Arvind meninggalkanku di tepi pantai. Hanya diam. Tanpa kata, tanpa jawaban, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ia pergi, sementara aku masih berdiri mematung, menelan getir yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Padahal aku sudah mengalah. Aku yang selama ini berdiri paling depan menolak semuanya, kini justru menawarkan diri untuk menikah dengannya, demi menyelamatkan keadaan, demi menyelamatkan nama baik keluarga, demi anak yang kini tumbuh dalam rahimku. Tapi sepertinya, semua itu tidak cukup untuk membuatnya bertahan. ‘Apakah dia benar-benar akan menikahiku? Atau aku hanya sedang dipermainkan?’ batinku, getir. Angin laut mengusap pipiku yang basah oleh keringat dan air mata yang tak tumpah. Ombak berkejaran di hadapanku, seolah ikut menertawakan luka yang kubawa. Udara pant

