Pengecut dan Cintanya

1016 Words

Aku melihat wajah Arvind dari kaca spion, samar-samar dipantulkan cahaya lampu jalan yang berkelebat satu per satu. Mobil melaju membelah jalanan kota Bali, menembus gerimis yang turun perlahan. Sorot matanya gelisah, kedua tangannya mencengkeram setir sekuat tenaga, sesekali melirik ke arahku, penuh kepanikan, juga, rasa bersalah. Tapi aku tahu, kekhawatiran itu bukan semata karena kontraksi yang mencabik tubuhku. Bukan. Dia tahu. Luka yang menari di hatiku jauh lebih menyakitkan daripada rasa nyeri di perutku. Ditengah kepanikannya ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam dan menatapku dengan sangat cemas "Arvind," lirihku di antara hela napas yang terasa seperti silet. "Kau tak perlu berpura-pura peduli." "Jangan bicara seperti itu," sahutnya cepat, nadanya gugup, jarang sekali aku me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD