TTB 18. Bantuan

1487 Words
Ica sedang menikmati es teh manis di kantin kampusnya. Pikirannya menerawang ke masa lalu dan masa depan. Dulu saat masih sekolah dia memilih jurusan IPA. Sekarang saat kuliah dia malah masuk prodi manajemen yang lebih banyak materi jurusan IPS. Jadilah dia harus memahami pelajaran sedikit demi sedikit. Mana saat kuliah perdana sukses bikin malu. Untung di sebalah ada Rakha yang bisikin. Alamat menanggung malu delapan semester kalau cuma ngang ngong dan jawab 'hah?' di depan rektor. "Risa!" Ica menoleh ke asal suara. Hanya satu orang yang terbiasa memanggilnya begitu sejak SMP, Said. Lelaki itu tersenyum ke arah Ica yang hampir seminggu ini tidak di lihatnya. Ica melihat tumpukan kertas yang di bawa Said hingga hampir leher cowok berkacamata itu. Gegas Ica menyeruput habis es teh manisnya dan menghampiri Said. "Sini aku bantuin Kak," kata Ica sambil mengambil tumpukan itu tanpa persetujuan Said. "Nggak usah!" "Ginian doang," sahut Ica sambil menepuk kertas-kertas itu. "Ke sekre?" tanya Ica lagi yang diangguki Said. Beriringan kedua orang itu melangkah ke arah sekretariat, sesekali di selingi dengan obralan dan tawa. "Ris, kemana aja kok jarang kelihatan?" Said membuka bicara. "Aku itikaf di perpus Kak, banyak materi kuliah yang aku nggak paham." Said mengernyit, "Di perpus sebelah mana? Aku tiap hari ke perpus kok nggak pernah liat kamu," "Di dekat ruang arsip sebelah ujung, kursi baca tunggal yang sebelahnya lemari kamus." Ica menjelaskan dengan detail. Itu adalah pojok yang jarang di lalui pengunjung, karena terpisah dengan meja baca lainnya dan agak jauh dari kumpulan buku. "Loh nggak serem di pojokan gitu? Betah amat, ngapain aja?" Said sedikit terkekeh. "Tidur, trus mimpi lagi baca!" 'Hahahaa' Tawa mereka meledak memecah keheningan di sekitar lorong kampus yang sepi. "Kamu nggak berubah Ris, tetap lucu kayak dulu. Kalau mau tanya materi yang kamu nggak paham sama aku aja. Buku-buku semester lalu masih ada kok di rumah." "Oh ya, wah aji mumpung banget kalo gitu. Bakal jadi mahasiswa berprestasi lah Marisa ini di ajarin sama Kak Said yang selalu IPK 4." "Ah bisa aja!" Said tersenyum malu-malu dipuji setinggi langit oleh Ica. Padahal selama ini, tidak ada yang memuji prestasinya. Terus obrolan ringan itu mengalir. Mereka seolah enggan membicarakan masa lalu yang menurut Said belum sepenuhnya usai. Tapi suatu saat Said akan menanyakan kembali. Dia ingin lebih dekat dengan Ica terlebih dulu. Langkah mereka akhirnya berhenti tepat di depan sekretariat. Di sebelahnya, ruang khusus HIMA. Momen itu lagi-lagi sampai di tangkapan layar ponsel Rakha. Siapa lagi kalau bukan Dimas, antek-antek Rakha di FE untuk mengawasi Ica. Rakha: Pepetin Dim, jangan sampe lepas, habis ini gue samperin. Dimas: Aseek ada lagunya tuh, 'yang baju merah jangan sampe lepas'.... Rakha: Asem lo! Awasin dulu, ntar gue traktir lo makan siang. Tidak lagi mendapat balasan dari Dimas, alhasil Rakha jadi tidak konsen menjawab kuis hari itu. Buru-buru mau nyamperin Ica. Rakha selalu beranggapan kalau Ica dekat dengan Said, selalu saja gadis itu dapat masalah. Sejak dulu jika Rakha memutar lagi memori zaman SMP. Tanpa menoleh lagi, begitu mengumpulkan lembar jawaban Rakha menuju parkiran. Menaiki motor, pakai helm dan siap meluncur. Tapi jalannya terhalang oleh seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu muncul tiba-tiba di depannya. Entah takdir atau memang di sengaja. Alya. Gadis itu menggenggam erat tali tas di bahunya dan berjalan mendekat. Sambil menggigit bibir, cewek itu berkata, "Motor aku lagi di bengkel dekat kos temen kemaren. Boleh ikut sampai simpangan kontrakan kamu Kha?" tanya Alya sambil memamerkan senyum. Tegas Rakha menjawab, "Sorry gue bukan mau balik ke kontrakan sekarang. Minta anter sama yang lain aja atau pesan ojol. Gue buru-buru ini soalnya," kata Rakha nampak tidak sabar. Alya menunduk, semburat kecewa tergambar di wajah polosnya. "Aku nggak punya teman di sini kecuali kamu, Kha," cicit Alya. "Kalau naik ojol nanti bayar ongkos bengkelnya kurang," sambung Alya mengiba. Rakha menghembus nafas berat. Cuaca sedang terik begini, dia juga buru-buru menyusul Ica. Tapi ada seorang gadis yang minta pertolongan. Rakha terdistraksi. Mahasiswa kedokteran rata-rata adalah kalangan berada. Dapat dibuktikan dengan banyaknya mobil yang mengisi lahan parkir kampus ketimbang motor. Dan tentu saja pergaulan di sini memandang kasta-kasta itu. Alya, gadis berpenampilan sederhana dan polos. Tidak ada barang branded yang melekat di outfitnya. Bisa masuk FK karena beasiswa. Tentunya tidak ada yang mau bergaul dekat dengannya jika tidak ada keperluan tertentu. Rakha tau pasti itu. "Kha, kamu... kamu malu jalan sama aku?" "Bukannya begitu, gue lagi buru-buru aja ini!" geram Rakha. "Ya udah ayo!" putus Rakha lagi. Alya mengangkat wajah dan tersenyum seketika. Dia mendekat dan langsung duduk di boncengan motor Rakha tanpa di suruh. Karena Alya tidak memakai helm, terpaksa Rakha mencari jalan kecil yang membuatnya sedikit memutar untuk menghindari polisi yang selalu berjaga di persimpangan. Rakha semakin menggeram frustasi saat Alya melingkarkan tangannya di perut Rakha saat melewati jalan yang berlobang. Bukannya Rakha kege'eran, tapi sebagai mantan playboy, tentunya dia bisa membaca sikap cewek yang tertarik padanya dan yang biasa aja. Dan Rakha menyimpulkan Alya memiliki rasa itu padanya. Begitu sampai di persimpangan yang di maksud Alya, Rakha sudah tidak tahan ingin menyampaikan uneg-unegnya. Alya turun dan mengucapkan terimakasih sambil tersenyum bahagia. "Bukannya gue kege'eran, tapi gue nggak mau kasih harapan sama cewek manapun. Gue mau tegasin juga sama lo kalau hati gue sudah terpikat sama satu cewek. Semoga lo ngerti kalo gue harus jaga perasaan cewek yang gue taksir itu. Gue nggak mau dia salah paham. Ini terakhir kalinya gue bantu lo," kata Rakha to the point. Alya sedikit terkejut dengan sikap Rakha yang terus terang dan terkesan marah seperti sekarang. Mata tajam Rakha menatap seolah menguliti Alya. Tapi dia berusaha menutupi dengan senyum andalannya. "Apa sih Kha? Aku nggak ada maksud apa-apa sama kamu. Kebetulan aja cuma kamu yang bisa aku mintai tolong pas lagi kesusahan," Alya memukul bahu Rakha pelan sambil tertawa menutup wajahnya yang memerah, menahan kecewa di d**a. "Bagus deh kalau gitu! Tapi jangan jadikan gue sandaran lo juga ya, gue udah mentok soalnya sama nih cewek." Balasan Rakha terdengar santai tapi sebenarnya sangat menghujam di hati. Dia seolah membangun dinding kokoh untuk cewek lain yang ingin masuk di kisah cintanya. Berhubung trackrecord Rakha di mata Ica terlanjur di cap playboy, jadi Rakha harus berhati-hati dalam bersikap terutama menyangkut hubungan dengan lawan jenis. "Ya udah gue cabut!" kata Rakha memutar kembali arah motor dan melaju ke arah kampus Ica. Alya mengepal tangan kuat, menahan marah, malu, sekaligus rasa suka terhadap seorang Rakha Raditya. *** Sementara itu di sekre, tiga orang kating nampak menghadang langkah Said yang ingin meletakkan tumpukan kertas fotokopi yang di minta untuk dibawakannya. Ica hanya mengamati dari depan pintu karena tumpukan kertas yang dibawanya sudah diambil kembali oleh Said sebelum masuk tadi. "Lelet banget lo, siput mata empat!" hardik Rony si ketua HIMA. "Maaf Kak, tadi... tadi antri di... di... fotokopi so... soalnya..." Said menjadi gagu jika dia merasa takut dan terancam. "Alah alasan aja lo! Ngomong aja lama lo apalagi disuruh fotokopi, " salah satu kating bernama Bowo memotong bicara Said, dia mendorong bahu Said sambil tertawa meremehkan hingga Said terhuyung ke belakang. "Gara-gara lo nih, kita jadi telat bagi-bagi nih brosur ke maba!" sungut Resti. "Push up lo!" perintah Rony lagi. Said nampak takut-takut, keringatnya sudah mengucur deras. Dia lalu mengambil posisi untuk push up seperti yang diperintahkan. "Ada apa ya?" Ica tiba-tiba masuk dan menengahi. "Wahh, siapa ini? Pahlawan kesiangan? Nyalinya besar juga berani masuk sini!" Resti tersenyum miring melihat seorang maba berani masuk ke kandang mereka. "Maaf Kak, tadi Kak Said telat karena juga kesusahan bawa tumpukan sendiri, jadi saya bantuin. Kita udah buru-buru ke sini kok," alibi Ica membela Said. Merasa seperti di tantang meski Ica sudah menjelaskan dengan halus, Resti justru semakin geram. "Maba udah sok lo ya! Bukan urusan gue tau!" dorong Resti kuat. Ica yang tidak siap terhuyung ke belakang hingga pinggangnya menabrak ujung meja. "Aww," pekik Ica merasa kaget dan sakit sekaligus. "Ow ow ow santai bro and sis!" tiba-tiba Dimas masuk dan menahan tubuh Ica yang hampir jatuh. Said hanya bisa diam terpaku seperti dulu-dulu, kejadian seperti ini berulang kembali sekarang. Dia urung untuk push up ingin sekali membantu Ica tapi dia juga tidak punya nyali. "Sorry ya Kak, sorry banget, kita nggak mau cari masalah kok, temen saya ini cuma mau nolongin dia aja." tunjuk Dimas ke arah Said dengan dagunya. Dimas melipat kedua tangan di depan d**a. Dalam hatinya jika dengan cara baik tidak mempan dia siap melawan. Baku hantam dua lawan satu, dia masih sanggup. Tapi nampaknya Rony tak ingin memperpanjang masalah. Jika menilai sosok Dimas dengan perawakan tinggi tegap dan sorot mata tajam, dia bukan hanya maba biasa yang bisa diintimidasi. Dia tidak ingin ada keributan di sini keburu dosen datang. "Ya sudah kali ini lo gue maafin, pergi lo dari sini!" usir Rony. Resty ingin protes tapi melihat kode dari Rony dari lirikan mata dia urungkan. "Tapi lo, siput mata empat, bagiin ni brosur di jalan-jalan sampai habis, kalau sampai acara ini nanti sepi pengunjung, lo yang bakal gue cari!" ancam Rony kemudian menunjuk tepat di hidung Said.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD