Hantu dari Masa Lalu "Apa kamu ingin melarikan diri lagi?" “Tidak, aku hanya ingin ke kamar mandi.” Suara jantungku bergemuruh, bergema seperti gendang yang dipukul keras. Suara bariton itu menyusup ke relung tubuhku, membuat jemariku gemetar saat meremas ujung jari—berusaha keras menahan gugup. Aku membalikkan tubuh perlahan, dan... menatap wajahnya. Wajah itu. Tatapan mata itu kembali menusukku. Seolah-olah hendak menguliti diriku hanya dengan pandangan. Mata coklat pekat yang menelusuri tubuhku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Membuatku merasa telanjang meski aku tengah mengenakan seragam kerja. “Apa kabar?” "Baik, Pak." Aku mencoba berbicara sekuat tenaga, menahan agar suaraku tak bergetar. "Kamu... sangat cantik," ujarnya, menatapku dari bawah ke atas lagi. Tubuhku nyaris

