Bab 3. Dituntut Hamil

1102 Words
Nora perlahan membuka mata, dia bisa melihat siluet wajah tampan sedang memperhatikannya meski tak begitu jelas. Berulang kali Nora mengerjap, hingga sosok tampan itu kini bisa dia nikmati. “Kamu baik-baik saja, Nora?” tanya Saga, terdengar begitu hangat dan penuh perhatian. Nora mengangguk seraya tersenyum simpul, lantas mengangkat tubuhnya yang kini terbaring di brankar rumah sakit. “Berbaringlah, kamu harus istirahat,” cegah Saga, dia sedikit menekan bahu istrinya, lalu membenarkan selimut setelah Nora kembali berbaring. “Kamu juga harus istirahat, pulanglah,” pinta Nora, menyadari wajah suaminya tampak lelah. “Lalu kamu pikir, aku bisa meninggalkanmu sendirian?” sembur Saga. “Aku baik-baik aja.” Nora bersikeras. “Enggak! Aku akan di sini menemanimu!” Saga juga tidak mau kalah. Nora pun hanya bisa pasrah, mengukuti keinginan Saga. Walau bagaimana kuatnya dia memprotes, Saga tidak akan mendengarkan. “Oia, Nora, mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi, kamu harus bersama pengawal, aku sudah menyewanya untukmu. Tenang saja, dia seorang wanita, kamu bisa menganggapnya teman agar kamu nyaman,” oceh Saga, lalu beranjak menuju sofa. “Kenapa berlebihan?” protes Nora, yang merasa semua itu tak perlu dilakukan. “Berlebihan katamu? Nyawamu nyaris melayang, apa melakukan perlindungan itu berlebihan?” sembur Saga, masih dengan nada tinggi yang sepertinya tak bisa diperbaiki. Nora pun tak menjawab lagi, tidak ada pilihan lain, selain menerima apa yang pria itu katakan. *** Setiap Minggu, dua keluarga akan berkumpul dan melakukan makan malam bersama. Tentu saja Nora dan Saga harus ikut di dalamnya, keduanya selalu tampak enggan datang. Namun, tidak ada pilihan. “Kalau kamu masih merasa kurang sehat, istirahatlah dulu, biar aku saja yang ke sana,” ujar Saga pada sang istri yang baru saja keluar kamar dengan balutan gaun hitam sederhana itu. “Aku tetap harus datang, mereka akan mengoceh,” jawab Nora. “Setidaknya ocehan itu tidak akan kamu dengar,” sahut Saha lalu berdiri dan merapikan setelan yang dikenakan. Rambut yang biasa tertata rapi, kini tampak sedikit kasual, yang membuat nilai tampannya bertambah. Alisnya yang selalu mengerut, kini tampak tenang bagai lautan tanpa ombak. “Apa ini? Siapa dia? Benarkah dia Sag yang kukenal?” Batin Nora meronta-ronta, menatap pria di hadapannya, menghirup aroma parfum dari tubuhnya, membuat Nora seolah akan mati lemas. Lonjakan detak jantung yang tak bisa dia kendalikan, membuatnya berusaha menyembunyikan itu. Sebab, takut orang lain akan mendengar suara detaknya. “Ayok!” ajak Saga, dia mengulurkan tangan, tak seperti biasanya yang selalu berjalan tanpa memedulikan gadis berambut lurus itu. Nora tersenyum tipis, lalu meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat-erat. “Apa kamu sangat menyukaiku?” celetuk Saga, “kamu jatuh cinta padaku?” lanjutnya. Aliran panas tiba-tiba naik ke wajah Nora, dan membuatnya terasa terbakar, dia menunduk lagi-lagi menyembunyikan hal itu. “Kamu tidak perlu menjawab, jika tidak, aku bersyukur. Namun, jika kamu memilikinya musnahkan saja,” lanjut Saga. “Kenapa?” tanya Nora. Saga hanya tersenyum kecut, tanpa menjawab apa pun. Di mobil keduanya tampak hening, dan suasana menjadi kaku. Entahlah, Saga memang sulit untuk ditebak. Setelah beberapa waktu dalam perjalanan, Saga dan Nora akhirnya tiba di sebuah hotel bintang lima milik keluarga Dewangga. Semua orang benar-benar berkumpul layaknya sebuah keluarga. Saga dan Nora duduk setelah memberi salah pada orang tua dan mertuanya. Beberapa menit cukup tenang. “Kamu masih belum mengandung, Nora?” celetuk wanita bersetelah pink nude itu, tanpa menoleh ke arah Nora. Dia bertanya, tepat saat Nora akan menyantap suapan pertama makan malamnya. “Bu!” sergah Saga. “Aku bertanya pada istrimu, Saga!” balasnya, kali ini wanita itu menatap putranya dengan tatapan tajam. “Kami sedang mengusahakan,” celetuk Nora mencoba menengahi perdebatan di antara Suami dan mertuanya. Hanah mendelik ke arah Nora, dengan tatapan mengintimidasi. “Ya, memang harus, jika pendidikanmu tidak bagus, penampilanmu tidak begitu menarik, wawasanmu tak cukup luas, setidaknya kamu bisa melahirkan seorang anak untuk putraku,” cerocos Hanah, membuat suasana makan malam seperti suasana di dalam kubah tertutup yang minim oksigen. “Akan kuingat nasihat, Ibu,” jawab Nora dengan mengabaikan emosinya. Setelah menjawab hal itu dari mertuanya, Nora melirik ke arah sang ibu, yang memang sedari tadi sedang memperhatikannya. Utari memberikan kode pada Nora untuk mengikutinya ke toilet. Setelah mendengar izin Utari kepada semua orang, Nora pun menyusul. Dia juga dapat mendengar keluhan Saga pada Hanah, walau samar-samar. Pria itu membelanya. Plak! “Kamu dengar itu? Hah! Dengar bukan? Sudah kubilang, kamu harus sedikit gila agar suamimu mau menyentuhmu!” sentak Nora. “Mami pikir aku boneka?!” protes Nora sambil memegangi pipinya yang terasa perih dan panas. “Apa yang kamu banggakan hah? Apa? Kamu hanya memiliki tubuhmu untuk mengikat suamimu, Nora! Hanya itu!” oceh Utari. “Aku bukan Mami!” sergah Nora. Utari mengembuskan napas kasar, lalu dia mengeluarkan sekotak ramuan herbal. “Gunakan ini! Goda suamimu sampai kamu bisa menjadi ibu dari anaknya! Aku tidak ingin mendengar cemoohan dari besanku lagi! Paham?” tekan Utari. “Mam–” “Ingat Nora, kamu hanya istru pengganti, posisimu bisa saja tersingkir jika Megan kembali. Kamu harus punya alasan agar Saga bisa mempertahankanmu!” Utari memegang kedua sisi bahu Nora, lalu dia mengambil blazer yang Nora gunakan. Membuat bahu dan d**a bagian atas Nora terekspos. *** Setelah makan malam Nora menjadi pendiam, dia terpaksa harus menuruti keinginan Utari untuk membuat Saga menidurinya. “Tapi, itu membuatku kehilangan harga diri,” pikiran Nora terus menolaknya, dia tidak ingin menjadi semurahan itu, meskipun untuk suaminya. “Apa yang kamu pikirkan, kenapa begitu serius?” tanya Saga yang begitu penasaran dengan sikap sang istri yang sesekali mendengkus seperti memikirkan beban berat. “Jika itu tentang apa yang dikatakan ibuku, lupakan saja,” sambung Saga menerka isi pikiran Nora. “Apa kamu enggak mau?” celetuk Nora. “Mau apa?” balas Saga. “Memiliki anak?” tanya Nora. “Untuk saat ini, aku belum siap,” jawab Saga tampak begitu jujur. “Bukan belum siap memiliki anak, melainkan aku belum siap menyentuhmu, aku terlalu pemalu untuk itu, Nora.” Tatapan pria itu seolah berkata demikian, tetapi Nora tentu saja tak mendengar semua itu, dan dia berpikir jika Saga memang tak siap memiliki anak darinya. Di sisi lain, Nora juga takut, takut jika dia sampai dikembalikan ke keluarganya. Hanya karena tak bisa memiliki anak untuk Saga. Sesampainya di rumah, Nora mengambilkan Saga secangkir teh dan beberapa kudapan, mereka berjanji akan menonton drama sebelum tidur. Nora menatap ramuan itu dengan penuh kebimbangan. Namun, pada akhirnya dia memasukkan itu pada teh milik Saga dan teh miliknya. “Maafkan aku Saga, aku terpaksa melakukan ini,” ucap Nora, “aku seperti rubah licik yang mencurangimu, tapi aku tidak punya pilihan lain.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD