Arvind bersikap sangat manis sejak kami tiba di restoran malam ini. Tak seperti biaSanaza, ia begitu lembut dan penuh perhatian. Bahkan, ia memotongkan daging steak yang ia pesan untukku, meletakkannya di atas piringku dengan lirikan hangat yang nyaris membuatku lupa siapa dia sebenarnya, lupa bahwa lelaki ini adalah sosok angkuh yang dulu begitu membenciku. Perhatian yang diperlihatkan Arvind padaku mungkin akan membuat pasangan lain iri. Mungkin mereka akan berkata ‘Wanita yang beruntung, suaminya tampan dan perhatian. Aku bisa melihat lirikan para pengunjug lain yang memperhatikan Kami. Sebelum aku duduk Arvind menarik kursi, saat sedang menunggu pesanan makanan, ia sudah terlebih dulu pesan air hangat untukku , saat angin meniup rambutku dan menutupi sebagaian wajahku ia menyelipkan r

