Dunia Nora kembali berantakan, dia harus menerim semua keputusan dan tak bisa mengatakan apa pun. Perasaannya seolah tak penting, keberadaannya seolah tak dianggap.
Dengan sisa kekuatannya, Nora mematikan TV dan berusaha meyakinkan hati jika semuanya baik-baik saja. Namun, itu cukup sulit, sebab hatinya benar-benar sakit.
***
Sementara itu, Rivan yang kebetulan juga menonton berita itu, secepat kilat berlari ke ruangan Saga. Tanpa permisi, dia masuk dan buru-buru menunjukkan berita tersebut.
“Bos! Bos! Anda harus melihat ini,” pinta Rivan, lantas menyalakan TV dan membiarkan Saga menontonnya tanpa mendengar penjelasan apa-apa darinya.
Setelah menonton sebentar, Saga langsung bangkit dari duduk. Tak ada yang dia pikirkan selain kondisi Nora saat ini.
“Banned semua saluran yang menayangkan berita itu, pinta mereka menghapusnya!” perintah Saga, lalu dia pergi begitu saja dari kantor.
“Apa yang Papa lakukan? Kenapa selalu ikut campur dengan urusanku?!” gumam Saga.
“Kenapa tak seorang pun membiarkanku hidup seperti yang kumau? Kenapa semua orang egois? Sial!” umpat Saga, lantas dengan penuh amarah dia memukul stir mobil dan beberapa kali mengenai tombol klakson.
***
“Nora! Nora! Nora! Di mana kamu?” Dengan tergesa Saga masuk rumah, dia berkeliling mencari Nora yang ternyata sedang berada di dapur.
“Kamu sudah pulang?” sahut Nora, dia masih mengenakan celemek, sebab sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya.
“Nora ….”
“Aku masak enak untukmu,” sahut Nora, dia berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Senyum manisnya terkembang dengan tulus.
Saga terpaku di tempatnya berdiri memandang Nora dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Nora terus saja berusaha mengalihkan bahasan, dia mengoceh menceritakan hal-hal menyenangkan, padahal bukan waktu yang tepat.
“Mau sampai kapan berdiri di situ? Sini makan,” ajaknya pada sang suami, senyumnya masih terkembang meski Saga tahu jika itu hanya senyum palsu.
Saga perlahan menghampiri Nora, tanpa banyak kata dia memeluk istrinya yang masih bergerak ke sana kemari, sibuk mengalihkan perasaannya. Namun, Saga bisa mengerti jika Nora benar-benar tidak baik-baik saja.
“Maafkan aku,” ucap Saga.
Mendengar satu kalimat yang begitu tulus dari suaminya, Nora langsung menangis sesenggukan.
“Aku takut, Saga ….” Hanya kalimat itu yang keluar di sela raungan pilu wanita cantik itu.
“Aku janji akan mengatasinya, aku tidak akan meninggalkan kamu, Nora,” jawab Saga.
“Jangan membuat janji yang sulit untuk kamu tepati,” rajuk Nora, lalu memukul pelan d**a bidang suaminya.
“Aku harus gimana?” Nora benar-benar terdengar putus asa dengan situasi saat ini.
“Kamu tunggu saja, biar aku yang menyelesaikan ini,” kata Saga, dia berusaha menenangkan istrinya.
Setelah Nora tenang, Saga pun pergi ke rumah orang tuanya. Tentu saja untuk melontarkan protes, sebab berita yang muncul itu tanpa sepengetahuannya.
Dengan penuh amarah, Saga menerobos ruang pertemuan keluarga, ternyata di sana sudah ada Firman, Utari, Megan, dan juga Hanah.
Saga mendorong pintu, tepat ketika mereka sedang tertawa senang, karena berkat berita pernikahan yang ditayangkan, memberikan dampak positif bagi kedua perusahaan. Seketika tawa riang itu terhenti. Seolah tak peduli.
“Oh, bagus! Kalian tertawa di sini setelah mempermainkan hidup seseorang?!” sembur Saga tanpa aba-aba.
“Kamu sudah datang? Baguslah, aku jadi tidak perlu repot meneleponmu,” sahut Bisma dengan nada tenang, tetapi terdengar menjengkelkan bagi Saga.
“Apa yang kalian pikirkan sebenarnya?” teriak Saga, benar-benar geram.
“Saga, duduk dan tenanglah dulu. Kita bicarakan ini baik-baik,” ajak Hanah, berusaha setenang mungkin, tentu saja karena insiden siang tadi, dia tidak bisa bertindak gegabah pada putranya.
“Duduk? Tenang?” sergah Saga.
“Kamu kenapa, semua ini kan sudah terencana sejak awal, hanya saja tertunda,” sahut Megan.
“Jangan gila kamu! Aku sudah punya istri!” tegas Saga.
“Tapi dia hanya pengganti!” teriak Megan, mulai tersulut, “jangan naif Saga. Jangan terlalu terbawa suasana.”
“Aku cukup rasional!” berontak Saga, “kamu hanya memanfaatkanku untuk status anakmu, bukan? Megan! Harusnya kamu minta Raditya untuk menikahimu, bukan mencariku!” oceh Saga, dia kesal terus dimanfaatkan oleh keluarganya.
Plak!
Sekali lagi Hanah menampar Saga, dia tak segan mempermalukan Saga di depan orang lain sekali lagi. Saga mengusap wajah dan mendelik ke arah wanita paruh baya di hadapannya.
“Apakah ini pengaruh wanita itu? Inilah yang kukhawatirkan. Kamu jadi berbicara sembarangan, karena hidup bersama anak dari keluarga rendahan!” cebik Hanah.
“Cukup! Jangan pernah hina istriku!” sanggah Saga.
“Saga!” Kali ini Bisma berteriak, membentaknya, pertemuan itu menjadi kacau.
“Kenapa? Kalian tidak mempercayaiku jika Megan kabur dengan putra keluarga Ankara? Haruskah kubuktikan?” cerocos Saga.
Bisma yang benar-benar kesal karena ulah Saga, mengambil gelas, dengan cepat dan penuh emosi, dia melemparkan itu pada Saga. Gelas itu mendarat tepat di kening Saga. Semua yang ada di sana panik, Utari bahkan histeris dan lekas menghampiri Saga, membawakan tisu untuk membersihkan darah yang mulai mengalir.
“Bukankah ini keterlaluan? Tidak bisakah kita bicara dengan tenang?” ucap Utari.
“Kalian boleh menyiksaku, bahkan boleh membunuhku. Tapi, jangan sentuh Adhara Elnora, jangan pernah menghinanya lagi!” tegas Saga, lalu berbalik dan pergi dari ruangan tersebut. Tisu yang disodorkan Utari pun tak digubrisnya.
Pertemuan menjadi kacau, sementara Firman yang sedari tadi diam saja, kali ini dia melirik putrinya. Seolah meminta penjelasan dengan apa yang baru saja Saga katakan. Tentu mereka berharap semua itu hanya kebohongan yang Saga lakukan.
“Megan enggak mungkin bikin malu Papa, Saga cuma menghindari pernikahan ini,” ujar Megan, lantas dia berlutut di hadapan Firman.
Dengan mudahnya Firman mempercayai Megan. Dia mengusap pucuk kepala Megan, dan memintanya berdiri.
Sementara Utari menyadari, dirinya dalam masalah besar, dia harus siap menerima sikap kasar suaminya, karena kekacauan yang dilakukan Saga. Dia meremas tisu yang ada di tangan, merasa tak ada pendukung yang bisa diandalkan dalam situasi ini.
“Karena situasi sudah kacau, saya dan keluarga pamit dulu,” ucap Firman seraya bangkit dan menuntun Megan untuk berdiri dan mengikutinya.
“Saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya,” sahut Bisma, lalu mengantar keluarga besannya hingga ke depan rumah.
***
Saga melangkah dengan enggan, dia menatap Nora dengan tatapan sendu. Sementara Nora yang sedang duduk menunggunya, sontak berdiri dan menghampiri suaminya.
“Apa yang terjadi, kenapa kamu terluka?” Seketika Nora panik, saat melihat wajah suaminya berlumur darah.
Saga tak berkata apa pun, dia duduk di sofa seraya sesekali mengembuskan napas berat. Namun, perlahan bebannya mengelupas ketika mendapatkan perlakuan lembut dari istrinya.
Tanpa menunggu jawaban Saga, Nora bergegas mengambil kotak P3K, lalu duduk di hadapan Saga. Perlahan membersihkan luka pria tampan itu dan mengoleskan obat. Nora pun meniupnya, khawatir suaminya merasa kesakitan.
“Haruskah kita kabut saja ke tempat di mana tidak ada orang lain, selain kita berdua?” celetuk Saga.
“Apa ada tempat seperti itu?” Dengan polosnya, Nora menyahuti ocehan kosong sang suami.
“Entahlah, aku muak dengan semua ini,” ungkap Saga.
“Apa yang harus kulakukan agar membuatmu lebih baik?” Nora membelai wajah Saga, berusaha menenangkan pria itu.
Saga menggeleng, lalu tersenyum simpul.
“Tetap di sisiku, itu sudah cukup,” ucap Saga.
Nora mengangguk, lalu berucap, “aku akan mendukung segala keputusan yang kamu ambil.”
Saga mendekatkan wajah ke arah Nora, bibirnya mendarat di bibir Nora. Keduanya saling memagut dengan lembut, setiap gerakan terpancar cinta yang mekar. Bahkan, air mata dari sudut mata mereka mengalir begitu saja.
Bersambung….