Kini Saga sudah berada di mobil, ponselnya bergetar. Kali ini Rivan yang meneleponnya. Saga pun menjawab dengan cepat, karena hanya Rivan satu-satunya orang yang ada di pihaknya untuk saat ini. “Bagaimana?” tanya Saga langsung pada intinya. “Aku sudah melakukan tugas sesuai perintah, kunci pintu pun sudah kuganti. Kupastikan tidak akan ada yang masuk sembarangan lagi,” jelas Rivan. “Baiklah, kerja bagus. Biarkan Nora tetap di sana. Aku yakin di rumahku sudah penuh dengan wartawan. Kamu bisa kupercaya untuk menjaganya, bukan?” Saga kembali memberikan tugas pada asistennya itu. “Tapi, Nora, maksudku Nona Nora terus bertanya. Aku harus menjelaskan apa padanya?” tanya Rivan, bingung. Bagaimana mungkin dia bisa berbohong dan terus berkilah, padahal Nora begitu mengenalnya. “Cari alasan, te

