“Americano dengan 8 shot espresso,” pesan Jenni kepada bartender.
Terlalu biasa memesan minuman sepahit itu. Bartender yang membuat pesanannya sudah tidak heran lagi seperti saat pertama kali Jenni memesan. Begi juga Celine yang setiap pagi sebelum jam kantor di mulaai selalu menemani Jenni minum kopi.
“Kau begadang mengerjakan projek lagi ya?” Celin mengusap bawah mata Jenni yang menghitam.
“Tidak, aku-” Jenni menghentikan ucapannya, dengan keadaan setengah sadar seperti ini, kadang membuat seseorang berbicara ala kadarnya saja. Hampir saja dia membongkar aibnya sendiri, “-aku begadang mengerjakan pekerjaan lain. Tapi bukan projek dari kantor.”
“Cobalah berhenti sehari menjadi workaholic. Dan menikmati kehidupan masa muda mu. Ikut kencan buta misalnya? Mau aku daftarkan?”
Jenni melirik Celin sesaat, tidak berniat mengubsir saran tak masuk akal dari Celin. Dia mengambil pesanannya dan melangkah pelan keluar dari café yang berada di seberang kantor. Celin mengikutinya dari belakang dan masih saja membicarakan hal yang sama.
“Kau mau ‘kan, Jenni? Aku daftarkan sekarang ya.”
“Tidak,” jawab Jenni tegas. Dia meringis memikirkan dirinya harus mengikuti kencan buta sementara dia tahu apa yang banyak dipikirkan lelaki waktu pertama kali bertemu seorang wanita yang sudah matang.
Tentu saja suatu hal yang kotor!
“Kau cantik dan pintar, dua hal yang membuat lelaki pasti mudah jatuh cinta padamu dalam pandangan pertama.”
“Aku cari yang sangat sesuai tipe mu.”
“Tak ada. Aku tak punya tipe. Aku hidup untuk kerja, menyenangkan diri dengan mencari uang. Bukan dengan percintaan.”
Celin mengerucutkan bibirnya. Lewat ekor matanya, Jenni melihat Celin ingin kembali membalas ucapannya lagi. Jenni sudah bersiap kabur karena malah menanggapi Celin, namun sebelum kabur, Jenni terselamatkan oleh panggilan telepon dari Anna.
Celin mengangkat panggilan telepon tersebut, kemudian menekan ikon speaker.
“Ke aula lantai 5 sekarang! Ada penyambutan Branch Manager baru!”
Mendengar kabar itu. Celin tak kalah heboh dari Anna. “Orang itu tampan sepergi gossipnya tidak?”
“Lebih tampan dari pada yang di bicarakan orang-orang! Bahkan usianya masih muda, seumuran dengan Jenni.”
Jenni pun ikut merespon. “Wah hebat sekali dia, seumuran denganku tapi memegang posisi Branch Ma-”
Belum juga Jenni menyelesaikan pujian terhadap Branch Manager baru. Tangannya sudah lebih dulu ditarik Celin agar mereka lebih cepat memasuki kantor.
Berita yang cukup resmi ini terbilang mendadak, malah lebih tepatnya sangat mendadak! Padahal senin ini banyak pekerjaan menumpuk dan waktu Jenni untuk mengerjakan tugasnya jadi terpotong karena harus mendengar pidato panjang dari para pemimpin perusaahaan.
“Aku boleh kabur saja tidak?” tanya Jenni pasrah ketika tangannya masih juga ditarik Celin meski mereka sudah sampai di aula lantai 4.
“Tidak.” Kali ini Celin yang menjawab pertanyaan Jenni dengan tegas.
Anna yang duduk tak jauh dari pintu masuk, melambaikan tangannya agar Celin dan Jenni melihatnya.
Anna sudah menyiapkan dua bangku kosong untuk kedua sahabatnya. Duduk di tempat yang sebenarnya tidak strategis tapi mau bagaimana lagi? Tak ada tempat yang tersisa sama sekali. Alhasil mereka duduk ditempat yang sudah disiapkan Anna.
“Mana Branch Manager yang baru itu? Aku mau melihatnya.” Pandangan Celin menelusur ke arah panggung yang disiapkan, tapi dia tidak menemukan sosok lelaki yang terlihat tampan.
“Tadi dia keluar sebentar. Kalian telat sih. Tapi sebentar lagi dia pasti akan datang.”
Jenni tidak begitu mempedulikannya. Dia fokus pada ponselnya melihat susunan pekerjaan yang harus diselesaikannya seraya menghabiskan Americanonya. Namun saat sedang fokus melihat pekerjaannya, fokusnya terhalang oleh notifikasi dari grup alumni kuliah.
Jenni membuka grup itu dengan kesal, ingin me-mute notifikasi itu, tapi ada satu kalimat yang membuatnya jadi ingin membaca isi pesan yang ada di grup.
“Jake sudah pulang dari Ceko. Dan sekarang menjadi Branch Manager di perusahaan milik kakak sepupunya,” gumam Jenni.
Dia mengernyik. Ini terlalu sama persis untuk disebut kebetulan. Tapi…di dunia yang seluas ini –walau ada pepatah dunia selebar daun kelor- masa dirinya harus bertemu lagi dengan Jake setelah 6 tahun lamanya?
Suara tepuk tangan yang meriah serta Celin yang terus menyenggol lengannya dan berbisik, “sstt…itu dia Branch Manager yang baru!”
Membuat Jenni mengalihkan pandangannya ke pintu masuk. Matanya membelalak, dan dalam hitungan singkat-
“Aaa!”
-Jenni berteriak seraya menunjuk Branch Manager yang spontan langsung berhenti melangkah ketika mendengar teriakan Jenni yang seperti melihat hantu.
Nyatanya, orang yang dilihat Jenni sekarang ini, memang lebih mengerikan dari pada hantu.
Sudah 6 tahun hidup dengan tenang karena tidak menginjak sisi di bumi yang sama dengan Jake. Kenapa lelaki itu muncul dihadapannya lagi?! Terlebih lagi, menjadi Branch Manager di kantornya sendiri?
“Aku tahu dia tampan, tapi tak usah teriak daan menunjuknya seperti itu! Sebagai sahabatmu, kau membuat aku malu ya,” bisik Anna, dan menurunkan paksa tangan Jenni yang menunjuk Jake.
Jake melihatnya –Jenni seheboh itu, tak mungkin Jake tak sadar kehadirannya-, lelaki itu menunjukan senyum kecil, melambaikan tangannya sebentar lalu berjalan menuju podium yang sudah disiapkan untuk berpidato tentang visi misinya untuk perusaahaan selama masa jabatannya.
“Kalau aku sedang tidak sangat membutuhkan uang. Dengan senang hati aku mau resign dari perusahaan ini meski gaji di sini terbilang besar,” ucap Jenni.
Celin berdecak kesal, dia jadi tidak fokus melihat Jake karena Jenni yang terlalu heboh. “Kau paling mencintai pekerjaan ini ‘kan? Jangan hanya karena nama Branch Manager yang baru sama dengan nama rival mu, kau jadi mau resign.”
“Iya, aku setuju,” timpal Anna.
“Hei. Jake yang aku bilang musuh ku selama masa kuliah itu, adalah Jake yang sekarang menjadi tengah berpidato di podium, BM baru di kantor kita!”
Celin dan Anna saling berpandangan. Mereka berdua menganga tak percaya.
***
“Padahal sudah 6 tahun. Tapi dia masih mengingat wajahku, padahal aku merasa wajahku banyak perubahan,” Jake menatap pantulan dirinya di cermin, “apa jangan-jangan selama ini dia menyimpan perasaan untukku? Hanya saja dia malu mengakuinya, makanya dia selalu mencari masalah dengan ku, semacam tsundere.”
Adam meringis jijik. Para pegawai di Synopecti Group mungkin menganggap Jake adalah pribadi tegas dan namun hangat seperti atasan idaman yang ada di novel-novel. Namun sifatnya dibelakang layar, berbeda sekali dengan yang lelaki itu tunjukan di depan umum. Bagi Adam, sangat menjijikan karena rasa percaya diri yang terlalu overdosis.
“Lebih baik kau kerja, dari pada memikirkan tentang Jenni yang terlihat sangat membenci mu,” balas Adam.
Seakan tidak menghiraukan ucapan Adam, dia masih saja membahas Jenni, “dia pasti merasa terancam saat tahu kalau aku adalah Branch Manager di kantornya. Aku tidak tahu aku punya jiwa psikopat atau tidak, tapi aku senang sekali melihatnya seperti itu.”
“Itu bukan psiokopat. Kau hanya senang karena bisa mengerjainya lagi setelah sekian lama,” timpal Adam.
“Sepertinya sih begitu,” gumam Jake.
Adam menaikan alisnya. “Kau tidak ada niat membuat masalah ‘kan? Kau baru bertemu dengan dia beberapa hari lalu.”
“Tidak. Bukan sebuah masalah. Aku hanya ingin menyampaikan rasa senangku karena bertemu lagi dengan dia.”
Adam memijat pelan dahinya, mulai merasa pusing. “Kau jangan cari masalah dengan Jenni. Dia itu nekat. Kau lupa terakhir kali buat masalah yang besar dengan gadis itu. Dia mengedit video porno dengan wajahmu sebagai pemeran laki-laki? Kalau dia membuat yang lebih parah image mu lebih buruk.”
Jake malah tertawa pelan. “Aku jadi penasaran hal gila apa yang akan dia lakukan padaku nanti.”
“Semakin lama kau jadi semakin mirip masokis,” ledek Adam.