TTB 17. Nggak Bisa Nyebrang

1547 Words
Hari berganti Minggu. Minggu berganti Bulan. Dan kini aktifitas sebagai mahasiswa berjalan seperti seharusnya. Meski menjalani kuliah jurusan kedokteran Rakha dapat melaluinya dengan woles. Karena memang otak Rakha yang mendukung ditambah minatnya memang disitu. Pagi ini, Rakha tidak ada kuliah. Dia menyempatkan mengganti air si Guppy dan mengirimkan Ica pesan seperti hari-hari biasanya. To IcantiQ: Gue ganteng apa tampan? (send picture) Tersenyum melihat wajah macho yang monyong-monyong bersanding di sebelah Guppy. Senyum Rakha semakin melebar membayangkan wajah cemberut Ica dengan bibir yang dibuat memble melihat foto itu. "Ah gini amat bucin sama sahabat sendiri," gumam Rakha sembari berjalan ke luar kamar. Mencari teman-teman durjana yang tumben tidak nampak batang hidungnya barang seorang pun. Sementara hentakan lagu Metallica membahana dari kamar Andika yang juga tidak ada penampakan penunggu kamar itu. Oh iya, jadi Rakha sekarang berlima di rumah kontrakan mereka yang di katai Ica 'Sarang Durjana'. Penghuninya Rakha, Andika, Dimas, Yoga dan Bayu. Kalau tiga sahabat Rakha yang dari kota asal ya gitu lah tingkahnya. Dari SMA sampai sekarang ada sih perubahan. Berubah tambah parah! Tambah m***m, tambah absurd kelakuannya, mulut nggak ada akhlak, plus semakin suka gombalin cewek. Kalau Si Bayu asli dari Banjarmasin. Anak Ilkom. Kalau urusan hack nge hack beuh dia jagonya, termasuk ngehack situs porno. Mau diblokir gimanapun ada aja jalan buat dia akses. Pantaslah Ica menyebut kontrakan mereka 'Sarang Durjana', lah isinya modelan pendosa semua. Pernah sekali Ica tandang ke kontrakan Rakha nganterin rendang buatan Mama pas beliau lagi di Banjarmasin. Eh, baru sampai pintu depan Ica sudah jejeritan kaya liat setan. Lah, si Yoga keluar kamar mandi nggak pake apa-apa, asli kulit. Katanya sih lupa bawa handuk. Habis itu Ica ogah ke kontrakan Rakha lagi. Rakha kemudian beralih ke kamar Bayu yang pintunya tidak tertutup rapat. Sayup-sayup Rakha mendengar suara wanita yang mendesah-desah. 'Ahhh ahhh f**k baby f**k ahhh!' Rakha melotot dan mempercepat langkah, "Ngapain lo sat?" kata Rakha sambil membuka pintu lebar-lebar. Spontan Andika, Dimas, Yoga dan Bayu kaget melihat ke arah pintu dan nggak jadi ngaceng. Mereka kaya bocah ketangkep emak-emak habis nyolong mangga. Rakha melihat ke arah layar laptop yang di pandangi ke empat temannya. Adegan sepasang wanita dan laki-laki yang lagi main kuda-kudaan. "Astoge! Nyebut, ingat orang tua di kampung, kasian nguliahin anak lulusnya malah pada jadi gigolo!" kata Rakha sambil ikut duduk di depan layar. "Sotoy lo!" kata Andika sambil menoyor Rakha yang menutupinya. "Menurut penelitian, pornografi bisa merusak sel-sel otak bahkan pengaruhnya lebih parah dari narokba! Play cepetan! Gue mau buktiin," perintah Rakha. Keempat teman Rakha hanya mencibir malas mendebat. "Ganti deh ganti, jav ceweknya terlalu berisik. Cari yang indo coba!" usul Dimas. Patuh, Bayu mulai menggerakkan mouse sesuai perintah. "Elah kalau mau yang indo bisa langsung praktek kali. Ayam kampus bertebaran mas bro!" sahut Andika yang tentunya sudah berpengalaman. Kompak semua mata tertuju pada Andika. "Lo pernah nyelup emang?" tanya Yoga polos. Andika meneguk ludah berat, kenapa juga segala pake acara keceplosan. "Hampir," katanya sambil meringis menggaruk pelipis. "Yahhh anjir kenapa nggak jadi?" tanya Dimas antusias yang kemudian di geplak Rakha. "Dosa bego!" "Sok suci lo!" cibir Dimas. "Soalnya tuh cewek tiba-tiba dateng bulan, mau ganti cewek lain tapi gue udah nggak mood. Ya syukur juga sih, selamat gue dari azab, kapok gue!" cerita Andika. "Masih ingat azab lo yaa, apa kabar dosa lo yang suka melototin bokep, gerepein Laras!" kata Bayu. "Lah bukannya lo yang lagi ngajarin ini!" cibir Andika. "Oke kita udahan," rajuk Bayu, siap mengklik tanda close di layar. "Yahh jangan dong!" cegah Dimas dan Yoga yang terlanjur penasaran. "Eh eh diem diem bini gue nelpon!" kata Rakha sambil memukul mulut Yoga di sebelahnya. Kompak keempat temannya mencibir. Yoga juga balas memukul bahu Rakha, "Sekarang aja 'bini', dulu mana mau ngaku!" "Yaa Ca," jawab Rakha memasang mode kalem. Rakha memang tidak ingin menunjukkan persaaannya terang-terangan pada Ica. Pelan-pelan kata Rakha, menunggu momen spektakuler agar Ica tidak bisa menolak. "Buru ke depan Cemara!" sahut Ica setengah teriak dan terdengar riuh. "Hah, lo kenapa?" kaget Rakha. 'ahh ahh ahhh f**k ahhh' Iseng Bayu memutar video kuda-kudaan dengan volume suara kencang. Membuat Rakha otomatis mematikan panggilan dan melotot pada Bayu. Sementara Dimas, Andika dan Yoga ngakak, seneng liat muka panik Rakha. Yah kelemahan seorang Rakha sekarang adalah Ica. Ica ngambek kelar idup Rakha! Sebucin itu dia dan dengan tega para teman laknatnya menjadikan senjata mengerjai Rakha. "s**t! Bangke lo!" umpat Rakha sambil melayangkan tinjunya ke arah Bayu. "Ampun mas jangan pukul mince jangaann!" teriak Bayu dibuat-buat ngondek. "Jijik anjiing!" Rakha bergidik, tapi dia gegas beranjak ke kamar, mengambil jaket dan kunci motor segera menyusul Ica. "Gue doain lato-lato lo semua bengkak!" teriak Rakha sebelum dia menghilang dari balik pintu. "Doa jelek balik ke orangnya!" balas Andika nggak mau kalah. Begitu di depan pagar, Rakha terkejut akan sosok Alya yang tiba-tiba muncul dari samping jalan. "Rakha!? Mau kemana?" tanya Alya nampak antusias. "Mau ke Cemara, sorry gue buru-buru Al," "Eh Kha, tunggu..." cegat Alya di depan motor Rakha yang siap melaju. "Aku boleh ikut ke depan nggak?" Rakha nampak menimbang permintaan Alya. "Aku tadi dari rumah teman di sana," tunjuk Alya menjelaskan ke arah jalan seberang kontrakan Rakha. "Sekarang mau balik kos, aku nebeng nyampe depan aja, cegat angkot," lanjut Alya lagi. Karena buru-buru ingin menyusul Ica, Rakha mengangguk saja, toh mereka sejalur. Dengan semangat Alya naik ke boncengan Rakha. Memepet tubuh dan pegangan di pinggang. Rakha menegang sedikit risih. Tidak ingin kegeeran, tapi dia juga tidak punya banyak waktu. Khawatir mendengar suara Ica yang teriak tadi. Menepis prasangka buruk pada gadis yang sedang memeluk pinggangnya. Akhirnya Rakha melajukan motor ke jalan yang di sebut Ica. Sampai di depan Cemara. Rakha melihat Ica manyun di pinggir jalan masih di atas motor matic barunya. Manik mereka saling bertabrakan. Rakha menyungging senyum, sementara Ica semakin manyun. Melihat ada cewek lain di boncengan Rakha. Moodnya langsung terjun bebas. Rakha meninggalkan motornya di sisi kiri jalan dan berjalan menghampiri Ica di sisi kanan. Tidak mempedulikan entitas Alya yang tadi di boncengnya. Sementara Alya tetap berdiri di samping motor Rakha melihat ke arah langkah laki-laki itu. "Lama banget si! Ngapain lo tadi?" sungut Ica sambil menyipitkan mata. Rakha meringis, "Lo kenapa emang?" tanya Rakha mengalihkan. Tidak ingin Ica memperpanjang kejahilan teman-temannya tadi. "Ngapain bawa-bawa cewek? Habis apa lo tadi?" selidik Ica dan dengan nada penuh tuduhan. Tak terpengaruh dengan pengalihan Rakha. "Dia?" Rakha menoleh dan menunjuk dengan dagu ke arah Alya. "Ketemu depan kontrakan, nebeng ke depan mau cegat angkot katanya," jelas Rakha. "Trus kamu nelpon tadi kenapa?" sambungnya tanpa jeda agar Ica tidak bertanya lagi. Ica mencebik. Sedari tadi dia bingung. Mau menelpon Karin tapi dia sudah berangkat kuliah sejak pagi. Mau merepotkan teman kos lain, Ica sungkan. Tidak ada pilihan lain selain Rakha. Tapi melihat ada Alya diboncengan Rakha membuat Ica menyesali keputusannya menelpon. Tau gitu dia minta tolong sama kang ojek di pojokan. Bibir Ica tambah manyun, matanya hampir mengembun, lalu bibir mungilnya berkata lirih, "Nggak bisa nyebrang..." rengek Ica menunjuk jalanan yang ramai. Dia memang belum terlalu padai mengendarai motor. Masih terlihat ragu-ragu kalau mau belok atau nyebrang. Jalanan di kota Banjarmasin tentu tak sama dengan Sampit yang notabenenya kota kecil. Di sini kendaraan hilir mudik tanpa jeda, seolah di kejar-kejar waktu. Setiap orang seperti berlomba untuk sampai ke tujuan lebih awal. Rakha menyemburkan tawanya. Wajah cemberut dan keringatan Ica membuatnya gemas setengah mati. Ica sudah mengantisipasi hal ini, dia tau pasti Rakha akan meledeknya, jadi dia hanya mencebik tak ingin menyahut. "Ayo gue ajarin," kata Rakha setelah tawanya reda. Dia naik di boncengan Ica dan memeluk pinggang gadis itu. "Ihh Rakha, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan ya, lo aja yang di depan!" pinta Ica sambil melepas tangan Rakha di pinggangnya. "Nggak! Lo aja di depan, biar nanti bisa sendiri. Lo juga ada-ada ja Ca, udah gue bilang berkali-kali, biar gue aja anterin lo ke kampus, malah ngeyel." "Iya iya nggak usah ngomel, ini gimana cara nyebrangnya? Keburu telat! Gue ada kuliah 10 menitan lagi," Ica memelas, matanya kini benar mulai basah. Dia juga jadi lupa dengan sosok Alya yang di cemburuinya tadi. "Udah ayo! Nyalain sein kanan, trus pelan-pelan jalan di pinggir dulu," komando Rakha. Dia meletakkan wajahnya di bahu Ica dan memeluk pinggang gadis itu. Ica yang lagi konsentrasi penuh menyebrang jalan tidak menyadari betapa dekat jarak mereka sekarang. Dia hanya fokus dengan jalan. "Trus pelan-pelan maju ke tengah, berhenti di perempatan situ!" Rakha semakin memepetkan tubuhnya hingga benar-benar tanpa jarak. Menghirup aroma manis yang menguar dari gadis itu. "Berhasil!" pekik Ica girang saat benar sudah sampai di seberang jalan. Tinggal lurus beberapa meter, dia sudah berada di kampusnya. "Iya kalem Ca, kalem!" bisik Rakha persis di telinga Ica. Baru nyadar Rakha sedekat ini, Ica terlonjak kaget. Dia refleks berjingkit dan duduk kembali dengan cepat namun persis di pangkuan Rakha. "Ca..." lirih Rakha menahan sesuatu. "Eh sorry sorry Kha! Lo nggak pa-pa?" Dengan muka merah Rakha mengangguk pasrah. Ica berusaha ingin mengurangi rasa sakit, namun benda yang harus di pegang adalah benda sakti Rakha. Jadilah dia urung dan hanya menahan tawa. Di seberang jalan, Alya melihat tak berkedip rentetan peristiwa nyebrang jalan Ica-Rakha. Ada rasa tidak terima dengan kedekatan itu. Siapa saja yang melihat pasti bisa menabak dan mengatakan kalau mereka sepasang kekasih. Alya tidak mau begitu. Dia ingin memiliki Rakha. Lelaki pertama yang memberi perhatian tulus padanya dan membuat jatuh hati. Dia harus memilikinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD