Arvind masih berdiri di depanku, menatap tajam seolah matanya ingin menyayat kulitku dan menguliti isi kepalaku. “Tolong ceritakan padaku. Kenapa kamu selalu seperti ini?” tanyanya, datar namun penuh tuntutan. “Tidak ada, Pak Arvind. Tolonglah, aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku karena ulahmu. Aku tulang punggung keluargaku... tidak bisakah kamu membiarkanku hidup tenang?” ucapku, memohon, suaraku lirih nyaris patah. Aku berharap lelaki itu punya hati, walau setitik saja. “Tidak.” Jawabnya pendek. Santai. Dingin seperti biasa. Iya, kamu memang lelaki tak berhati, Arvind. Umpatku dalam hati, getir. “Apa yang harus aku ceritakan padamu?” tanyaku, mencoba mempertahankan harga diri yang tersisa. “Semuanya,” desaknya tanpa ampun. Aku menarik napas panjang, lelah. “Kamu itu bukan sia

