Bab 8. Sial!

1188 Words
Beberapa hari kemudian setelah kejadian tersebut, Bisma kembali mengundang semua keluarga untuk makan malam bersama. Saga yang kini sedang berada di luar kantor pun cukup kesal mendapat pesan teks dari ayahnya itu. “Siapa yang menginginkan posisi ini? Kurasa seekor cicak pun tak mau, mereka juga bebas memilih dengan siapa mereka hidup,” gerundel Saga. Kali ini dia pergi tanpa Rivan, karena memang ada sesuatu yang harus diselesaikan tanpa bantuan siapa pun. Saga bergegas memarkirkan mobil di sebuah kantor milik keluarga Ankara. Benar, dia harus menemui Radit, karena masalah yang dialami secara tidak langsung berhubungan dengan pria yang akan ditemui. Saga yang sudah membuat janji, dapat dengan mudah bertemu dengan anak pengusaha ternama itu. Radit sudah menunggunya. Dia bahkan meluangkan waktu. Benar, ego pria itu tak setinggi ego Saga. “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Pak Saga,” sambit Radit seraya mengulurkan tangan. Saga pun menerima uluran tangan itu dan menyalami Radit yang termasuk. “Bukankah saya yang harusnya mengatakan itu?” sahut Saga terdengar sedikit sinis. “Berarti kita berdua memang mengharapkan pertemuan ini,” jawab Radit. Keduanya lantas duduk tanpa basa-basi lagi. “Saya tidak ingin banyak basa-basi, saya tahu Anda orang sibuk, dan waktu begitu berharga untuk Anda, Pak Radit,” ucap Saga, lalu menatap pria di hadapannya dengan tatapan tajam. Radit mengernyitkan kening, lalu membalas tatapan Saga dengan tatapan penuh penasaran. “Tentu saja itu berlaku untuk Anda, Pak Saga. Jadi, apa yang bisa saya bantu?” tanya Radit, dia masih bijak dalam merespon sikap dan ucapan Saga. “Megan, Anda kenal wanita itu?” celetuk Saga, yang sontak membuat pria di hadapannya tercengang. Sejurus, Saga menyodorkan sebuah rekaman CCTV saat Megan dan Radit masuk kamar hotel berduaan. “8 Januari 2024, tepat saat Anda pergi Korea untuk mengadakan rapat kerja, sesuai agenda harian Anda. Ini rekaman cctv tanggal 10 Januari, dua hari sebelum kepulangan Anda ke Indonesia, bukan?” tanya Saga, bukan itu bukan pertanyaan melainkan sebuah fakta yang menekan lawan bicaranya. “Saya minta maaf–” “Tidak perlu minta maaf, nikahi saja wanita itu, karena dia sekarang sedang mengandung bayi Anda,” jelas Saga. “Apa?! Menikahi Megan? Tidak mungkin! Saya sudah memiliki istri!” jawabnya dengan tegas, “kami baru saja dua bulan lalu menikah, memang belum mengadakan resepsi. Tapi, pernikahan kami resmi!” Pria itu sontak berdiri dan tampak begitu gelisah, dia mondar-mandir tak karuan. Benar, bagaimanapun tangguhnya seorang pria jika itu menyangkut keluarga, pastilah akan goyah. Seperti saat Saga tidak ingin seorang pun mengusik Nora. Saga sedikit menyesal dengan tindakannya, tetapi itu dia lakukan untuk melindungi Nora. “Seperti halnya Anda, saya pun memiliki istri yang harus saya lindungi,” tandas Saga lalu berpamitan. Awalnya Radit tidak memikirkan ucapan terakhir Saga, sebelum dia pergi dari kantornya. Namun, setelah dia mengingat-ingat, Megan pernah bercerita jika dia kabur ke Korea dari pernikahannya. Dan pria yang ditinggalkan adalah Saga. “Lalu siapa istri Saga? Jika Megan dulu lari darinya, dan wanita itu adalah putri keluarga Dewangga?” gumamnya. “Aku tidak bisa membiarkan ini, jika aku hancur, dia pun harus hancur.” Sial, ternyata seorang yang terlihat begitu tenang pun akan berubah jadi menyeramkan ketika sesuatu yang penting baginya terusik. *** Malam harinya, Saga mendapat pesan dari Megan jika Nora pun sudah tiba di rumah Bisma. Dia hanya perlu datang lebih cepat. Tanpa pikir panjang, Saga pun pergi ke rumah Bisma, dia khawatir jika Nora disakiti orang lain. Ternyata itu memang benar, Nora sudah ada di sana. Saga tampak lega karena Nora terlihat tenang, tak seperti dugaannya. Nora menoleh ke arah suaminya yang tampak begitu terburu-buru. Senyuman hangat tersungging menyambut kedatangan pria tampan itu. “Kenapa kamu tidak menungguku? Kita kan bisa datang bersama,” protes Saga, lalu duduk di samping Nora. Jelas, raut wajahnya tergambar kecemasan. Senyum Nora semakin lebar, mendapati suaminya begitu peduli padanya. “Aku yang meminta sopir menjemputnya,” timbrung Megan. Saga menoleh ke arah Megan, lalu menatapnya sinis. Pria itu merasa hal tersebut sebagai ancaman yang begitu nyata. “Aku baik-baik aja,” ucap Nora, sembari menggenggam tangan Saga. Berusaha meyakinkan pria itu jika tidak terjadi hal buruk padanya. Saga pun tampak lega setelah Nora menyakinkannya. Tak lama, kemudian Utari dan Firman pun datang, disusul dengan tuan rumah yaitu Bisma dan Hanah. Mereka pun duduk di meja mengitari meja makan mewah. “Apa tujuan makan malam ini?” tanya Saga. Pria beralis tebal itu meyakini ada maksud tersembunyi yang Bisma rencanakan di balik makan malam tersebut. “Jangan selalu mencurigai orang tuamu, Saga!” jawab Hanah. Entah kenapa, kedua ibu di ruangan itu, tak ada yang menunjukkan sikap lembut. Keduanya begitu menekan keinginan pada anak-anaknya, seolah mereka itu tak memiliki hak untuk berontak. “Aku tadi menemui Raditya,” ungkap Saga. Dasar bodoh, kenapa harus menunjukkan taring sebelum peperangan dimulai. Megan tampak tercengang mendengar semua itu. “Kami sudah memeriksa itu, dan untuk memastikan kami memeriksa DNA bayi yang ada di kandungan Megan,” jawab Firman, lalu menyodorkan berkas dari rumah sakit. “DNAnya 99% cocok,” lanjutnya. Saga tersenyum, “Tentu saja akan cocok, karena memang dia ayahnya.” “Denganmu!” tangkas Lukman. Sontak, hal itu membuat Saga tercengang, begitu juga dengan Nora. Saga merebut berkas itu dari Firman dan memeriksanya dengan saksama. Benar saja, di dalam dokumen itu terdapat namanya. Nora yang ikut membaca untuk memastikan, seketika gemetar. Dia tak mampu menahan dirinya lagi. Benar-benar tak habis pikir dengan situasi ini. “Enggak mungkin! Aku tidak pernah menyentuhnya! Bagaimana bisa anak itu anakku?” sanggah Saga, saat menyatakan perihal itu wajah Saga tak sedikit pun menunjukkan keraguan. “Kamu pikir aku gila? Kamu pikir aku mengada-ada?! Bagaimana mungkin aku kembali padamu, setelah aku meninggalkanmu kalau ini anak orang lain,” tutur Megan, membela diri. “Kamu sendiri yang mengatakan jika pria itu yang menidurimu, Megan!” sentak Saga. “Tapi aku belum yakin, Saga.” Megan balas meneriaki Saga. Sementara, Nora hanya bisa terisak. Dia putus asa, dan tak tahu harus berbuat apa. Baru saja merasa dirinya menemukan cinta, tetapi kini kandas dengan sebuah kenyataan pahit. “Aku tidak akan pernah menikahimu dan mengakui anak itu!” tegas Saga, lalu dia menarik tangan Nora, mengajaknya untuk pergi dari sana. Nora yang tak memiliki pendirian dan belum bisa berpikir jernih pun, hanya bisa menuruti kemauan Saga. Dia ikut bangkit dan berjalan sempoyongan mengikuti suaminya. Sejurus, Megan mengambil pisau di meja dan menusukkan itu ke arteri di lehernya. “Lebih baik aku mati, dibandingkan melahirkan anak tanpa ayah!” kecamnya. Nora dan Saga pun menoleh setelah mendengar teriakan Megan yang disusul teriakan orang-orang yang ada di ruangan itu. “Apa dia sudah gila?!” sentak Saga frustrasi. “Kamu pikir mudah menanggung ini sendirian?!” balas Megan. Nora semakin gemetar melihat situasi di ruangan itu, dia teringat kembali saat Lukman melakukan percobaan bunuh diri karena Utari menggugat cerai. Bahkan kini, setelah sekian lama, Lukmah tak kunjung sadar. “Hentikan dia, Saga, hentikan!” racau Nora, dia memegang kepala dan berteriak histeris. “Nora, kamu kenapa?” Saga panik bukan main. “Menikahlah dengannya! Kumohon.” Nora menatap Saga sendu dengan wajah sembab penuh dengan rasa sakit. “Nora, apa maksudmu?” Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD