"Kamu tidak usah ikut. Aku tidak mau malu di depan orang banyak," suara dingin Arvind masih terngiang jelas di telingaku sejak siang tadi. Kalimat tajam yang ia ucapkan tanpa jeda, menusukku lebih dalam daripada belati yang digoreskan tepat ke jantung. Kata-katanya meninggalkan luka yang tak kasatmata, namun perihnya menembus sampai ke sumsum. Aku hanya mengangguk pelan waktu itu. Diam, sembari menyembunyikan luka yang entah sudah keberapa kalinya ia torehkan—tanpa belas kasih. Namun, sore harinya... Langit mulai menguning. Senja berpendar indah di balik jendela besar kamar ini. Cahaya lembut memantul di lantai marmer, menciptakan semburat keemasan yang kontras dengan perasaanku yang kelabu. Eyang dan Ayah Arvind tiba-tiba datang ke kamarku. Senyum mereka hangat, berbeda dari dinginnya

