Before Meet Lily

1070 Words
Jemari lentik itu mengirim sebuah pesan yang sebenarnya isi pesannya pun biasa saja. Tapi mampu membuatnya tersenyum, karena punya alasan untuk menghubungi lelaki yang sekarang ini sedang dia kirimi pesan singkat. Jenni : Henry. Bagaimana tawaran ku? Untuk kerjasama dengan perusahaanku. Jenni : Kau sudah baca keseluruhan kontraknya? Tak menunggu waktu lama, dia menerima pesan balasan yang membuatnya memekik senang. Henry : Sudah, dan aku tertarik. Mungkin minggu depan aku akan ke kantor mu. Jenni : Baik. Aku tunggu, dan terimakasih. Anna yang meja kerjanya tidak begitu jauh dari Jenni, menggeserkan bangkunya untuk mendekati Jenni, heran karena Jenni senyum-seyum sendiri menatap computer. Biasanya dia selalu memasang wajah serius seolah tidak mau diganggu saat sedang bekerja. Jenni terlalu fokus membaca pesan yang dikirim Henry. Tidak sadar jika Anna ikut membaca pesan itu. “Jenni, pacaran dengan influencer Henry.” Tiga tim pemasaran lain langsung menoleh ke sumber suara. Jenni jadi salah tingkah, bingung ingin menjelaskan yang mana dulu. “Bu-” “Wah pantas, Jenni merekomendasikan Henry semangat sekali,” ledek salah satu timnya. Yang lain ikut menimpali. “Berarti kita akan makan-makan merayakan hari jadi Jenni?” “Aku sudah duga Jenni pasti mencari pasangan yang hebat juga sama sepertinya!” Jenni berdecak kesal, dari tadi dia ingin mengelak –walau senang jika digossipkan punya hubungan dengan Henry- tapi selalu saja ucapannya di dahului oleh timnya. Padahal jika tentang pekerjaan timnya selalu menurut padanya, kenapa saat tentang hal ini dirinya malah terus diledek? “Ada kabar!” Jenni bernapas lega ketika Celin datang membuka pintu dengan hebohnya. Jika Celin sudah begitu, pasti ada kabar baru yang seru. “Kabar apa, Celin?” “BM dari sedang keliling departemen bersama beberapa orang suruhannya. Dia bagikan makanan. Katanya karena kita tidak bisa buat pesta penyambutan sebab sekarang sedang fokus mengeluarkan fitur baru dan semua pegawai tentu sibuk.” “Sekarang dia ada di mana?” tanya Jenni panik. Dia tidak ingin bertemu dengan Jake dalam jarak dekat. Mengingat seringai menyebalkan lelaki itu seakan tengah meledeknya. Jenni benar-benar tak ingin melihatnya. Celin baru saja ingin menjawabnya. Tapi pintu ruangan departemen mereka terlebih dulu dibuka oleh orang yang sekarang ini tengah menghantui pikiran Jenni. “Selamat siang,” sapa Jake yang baru menginjakan kaki ke departemen pemasaran. Semua yang berada di ruangan ini berdiri, tak terkecuali Jenni, menundukan sedikit badan sebagai tanda hormat dan juga mengucapkan salam. Jake berkenalan dengan semua tim pemasaran, Jenni mendengar bisik-bisik memuji Jake yang terlihat akrab dengan bawahan tanpa memandang status pekerjaan. Dengan image yang dia berikan saat ini pasti banyak orang yang menganggapnya atasan yang baik. Sampai di mana Jake menjulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Jenni. Anna dan Celine tampak khawatir karena tahu Jenni dan Jake punya hubungan yang kurang baik dengan Jake semasa kuliah. Di saat keadaan seperti ini, profesionalitas memang diutamakan. Jenni pun membalas jabatan tangan Jake. “Saya kepala tim pemasaran. Semoga bapak bisa ikut membimbing departemen kami menjadi lebih baik lagi. Mohon dukungannya, pak.” Perkataannya lembut dengan senyum yang manis. Berbanding terbaik dengan tangannya yang meremas kuat tangan Jake. “Saya dengar kerja mu bagus, di usia yang sama dengan saya sudah menduduki jabatan yang cukup tinggi,” ujar Jake. Dia tak membalas Jenni dengan tenaga, namun dengan kalimat yang menyindir Jenni, terlibih lagi Jake menekan kata ‘cukup’ di kalimatnya tadi. Jenni melepas jabatan tangan mereka. Orang yang datang bersama Jake memberikan beberapa kota makanan untuk tim pemasaran, sebelum Jake pamit dari ruangan mereka untuk keliling departemen lain dan meminta mereka untuk lebih semangat bekerja. Jenni kembali duduk di kursinya. Dia memijat keningnya, kepalanya terasa pening padahal hanya beberapa saat saja bertemu dengan Jake. Matanya tak sengaja tertuju ke permen coklat yang dilapisi kertas berwarna putih. Kalau tak salah Jake memang sempat menyentuh meja kerjanya, mungkin untuk memberikan permen coklat itu. Jenni mengambilnya. Ada note kecil di sana, ‘Hei, Jenni. Senang bertemu dengan mu lagi. Akhirnya sampai juga disituasi di mana aku lebih unggul dari mu ^.^’ Jenni membanting pelan coklat itu. Dia mendengus kesal. Oh, suasana hatinya benar-benar buruk sekarang, berbanding terbalik ketika dia bertukar pesan dengan Henry. *** “Cheers!” Kedua pria itu bersulang, sudah lama tidak bertemu karena Jake melanjutkan pendidikan di luar negeri. Setelah kembali ke sini, juga belum sempat bertemu karena Jake sibuk dengan pekerjaannya yang bari sebagai Branch Manager di perusahaan milik kakak iparnya. Ini pertama kalinya dia bertemu lagi dengan Rio –salah satu teman dekatnya selain Adam-. “Bagaimana dengan bisnis mu?” tanya Jake setelah meminum sedikit wine digelasnya. “Berjalan baik. Aku sukses besar. Terlebih lagi saat aku membuka club malam yang menghadirkan penari sriptis.” “Wow, apa penari di sana cantik?” Rio mengangguk. “Tentu saja, meski aku belum pernah datang langsung karena ada orang lain yang mengelolanya, aku dengar kabar penari striptis di club malam ku itu punya pelanggan tetap karena ada salah satu penari di sana yang jago sekali membuat pelanggan puas, ya…kau tahu sendiri lah. Apa lagi kau tinggal di luar negeri, hal seperti itu bukan hal yang tabu ‘kan?” “Setelah kau bilang begitu. Aku jadi tertarik.” Sebuah ide gila yang sudah lama tidak dilakukannya terlintas, “bagaimana kalau kita ke club mu dan melihat langsung?” Rio yang sedang meminum wine langsung tersedak. “Kau gila? Kalau ketahuaan datang ke tempat seperti itu image mu akan hancur.” “Tidak akan ketahuan. Aku akan pakai topeng saat di sana. Banyak para petinggi yang juga ke sana dan pakai topeng agar identitasnya tidak terbongkarkan?” “Tapi aku tidak mau ke sana. Kalau tunanganku tahu, aku bisa batal menikah. Kau gila ya?!” “Kalau begitu. Aku saja yang ke sana. Aku pesan ruangan VVIP agar rahasia ku benar-benar terjaga. Tapi beri aku penari terbaikmu itu.” Rio kenal sekali dengan Jake yang sangat keras kepala. Yang diinginkan oleh lelaki itu, harus terwujud. Mau tak mau, dia pun menyetujui keinginan Jake. “Ini.” Rio memberikan kartu yang berisi alamat dari club malam miliknya, beserta nomor yang bisa dihubungi. “Kau pesan sekarang saja. Bilang kalau kau adalah temanku.” “Oh iya, jadi siapa nama perempuan yang harus aku pesan itu?” Rio mengernyit, mengingat kembali nama yang sekilas pernah di dengarnya, sebelum menjawab, “Ah- namanya, Lily!” Jake memperhatikan kartu ini, “Lily,” gumamnya, nama itu terdengar tidak asing baginya. Bukan karena itu adalah nama yang pasaran, melainkan, itu adalah bunga yang sangat disukai Jenni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD