Arvind pergi setelah menitipkanku sama seorang suster. Melihatnya pergi ingin rasanya juga pergi. ‘Apa yang akan terjadi selanjutnya? Haruskah aku pasrah?’ Aku menghela napas panjang. Entah mengapa, kehadiran suster perempuan di ruangan ini justru membuatku merasa lebih tenang. Ada aura hangat dan bersahabat darinya yang membuatku merasa tidak sendiri. “Sus, bantu aku duduk, ya. Aku mau ke kamar mandi. Dari tadi aku menahan,” bisikku lirih. Suster itu tersenyum ramah. “Lah, tadi kan suaminya ada. Kenapa nggak minta bantuan bapaknya aja, Bu?” ‘ Dia bukan suamiku Sus’ bisikku dalam hati. Aku mengalihkan pandangan. “Dia sibuk. Banyak urusan,” jawabku sekenanya. “Hati-hati ya, Bu. Rahim Ibu masih dalam masa pemulihan.” Baru selangkah aku berdiri, tiba-tiba perutku terasa seperti henda

