terkejut dengan apa yang ada dihadapannya.
Iris mata yang membola itu, sepertinya bukan karena terkejut melihat wajah Jake yang terbilang sangat tampan –walau memang iya-, namun lebih tepatnya Lily sepertinya terkejut karena tidak menyangka lelaki yang sedang bersamanya ini adalah Jake. Pandangan Lily terhadapnya, seolah Lily memang sudah mengenal Jake.
“Kenapa kau sangat terkejut sayang? Apa kau mengenalku?”
Pertanyaan yang Jake ajukan itu nampaknya berhasil menyadarkan Lily dari lamunannya ketika melihat wajah Jake.
“Ah ti-tidak, Tuan. Saya hanya terkejut saja karena mendapat pelanggan setampan anda untuk pertama kali.”
“Ah benarkah?”
Tangan Jake terulur untuk menyelipkan helaian rambut Lily yang menutupi sisi wajah perempuan itu pada belakang telinga.
Jake mendapati telinga Lily yang memerah.
Seingat Jake, Jenni punya kebiasaan aneh yang membuatnya sulit untuk berbohong, ketika berbohong telinga Jenni pasti akan memerah. Apa Lily juga sama? Ah jika benar iya, rasanya kesamaan mereka cukup banyak.
“Telinga mu merah sekali. Aku jadi ingat seorang perempuan yang aku kenal, ketika dia berbohong, telinganya akan memerah. Apa kau juga sama?”
“Tentu saja tidak,” jawab Lily cepat, “um… telingku memerah, karena di sini cukup dingin Tuan.”
Lagi, perempuan itu berbohong.
Membuat Jake semakin ingin tahu sehebat apa perempuan itu menyembunyikan kebohongannya. “Dingin? Kalau begitu, aku bersedia membantu mu menghangatkan tubuhmu.”