Pelarian yang Membuka Luka”

1185 Words

Langkahku terhenti tepat di depan pintu kamar, ketika suara Arvind dari arah balkon menusuk telingaku seperti sembilu. “Kamu harus pastikan Sony hancur, Kak. Dia sudah terlalu lama main di belakang keluarga kita,”ucapnya dengan nada dingin. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang mengandung ancaman dan tekanan. Lalu, terdengar suara seorang perempuan. Kakaknya. “Dan perempuan itu?” “Biarkan saja di sini. Aku akan urus. Sony tidak akan macam-macam kalau dia bersamaku. Aku ingin anakku lahir setelah itu...” Kalimat itu terputus. Tapi bagi telingaku, sudah cukup menyayat. Seolah dunia runtuh di atas kepalaku. Jadi… semuanya masih sama? Bahkan setelah aku mengandung anaknya? Aku masih tetap sekadar alat, pion dalam permainan dendam keluarga mereka? ‘Ah, bodohnya aku. Aku yang terlalu berha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD