Di Balik Cangkir Kopi dan Jalan Buntu Malam itu, aku tidak bisa tidur. Langit begitu gelap di luar jendela, namun tetap kalah kelam dibanding isi kepalaku. Tubuhku masih gemetar. Sudah tiga kali aku mandi malam ini, berharap air bisa menghapus rasa jijik yang menempel di kulitku. Tapi percuma. Rasa itu membatu, membekas sampai ke tulang. Tak tergantikan oleh sabun, apalagi air hangat. Aku terduduk di pojok kamar, memeluk lutut sendiri. Sunyi merambat dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Aku ingin menangis, tapi air mataku telah lama mati. Sejak aku sadar, hidupku cuma jadi boneka. Pajangan. Mainan bagi dua pria—Sony dan Arvind—yang entah sedang bermain catur atau sedang adu ego. Yang satu menyakitiku secara perlahan, yang satu lagi... menghancurkanku dalam satu malam. Dan anehnya, yang

