Detak yang Hampir Hilang Dunia seolah runtuh bersamaan dengan detak jantungku yang ikut lenyap. Detak itu, detak kecil dalam rahimku yang selama ini menjadi sumber kekuatan, seakan menguap dari semesta. Aku memang bukan dokter. Bukan perawat. Tapi naluri seorang ibu. Ia lebih tajam dari pisau bedah, lebih cepat dari suara monitor rumah sakit. Naluri itu bicara lewat gelisah, lewat nyeri yang tak terdefinisikan. “Arvind, aku serius, aku nggak merasakan detaknya lagi,” bisikku. Suaraku begitu lirih, nyaris tak terdengar, seperti doa yang terlepas di antara tangis yang tak tumpah. Mataku menatap matanya. Bukan sekadar menatap, aku memohon. Sekali saja, aku kumohon dia percaya padaku. Wajah dingin Arvind, pria tinggi berwibawa dengan mata cokelat yang biasa membekukan dunia, mendada

