Antara Luka dan Yang Tak Pernah Selesai

1005 Words

Antara Luka dan Yang Tak Pernah Selesai Beberapa minggu kemudian. "Katakan kamu di mana? Aku akan menjemputmu. Bukankah kita sudah sepakat untuk tetap bersama?" Suara Arvind terdengar bergetar di ujung telepon. Kali ini, ia memakai panggilan video. Tentu saja—ia ingin melihat langsung keadaanku. Menelanjangiku dengan pandangannya yang selalu penuh penilaian. "Jangan mempermainkan hidupku, Sanaz." Nada dinginnya biaSanaza bisa membuatku ciut, tapi tidak kali ini. "Aku sudah keguguran, Pak Arvind." Aku menunduk, membiarkan suara lirihku terdengar rapuh. "Jadi, tidak ada lagi alasan untuk kita menikah. Aku harap kamu bisa memiliki anak dari wanita yang kamu cintai nantinya... bukan dari wanita yang kamu benci. Dan juga... yang dibenci keluargamu." Aku menarik napas dalam-dalam, menaha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD