Purple Akasia, club malam milik Rio ini terbilang amat mewah, pantas hanya kalangan berada yang bisa memasuki tempat ini.
Jake masuk ke sini menggunakan masker dan tentu saja sudah berganti pakaian dengan gaya casual. Dia mengikuti apa yang disuruh Rio, walau sebenarnya cukup sulit untuk memesan penari striptis dengan nama Lily itu. Banyak sudah memesan gadis itu. Tapi bukan Jake namanya jika pasrah saat yang dia mau tidak terwujud.
Dia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk memesan ruangan VVIP agar bisa satu ruangan dengan Lily.
“Ini, Tuan.”
Salah satu orang pegawai berdiri di depan pintu ruangan VVIP, dia memberikan topeng agar Jake bisa menyembunyikan identitasnya.
Jake memakai topeng itu sebelum memasuki ruangan.
Yang Jake dengar sejak menginjakan kaki di sini, Lily bukan hanya memberikan ‘pertunjukan’ yang menarik saja,, melainkan identitasi gadis itu juga disembunyikan selama melayani pelanggan yang memesannya, gadis itu menggunakan topeng bulu berwarna hitam dan gadis itu pun tidak pernah mau diajak ‘tidur’ semahal apa pun uang yang ditawarkan untuknya.
Jake jadi semakin penasaran dengan Lily.
“Halo.”
Iris obsidian lelaki itu tertuju pada seorang wanita yang duduk bersimpuh di lantai dengan kepala yang disandarkan pada sofa. Walau pencahayaan kurang, Jake masih bisa melihat jelas perempuan itu tengah tersenyum manis padanya.
Jake segera mengunci pintu dan mendekati perempuan yang dikenalnya dengan nama, Lily.
Jake duduk di sofa, Lily yang tadinya bersandar pada sofa, kini menyandarkan kepalanya pada bahu Jake. Jake menelan ludah, sudah lama tidak seperti ini.
Bagaimana ya menggambarkan wanita itu. Tubunnya sangat sempurna, dengan balutan kemeja putih yang benar-benar transparan dan pakaian dalam berwarna hitam yang kontras, rasanya Jake ingin cepat melihat gadis itu membuka pakaiannya dilepas perlahan-lahan.
“Jadi kau yang namanya, Lily?” tanya Jake dengan suara berat.
“Iya, Tuan,” jawab Lily dengan nada sensual yang membuat lelaki mana pun b*******h.
Shit! Belum juga memulai, tapi dia sudah merasa panas duluan. Pantas saja perempuan ini berharga sangat mahal meski tidak bisa diajak ‘tidur’.
“Aku dengar dari sahabatku, pemilik club ini, katanya kau yang paling terkenal di sini.”
Lily tertawa kecil, terdengar sangat manis, “aku tidak begitu tahu gossip di sini, setelah pekerjaan selesai, aku langsung pulang.”
“Aku penasaran, apa gossip itu benar? Tentang kau jang paling jago membuat pelanggan puas.”
“Tuan, lihat sendiri saja ya.”
Lily mulai beranjak dari sofa. Suara alunan music mulai terdengar, gadis itu sangat lihat mengikuti alunan musik dengan gerakan yang menggairahkan lawan jenis.
Dengan tatapan sendu dan beberapa kali membasahkan bibir dengan cara menjilat bibirnya sendiri kemudian menggigitnya pelan, dia membuka satu persatu kancingnya.
Membuat Jake semakin berpikiran liar, ingin rasanya merobek paksa kemeja Lily walau sebenarnya tanpa dibuka pun terlihat sekali bentuk tubuh sintal gadis itu.
Setelah baju Lily terlepas dan hanya menyisahkan pakaian dalam saja. Lily mendekati Jake, ketika gadis itu ingin berlutut di hadapan Jake. Jake menarik pinggang ramping gadis itu sampai Lily duduk dipangkuannya.
Jarak mereka sangat dekat sampai bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
“Aku penasaran dengan wajah mu,” ucap Jake, “kalau kau buka topengmu, aku akan membayar mahal.”
“Tidak bisa, Tuan. Nanti tuan tidak akan penasaran lagi dengan saya,” balas Lily, “kenapa tidak Tuan saja yang buka topeng? Saya ingin tahu wajah tampan Tuan.” Lily mengusap rahang Jake dengan tangannya yang lembut
“Minggu depan aku akan ke sini. Dan aku akan menunjukan wajah ku. Supaya aku punya alasan untuk bertemu dengan mu lagi.”
Berada sedekat ini membuat wangi tubuh Lily tercium, Jake sedikit mengeryit mencium wangi ini. Wanginya entah mengapa mirip dengan wangi tubuh Jenni. Apa mungkin saja mereka memakai body mist yang sama?
Yang jelas, Jake menyukai wangi ini, seolah sekarang yang berada dipangkuannya adalah Jenni.
***
Sial, benar-benar sial hari ini. Sudah bangun kesiangan karena pelanggannya yang ingin ditemani sampai jam 4 pagi, hari ini hujan sangat deras padahal malam hari sangat panas, sudah itu payung yang dia bawa dari rumah adalah payung yang rusak sementara dirinya tidak punya cukup waktu untuk menunggu bus selanjutnya.
Jenni membuka paksa payungnya, namun payung itu malah menjorong ke atas. Jenni berusaha membenarkan kawat payung agar kembali ke bentuk semula namun yang ada kawat itu malah patah.
“Butuh bantuan, nona?”
Seseorang yang tidak ingin dilihatnya malah muncul di hadapannya.
Jake datang dengan mobilnya dan menawarkan tumpangan ke Jenni.
Tentu tahu ‘kan jawaban Jenni?
“Tidak sudi,” jawab gadis itu ketus.
Jake tampak melihat jam tangannya sekilas. “30 menit lagi jam masuk. Kau bisa telat.”
“Aku sudah bilang ke atasan ku kalau hari ini aku telat karena ada musibah.”
“Kau tidak bilang padaku kalau hari ini kau telat.”
“Bukan kau! Tapi atasan ku yang lain.”
“Maksudmu itu kakak iparku? Pemilik perusahaan?”
Jenni berdecak kesal. “Bu Erica! Bukan kau.”
Jake mengambil poselnya, dia tampak mencari kontak seseorang, sebelum akhirnya menelepon. “Halo, Bu Erica, hari ini saya mau meeting dengan departemen marketing. Pagi ini, tidak boleh ada yang telat.”
Setelah Jake mematikan sambungan telepon, dia tersenyum puas melihat Jenni. Sementara Jenni merengut kesal membaca pesan dari managernya.
Bu Erica : Jenni,pesan kendaraan sekarang. Kau tidak boleh telat karena akan ada meeting
“Ah senangnya bisa menggunakan jabatan seenaknya.”
Jenni menunjukan jari tengahnya. “Enyah dari hadapan ku sekarang. Aku mau pesan kendaraan online saja.”
“Aku bisa menginfokan jika tim marketing harus berada di ruang meeting 10 menit lagi.”
“Jadi mau kau itu apa sih?!” teriak Jenni kesal.
“Berangkat ke kantor bersama ku.”
Walau ingin sekali melempar high heels yang dipakainya tepat ke wajah Jake, Jenni tetap menuruti keinginan lelaki itu. Dia masuk ke mobil Jake. Duduk di kursi belakang.
“Aku merasa seperti supir mu saja,” keluh Jake, “ayolah duduk di sampingku.”
“Kau jangan banyak maunya ya! Aku bisa mencekik lehermu dengan seat bealt sekarang!”
Jake terkikik melihat respon Jenni. “Oke, aku tidak akan menyuruhmu duduk di sampingku.”
Jake mulai menjalankan mobilnya. Jenni terus melihat keluar mobil karena tidak suka Jake mencuri pandangan melihatnya lewat cermin.
“Aku ingin turun di café depan kantor saja. Aku tak mau ada yang melihat kita turun dari mobil yang sama. Aku tidak ingin timbul gossip denganmu.”
Jake mendengus geli. “Aku tidak berpikir sampai situ. Jangan-jangan kau punya pikiran tersembunyi ingin punya scandal dengan ku?”
“Aku tidak mau!” teriak Jenni kesal, “ini masih pagi tapi kau sudah membuatku mengeluarkan tenaga untuk marah-marah.”
“Tak apa, dari pada aku membuatku mengeluarkan keringat di ranjang?”
Tanpa segan meski tahu Jake adalah Branch Manager di kantornya. Jenni berani menimpuk Jake dengan map yang dibawanya.
“Aw!” Sampai Jake meringis kesakitan, “ternyata sifat barbar mu tidak berubah ya.”
“Sifat m***m mu juga tidak berubah!”
***
“Kau ke club malam kemarin?!”
Adam menaruh ponselnya yang menunjukan pesan singkat antara dirinya dan Rio. Rio menanyakan apa Jake kerja hari ini karena dia pulang dari club malam jam 4 pagi.
Dengan santainya Jake mengangguk. Jake melepas jasnya dan duduk di kursinya.
“Bagaimana kalau ada yang tahu? Image mu bisa hancur!”
“Tenang saja, identitasku sangat dirahasiakan di sana. Pasti aman.”
“Kenapa kau pergi ke sana? Kau tidak buat ulah ‘kan?”
Jake menggeleng. “Aku hanya menonton tarian striptis saja.”
Adam menepuk dahinya. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Jake. “Kalau begitu jangan datang ke tempat itu lagi. Kau nanti bisa di cap sebagai atasan buruk yang senang main perempuan.”
“Tak bisa,” Jake menolak, “aku sudah ada janji dengan penari striptis yang aku temui. Dan kau tahu? Aku tertarik mencari tahu lebih dalam tentang penari striptis itu.”
Jake mengambil ponselnya. Dia mencoba menelepon seseorang yang berguna disaat yang penting seperti ini.
“Halo,” ucap seseorang diujung sana.
“Halo, ini aku Jake, aku ingin minta tolong bantuanmu. Aku penasaran dengan seorang penari striptis yang memiliki nama panggung Lily. Cari tahu tentang dia, segala hal tentang dia tanpa terkecuali.”
“Baik, Tuan.”