Manik mata Nora tak berhenti melirik ke arah Saga, lututnya tak berhenti bergerak saat suaminya mengambil cangkir di meja dan meminumnya.
“Kenapa kamu?” tanya Saga, ketika mendapati Nora bersikap tak biasa.
Nora menggeleng, tanpa menjawab. Lekas, dia pun meminum tehnya. Ucapan Utari selalu terngiang dalam pikirannya. Namun, setelah beberapa saat melihat Saga yang mulai gelisah dan kepanasan. Nora merasa bersalah, dirinya juga merasa tak nyaman setelah minum teh itu. Dengan tergesa Nora pergi ke kamarnya, keraguan mulai muncul, sebab takut Saga akan menyalahkannya jika nanti ketahuan.
Nora mengunci pintu rapat-rapat, lalu pergi ke kamar mandi untuk menenangkan diri yang kini mulai tak karuan. Bahkan, isi kepalanya dipenuhi dengan bayangan adegan romantis yang sedikit panas.
“Astaga! Apa yang harus kulakukan?” gumam Nora, masih dalam guyuran air shower.
“Nora! Nora!” Nora mendengar samar, Saga memanggilnya.
Akan tetapi, hanya dua kali, setelah itu di luar menjadi hening. Nora mengira jika Saga mampu mengendalikan diri dan pergi ke kamarnya, pikirannya sedikit lega. Nora pun beranjak untuk memastikan, dia masih mengenakan pakaian yang basah hingga membuat lekuk tubuhnya tercetak sempurna.
Nora membuka pintu kamar secara perlahan, dia mengintip dari celah.
Brugh!
Tanpa diduga, tubuh Saga ambruk setelah pintu kamar terbuka lebar. Pria itu lemas dan seperti hilang kesadaran. Nora pun panik, dan sedikit berteriak.
“Saga? Kamu baik-baik aja?” tanya Nora, seraya meraih kepala Saga dan memeluknya.
Di luar dugaan Nora, bukannya menjawab, Saga langsung bangkit dan menyerang bibir Nora, dia memeluk tubu istrinya yang basah dengan keinginan yang menggebu-gebu.
Mendapat sentuhan itu, d**a Nora nyaris meledak. Tak kuasa memberontak, karena dorongan dari ramuan dan sentuhan suaminya bagai pemain cinta yang memabukkan.
Nora mengikuti permainan Saga secara alami, dia bahkan melakukan sedikit perlawanan yang membuat pria itu semakin bersemangat memagut bibir ranum Nora yang tampak manis seperti buah chery.
Saga melepaskan sejenak untuk mengambil napas, tatapan sendunya menembus ke dalam kalbu, membuat Nora tak berkutik bagaikan terhipnotis.
Keduanya bangkit dari lantai, dan perlahan menuju kasur. Saga mendorong tubuh Nora hingga duduk di tepi ranjang, dia pun mulai melucuti semua yang menempel di tubuhnya. Nora terpukau saat melihat tubuh atletis itu secara langsung tanpa tertutup sehelai benang pun.
Dengan refleks Nora menyentuh lembut perut yang memiliki delapan bagian otot seperti roti sobek isi pisang cokelat itu. Saga memejamkan mata menikmati setiap buaian yang Nora lakukan.
“Kamu harus jadi milikku, Nora,” ucapnya, saat Nora menghentikan sentuhannya.
Saga seperti menggilai istrinya, dia kembali menyerang Nora dengan penuh cinta. Tidak, serangannya tidak keluar jalur, sekadar serangan naluriah yang memang harus disampaikan pada tempat seharusnya.
Bisikan-bisikan cinta mulai terdengar bersahutan, tidak terdengar jelas apa yang mereka ucapkan. Namun, dapat dipastikan keduanya saling menikmati, meski sesekali bisikan halus itu menjadi sebuah erangan yang diiringi dengan senyum kemenangan.
Semakin lama permainan, suara-suara acak dari keduanya terdengar lebih kencang, seiring dengan gerakan tubuh Saga yang semakin cepat. Tak lama kemudian, Nora menggeliat, lalu mengeratkan pelukan pada tubuh kekar yang mengungkungnya. Keduanya terkulai lemas begitu saja, malam yang dingin tiba-tiba menjadi panas untuk keduanya.
***
Keesokan paginya, Nora bangun lebih dulu, saat sinar matahari mulai merambat melalui celah gorden. Gadis itu tersentak ketika samar-samar ingatan tentang permainan tadi malam muncul di pikirannya.
Nora seketika terperanjat dan bangkit dari pembaringan, lalu dia menoleh ke sisi lain kasur, benar saja Saga masih terlelap di sampingnya.
“Ya Tuhan, ternyata itu bukan mimpi,” desis Nora.
Dia mengusap wajah dengan kasar.
“Bagaimana jika Saga menyalahkanku dan mengusirku karena ini? Aku harus ke mana?” gumam Nora, lalu dia menekuk lutut dan membenamkan wajah di atasnya.
Hal itu membuat sinar keemasan dari matahari yang tadinya terhalang oleh tubuhnya, kini menyinari wajah Saga. Sesekali pria itu mengerjap karena terganggu, lalu mengubah posisi tidurnya.
Hal itu, membuat Nora semakin cemas dan ketakutan. Takut mendapat kemarahan, ketika pria sejuta pesona itu bangun dan murka padanya. Lekas, dirinya mengendap-endap hendak pergi dari kamar. Namun, tepat saat Nora berbalik dan nyaris turun dari ranjang, Saga menarik lengan Nora, hingga tubuhnya yang masaih dalam keadaan tanpa busana kembali berbaring di kasur.
Saga memeluknya dengan erat, seolah tak ingin melepaskan wanitanya.
“Mau ke mana?” tanya Saga, dengan suara parau yang justru terdengar begitu dalam dan tulus.
Ternyata, dia ingat, sudah pasti pria itu ingat dengan semua yang terjadi semalam. Buktinya, dia tidak kaget dengan keberadaan Nora.
“A-aku, mau mandi,” kilah Nora, dia merasakan ketegangan yang luar biasa.
“Nanti saja, hari ini libur, bisakah kita bermalas-malasan saja, atau ….”
“Atau apa?” sela Nora.
“Atau kita ulangi permainan semalam,” jawab Saga, lantas dia membenamkan wajah di punggung Nora, yang sontak membuat wanita itu menggigit bibir karena merasa geli.
“Maafkan aku, aku tidak bisa menghentikanmu–”
“Maaf, kenapa maaf? Kamu menyesal, setelah mengimbangi permainanku?” sergah Saga.
“Enggak, bukan begitu!” sanggah Nora.
Saga mengembuskan napas berat, lalu menuntun Nora agar berbalik menghadapnya.
“Lalu apa?” tanya Saga, sembari merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
“Aku hanya cemas, kalau kamu akan menyalahkanku atas semua ini, maaf Saga, terlalu murahan,” sesal Nora dengan suara tertahan.
“Kamu menikmatinya?” tanya Saga, seraya tersenyum manis.
“Emh, tapi ….”
“Kalau begitu, sudah cukup untukku. Kamu tidak perlu minta maaf,” jawab Saga, tatapannya tak beralih dari Nora, senyum yang selama ini disembunyikan di balik wajah datar pria itu, pagi ini Nora bisa melihatnya dengan puas.
“Sungguh, tapi aku–”
“Aku tahu,” sela Saga.
“Tahu apa? Kenapa kamu menyela terus?” Nora memprotes, karena Saga terlalu mendominasi dirinya.
“Tahu, kalau kamu juga menginginkan ini,” jawab Saga singkat.
“Oh!” Nora pun merespon singkat, sebab dia tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi saat ini.
“Anggap saja ini kekeliruan, kamu bisa melupakan dan menganggap semua ini enggak pernah terjadi. Aku bisa tutup mulut, dan enggak akan menuntutmu atas dasar apa pun,” cerocos Nora, begitu saja, lalu bangkit, mengambil kimono dan bergegas ke kamar mandi.
“Apa? Dia serius? Lupakan katanya? Wah!” Wajah Saga yang awalnya semringah, berubah drastis, dia pun akhirnya bangkit dengan raut wajah penuh kekecewaan, tidak menyangka jika Nora akan bersikap seperti tadi.
“Bukankah harusnya dia senang? Apa permainanku kurang memuaskan? Atau dia merasa jijik? Kenapa dengan dia? Semalam aku tidak memaksanya, dan dia menyambutku dengan baik,” oceh Saga, seraya memunguti pakaiannya lalu pergi dari kamar Nora.
***
Seharian Saga memikirkan sikap Nora, hal itu mengganjal di hatinya hingga pekerjaan pun tak ada yang beres.
“Bos, ada masalah apa di rumah?” teriak Rivan pada pria berjas hitam itu.
Saga tak mengacuhkan asistennya, dia masih asyik dengan pikirannya sendiri. Fokusnya menatap jauh hingga mencapai galaksi.
“Bos, Bos, Bos, Bos!” teriak Rivan secara berulang.
“Apaan sih?!” sembur Saga yang kini fokusnya mulai kembali.
“Mikirin apa?” selidik Rivan.
Saga menarik napas dalam-dalam, seolah hendak mengungkapkan beban berat. Namun, tak ada kata yang keluar dari mulutnya, padahal Rivan sudah bersiap untuk mendengarkan.
“Apa? Kenapa?” desak Rivan yang tak kunjung mendengar apa-apa dari bosnya.
“Enggak jadi!” celetuk Saga.
“Ck!”
***
“Nora apa kabarmu? Bagaimana keadaanmu setelah menggantikan peranku?”
Nora membaca sebuah pesan dari orang yang tak asing untuknya. Dia terpaku untuk beberapa saat. Tak lama kemudian, notifikasi darinya kembali kuncul. Kali ini orang yang mengiriminya pesan–yang tak lain adalah Megan–memasang story.
Sial, itu poto pemandangan yang bisa dilihat dari jendela kamarnya.
“Bisakah kamu mengembalikannya padaku, dan akhiri peranmu, Nora?”
Degh!
Bersambung ….