Suara pintu terbanting keras memecah kesunyian ruangan. Getarannya membuat dinding apartemen itu seolah ikut bergetar. Aku tersentak, tubuhku terhuyung ke belakang karena dorongan kasar dari pria itu—Arvind Fariz. Pria yang kini bukan hanya musuh terbesarku, tapi juga penjara hidupku yang nyata.
"Selamat datang di penjara mewahmu," suaranya dingin, penuh ejekan, membelah udara apartemen yang terasa lebih dingin dari biaSanaza. Ia bersandar santai di ambang pintu, menyilangkan tangan di d**a. Tatapannya mengiris seperti pisau, senyum miringnya seolah menikmati penderitaanku.
Ruangan itu luas, terlalu luas untuk disebut kamar biasa. Jendela kaca setinggi langit-langit menampilkan panorama gemerlap malam kota Jakarta dari lantai dua puluh sembilan. Lampu-lampu gedung menjulang, seharusnya pemandangan itu membuat siapa pun terpesona. Tapi tidak untukku. Bagiku, semua kemewahan ini hanya sangkar emas—indah dari luar, menyiksa dari dalam.
Aku menggigit bibir, menahan getir yang memenuhi dadaku. "Apa maksudmu mengurungku di sini? Aku bukan tawananmu! Kita tidak ada hubungan apa-apa!" teriakku, napasku memburu, d**a naik turun dipenuhi kemarahan.
Arvind hanya mengangkat satu alis, tatapan sinis tak lepas dari wajahku. "Justru kamu tawanan, Sanaz. Tawanan karena kamu terlalu licin untuk dibiarkan bebas," katanya santai, suaranya tenang tapi tajam seperti sembilu. "Sekali keluar, kamu akan kembali merusak rumah tangga kakakku."
"Aku sudah bilang aku akan pergi dari hidup Sony!" Aku membalas keras, suaraku nyaris bergetar.
"Bohong," balasnya cepat. Langkah kakinya mendekat, napasnya terasa di wajahku, hangat tapi kata-katanya dingin membekukan jiwa. "Kamu wanita licik. Kamu tahu caranya memikat laki-laki, dan kamu sangat ahli berpura-pura jadi korban."
Aku mendongak, menatapnya lurus tanpa gentar. "Aku tidak akan menikah denganmu! Jangan mimpi. Aku bahkan tidak mengenalmu!"
Tawa pendeknya meledak di ruangan itu, sinis dan menusuk. "Tenang saja, menikahimu adalah mimpi buruk buat gue," katanya pelan, menyeringai, "Tapi kalau itu satu-satunya cara buat ngelepasin kakak gue dari cengkeraman lo, gue bakal lakukan."
Aku terdiam. Hatiku bergetar hebat, bukan karena takut, tapi karena amarah yang menyesakkan d**a. Bagaimana bisa dia menghakimi seenaknya? Bagaimana bisa dia menghukumku tanpa pernah mau mendengar penjelasan?
Hari-hari berikutnya berlalu seperti hukuman tak berkesudahan. Suasana di apartemen ini membeku, dipenuhi kebencian yang menggantung di udara. Arvind datang dan pergi seperti bayangan, hanya muncul untuk memastikan aku makan atau mengenakan pakaian yang dia pilihkan. SiSanaza, hanya sunyi yang memelukku erat.
Aku mulai kehilangan waktu, tak lagi peduli apakah hari sudah malam atau masih pagi. Langit Jakarta di luar jendela tetap sama, dipenuhi lampu-lampu gemerlap yang terasa menyakitkan dipandang.
Tapi hari ini, aku tak tahan lagi. Rindu pada anak-anakku mencengkeram kuat di d**a. Bayangan wajah Falen dan Zio terukir jelas di benakku. Tawa mereka, pelukan mereka, suara mereka memanggil "Mama" seperti pisau yang terus mengiris hati.
"Arvind," panggilku pelan, suaraku parau karena terlalu lama membungkam perasaan. "Aku ingin menemui anak-anakku. Tolong… hanya sebentar. Falen dan Zio pasti mencariku."
Dia menoleh perlahan dari sofa tempatnya duduk, matanya menatapku dingin dari balik layar ponselnya. Tatapan tajam itu menusuk seperti panah.
"Anak?" Arvind menyipitkan mata. "Kau ingat punya anak? Tapi gak ingat kalau kamu juga simpanan suami orang? Hebat," sindirnya, suaranya tenang tapi setiap katanya seperti cambuk.
Aku mengepalkan tangan, menahan amarah yang sudah sampai ubun-ubun. "Aku nggak minta kamu percaya. Aku cuma ingin ketemu mereka."
"Dan kemudian kamu kabur? Kamu pikir gue sebodoh itu?"
"Arvind… mereka anak-anakku. Aku ibu mereka!" Suaraku meninggi, rasa putus asa menguasai logika.
Tapi dia tetap tenang, seperti patung batu yang tak tergoyahkan. "Dan gue dokter yang ngerti kapan seseorang berakting. Lo nggak akan keluar dari sini sampai semua selesai. Kecuali lo mau menikah."
Air mataku jatuh begitu saja, tak mampu kubendung lagi. Bukan karena aku lemah, tapi karena hancur. Karena rindu yang tak tertahankan. Falen pasti bingung, Zio pasti marah besar karena aku titipkan mereka di rumah teman, tanpa kabar, tanpa penjelasan.
"b******n! Kamu nggak berhak misahin aku dari darah dagingku sendiri!" teriakku, dadaku naik turun menahan tangis dan amarah.
Ia bangkit dari kursi, berjalan cepat ke arahku, tubuhnya menjulang di depanku. Tatapan matanya tajam menindih.
"Dan lo juga nggak berhak misahin kakak gue dari anak-anaknya. Lo pikir gue peduli air mata lo? Simpan tangisan itu buat lelaki lain yang bisa lo perdaya," ucapnya pelan, tapi penuh penekanan.
Aku tercekat. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutku. Hanya sesak yang menguasai d**a.
Hari-hari berikutnya adalah siksaan. Aku menolak makan, menolak bicara. Sudah dua hari aku tak menyentuh makanan dengan benar. Tubuhku mulai melemah, kepala berputar, pandangan buram. Tapi aku tidak akan menunjukkan kelemahan di depan Arvind. Biar dia lihat aku kuat, walau rapuh di dalam.
Namun pagi ini, saat aku berdiri dari ranjang, semuanya gelap. Dunia berputar cepat, lalu tiba-tiba segalanya hilang.
Aku jatuh.
Saat aku sadar, aku sudah terbaring di ranjang apartemen, infus menusuk di lengan, kain basah menempel di dahiku. Bau antiseptik samar tercium, lampu kamar redup, dan di samping ranjang, sosok Arvind duduk dengan wajah dingin tapi tegang.
"Kamu pikir lo bisa kabur dengan cara ini? Dengan jatuh sakit?" suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
Aku berusaha membuka mata, tubuhku gemetar hebat, tenggorokanku kering.
"Aku… nggak pura-pura…" bisikku lemah.
Arvind menghela napas panjang. Ia bangkit, memeriksa infus dengan gerakan cepat dan terlatih. Ada ketegangan samar di matanya, walau ia berusaha menutupinya.
"Demam tinggi. Tekanan darah turun. Kurang nutrisi. Kamu pikir itu romantis? Jatuh pingsan dan berharap gue luluh? Salah alamat, Sanaz," katanya dingin. "Gue ini dokter, bukan laki-laki bodoh yang bisa lo manipulasi."
Aku ingin marah, ingin berteriak, tapi tubuhku terlalu lemah. Aku hanya bisa menatapnya dalam diam, menahan sakit yang merambat hingga ke hati.
Ia mengambil stetoskop, memeriksa nadiku dengan cekatan. Gerakannya profesional, presisi, tanpa kelembutan, tanpa rasa iba.
"Kenapa kamu merawatku, kalau kamu benci aku?" tanyaku, suaraku pelan nyaris tak terdengar.
Arvind menoleh, wajahnya tetap keras. "Karena gue dokter. Dan dokter nggak ninggalin pasien mati, bahkan kalau pasiennya menjijikkan kayak lo."
Kalimat itu menusuk, seperti tamparan di wajah. Hati kecilku bergetar, luka yang belum sembuh kembali robek.
"Kamu… manusia kejam," gumamku lirih, air mata kembali jatuh tanpa kuasa.
Ia menatapku lama, matanya tajam tapi ada sesuatu yang lain tersembunyi di balik dinginnya. "Gue belum sekejam lo yang merebut suami orang dan hancurin keluarganya," ucapnya. "Lo pikir siapa yang kejam duluan?"
Aku membalikkan badan, membelakangi dia, membiarkan tangis pecah tanpa suara. Tidak ada yang bisa kukatakan lagi. Aku terlalu lelah untuk bertarung hari ini. Tubuhku hancur, jiwaku remuk.
Namun sebelum dia keluar dari kamar, suaranya terdengar lagi, rendah tapi jelas menusuk telinga.
"Cepat sembuh. Setelah ini, kita bakal bicara lagi soal pernikahan."
Hatiku mencelos. Tubuhku menggigil, bukan karena sakit, tapi karena rasa takut dan benci yang makin menumpuk seperti bara di d**a.
Aku sadar, hidup ini seperti bidak catur. Kalau aku terus diam, aku akan dikorbankan. Tapi kalau aku melawan, aku harus siap dengan luka yang lebih dalam.
Dan aku bersumpah dalam hati, permainan ini belum selesai. Bahkan, ini baru permulaan.
Bersambung