Janji yang Tak Pernah Selesai

1052 Words

Malam itu terlalu sunyi. Bahkan suara mesin infus dan detak lemah monitor terasa seperti nyanyian duka yang menegaskan kesendirianku. Di luar jendela, langit tampak kelam, seakan ikut menelan seluruh ketakutanku yang belum juga reda. Perutku terasa berat. Tapi bayi kecil di dalam sana, masih bertahan. Masih berjuang. Mungkin dia setuju dengan permintaanku, ingin melihat dunia bersama-sama. Aku sangat bersykur karena dia masih kuat. ‘Terimakasih Nak, karena kamu masih kuat. Mari kita berjuang bersama-sama’ Dan di sampingku, lelaki itu. Arvind. Duduk bersandar di sisi tempat tidurku. Tangannya menggenggam jemariku erat-erat seolah takut kehilangan. Genggaman itu tak lagi dipenuhi ego atau kemarahan seperti biasanya. Hangat. Manusiawi. Ia menatap wajahku dengan tatapan teduh, sesekali ta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD