Langit Jakarta sore itu menggantung kelabu, seolah ikut menertawakan hidupku yang kian terjerat. Di luar, hujan gerimis mengetuk-ngetuk kaca jendela apartemen seperti rintihan kecil yang tak terdengar. Tapi di dalam ruangan ini, yang terdengar hanya suara detak jantungku yang berpacu lebih cepat dari biaSanaza.
Aku terpaku. Diam membatu di sudut kamar, seolah udara menolak masuk ke dalam paru-paruku. d**a ini sesak, pikiranku berputar kacau. Menikah? Dengan Arvind? Bahkan sekadar mendengar kalimat itu saja rasanya sudah seperti menelan duri.
Menikah dengan pria yang membenciku? Yang bahkan tak sudi menyebut namaku tanpa nada jijik? Untuk apa? Untuk melarikan diri dari Sony? Tapi bukan seperti ini caranya, bukan seperti ini skenarionya yang pernah kubayangkan dalam ribuan malam penuh doa.
“Asal lo tahu, Sanaz, kalau lo ragu, bilang sekarang. Gue gak punya waktu buat main drama murahan,” suara Arvind membuyarkan lamunanku, tajam, dingin, menekan seperti jarum yang menusuk langsung ke dalam kepala.
Tatapannya setajam sembilu, seperti pisau bedah yang siap menguliti isi hatiku tanpa ampun. Sorot matanya yang berwarna cokelat terang itu bagai bara yang tak pernah padam, penuh prasangka, penuh kebencian yang ia jaga rapat-rapat seolah itu adalah warisan hidupnya.
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam amarah yang mulai membakar d**a. “Kenapa kamu repot-repot? Kalau ini cuma demi balas dendam buat kakakmu, masih banyak cara lain. Kenapa harus aku yang kamu seret ke permainan konyol ini?” tanyaku dengan suara serak, menahan perih yang sudah terlalu lama kupendam.
Arvind menyeringai sinis, bibir tipisnya melengkung seperti seringai setan dalam dongeng lama. “Karena lo bagian dari masalahnya, sayang. Dan masalah harus diberesin dari akarnya,” ucapnya, pelan namun menghujam tajam.
Aku menunduk. Sakit di kepala makin menjadi. Luka di tangan kiriku masih terasa perih, sisa insiden beberapa hari lalu, tapi luka di dalam—luka yang ditinggalkan Sony, Iren, bahkan mama—itu jauh lebih menyiksa, jauh lebih membunuh.
Dikhianati, dimanipulasi, lalu kini diseret untuk berpura-pura mencintai pria yang memandangku seperti sampah? Dunia benar-benar sudah gila.
“Aku nggak bisa... seperti itu lagi,” ucapku lirih, nyaris seperti gumaman.
“Asal lo tahu, gue cuma kasih pilihan yang mudah,” balasnya, lebih terdengar seperti ultimatum daripada solusi. Tidak ada rasa simpati, tidak ada jeda untuk empati.
“Maaf. Tidak. Aku akan cari jalan lain untuk lepas dari Sony. Tapi bukan dengan menikah sama kamu,” ucapku pelan, meski suaraku bergetar, aku mencoba tegar.
Arvind mengembuskan napas kasar, matanya memicing, seolah menahan luapan emosi yang siap meledak. “Lo mau Sony ngejar lo lagi? Hah?”
“Tentu saja tidak.”
“Nah, kalau begitu turuti saran gue. Yakin deh, lo bakal selamat. Atau lo mau mati? Pilihannya cuma itu.”
Kata-katanya seperti pisau yang dipelintir di dalam ulu hati. Ucapan Arvind terdengar lebih mirip ancaman daripada pertolongan. Nadi di leherku berdenyut kencang, jantungku memukul-mukul dinding d**a tanpa ampun.
“Baiklah... beri aku waktu untuk berpikir,” gumamku, sambil memijat kening. Pusing ini makin menggerogoti sisa-sisa kesadaranku.
“Gue kasih lo waktu. Tapi jangan lama-lama. Ini bukan lamaran romantis, Sanaz. Ini cuma strategi,” sahutnya datar, wajahnya tanpa ekspresi, seolah hidup ini hanya papan catur yang bisa ia kendalikan seenaknya.
Aku menggertakkan gigi, mencoba menata kembali tumpukan rasa yang porak-poranda. Di luar, langit mulai meredup, cahaya senja memantul di dinding apartemen, melukiskan bayangan muram di wajahku.
‘Laki-laki bermulut beracun sepertimu lebih baik dijauhkan,’ batinku mengutuk dalam diam.
“Aku tidak bisa,” ucapku akhirnya, menatapnya lurus. “Maksudku, aku tidak ingin melibatkanmu. Aku gak usah menikah. Aku akan pergi dari hidup Sony... selamanya.”
Arvind tertawa pendek, suara tawanya kering, menyakitkan telinga. “Dasar b**o! Lo sendiri yang bilang Sony gak mau lepasin lo. Artinya, dia bakal cari lo ke mana pun lo kabur.”
“Baik. Jadi begini saja. Tidak usah menikah. Aku janji akan meninggalkan Sony. Aku akan hilang dari hidup kalian,” ulangku, meski aku sendiri tahu, itu lebih terdengar seperti harapan kosong.
Arvind menatapku, matanya seperti es yang tak pernah mencair. “Apa lo pikir gue bodoh? Gue jauh-jauh pulang dari Jerman cuma buat singkirin duri yang nyangkut di pernikahan kakak gue.”
“Bapak harus percaya, aku akan pergi jauh.”
“Lalu kenapa nggak dari dulu lo pergi?”
Aku menghela napas panjang, d**a ini makin sesak. “Aku nggak dibiarin pergi. Dia selalu menahanku... seperti aku ini miliknya.”
Arvind tertawa lagi, kali ini lebih getir. “Binatang peliharaan pun kalau udah nyaman sama tuannya, susah ninggalin.”
Ucapan itu seperti menyiramkan bensin ke atas luka lama. Dia menyamakanku dengan binatang. Luka yang nyaris sembuh terasa terbuka kembali, berdarah, bernanah, menyiksa tanpa ampun.
“Asal tahu aja, gue gak punya banyak waktu. Gue harus balik ke Jerman. Satu-satunya cara biar Sony lepasin lo adalah lo jadi milik orang lain. Kita pura-pura menikah. Simple.”
Aku menggeleng, tubuhku melemah, hati ini makin koyak. “Aku keberatan. Kenapa kamu nggak cariin lelaki lain saja yang mau bantu menikah denganku?”
Tatapannya membakar, sorot matanya seperti bara yang tertiup angin. “Kenapa? Lo ogah nikah sama gue? Justru gue yang jijik nikah sama lo! Tapi ini bukan soal perasaan, ini soal strategi. Demi kebaikan rumah tangga kakak gue. Demi ketenangan bokap gue. Kalau bokap gue tahu kakak gue dipukuli suaminya, dia bisa kena serangan jantung. Lo ngerti nggak?!”
Aku menatapnya penuh luka. Setiap kata-katanya seperti cambuk, menghantam habis-habisan, tanpa menyisakan ruang untuk bernapas.
“Aku nggak mau dijadikan alat,” desisku, mencoba bertahan.
“Oh, lo maunya apa? Lamaran romantis di bawah sinar bulan? Dihias bunga dan cincin berlian? Lo pikir ini film drama?” Dia tertawa, menyeringai, wajahnya penuh sindiran pahit.
Tubuhnya berdiri tegap, kemeja putih yang lengannya digulung memperlihatkan urat-urat tegang di lengannya. Sorot matanya tajam, cokelat terang, memantulkan bara api yang seakan siap membakar segalanya. Wajah tampannya memang menggiurkan, tapi hatinya? Dingin. Beracun.
“Kita menikah minggu depan,” katanya begitu saja, tanpa ekspresi, tanpa emosi, seolah hidupku hanya formalitas kecil di dalam rencana besar yang ia susun.
“Tidak! Aku tidak bisa,” aku menolak spontan, dadaku makin sesak.
“Kenapa?”
“Kenapa kamu selalu mendesakku? Bahkan otakku belum bisa berpikir jernih.”
“Kamu gak punya waktu. Gue gak pulang dari Jerman buat nungguin cewek kayak lo mikir,” suaranya tajam, menusuk tanpa ampun.
Arvind memang bukan Sony yang piawai bersandiwara lewat kelembutan. Dia kasar, blak-blakan, menelanjangiku dengan prasangkanya, membunuhku lewat kata-katanya.
“Dengar baik-baik,” Arvind melangkah mendekat, menatapku tajam. “Sony gak akan pernah lepasin lo kecuali ada paksaan dari luar. Dia terobsesi sama lo. Sama muka cantik lo, yang sayangnya... cuma dipakai buat rebut suami orang.”
“Apa nggak ada cara lain selain menikah denganmu?” tanyaku lirih, mencoba mencari celah.
“Satu-satunya cara biar dia berhenti, adalah lo jadi milik orang lain. Dan gue? Gue orang itu.”
“Tapi kenapa harus kamu? Kenapa nggak cari orang lain?” suaraku nyaris putus asa.
Ia menyeringai, tajam. “Karena gak ada orang waras yang mau nikah sama lo, setelah tahu siapa lo sebenarnya.”
Darahku mendidih, tapi aku diam. Tak ada gunanya menjelaskan kebenaran pada seseorang yang sudah buta oleh kebencian.
“Kita menikah. Satu hari. Setelah itu, gue ceraikan lo. Lo bebas. Kakak gue tenang. Gue balik ke Jerman. Selesai.”
Tanpa menunggu jawabanku, Arvind berbalik, melangkah keluar dari kamar, meninggalkan jejak aroma parfum maskulinnya yang samar tapi membekas di udara.
Aku terpaku. Tubuhku gemetar, tanganku mencengkeram ujung baju dengan lemah. Mataku menatap pintu yang baru saja ditutup olehnya, seolah pintu itu adalah perbatasan antara hidupku yang lama dan mimpi buruk baru yang menantiku.
Benarkah ini satu-satunya jalan keluar? Atau hanya jebakan lain yang lebih menyakitkan?
“Kadang, yang paling dingin bisa jadi yang paling tega. Tapi siapa sangka... mungkin juga dia yang paling terluka,” gumamku pelan, membiarkan kalimat itu mengendap di hati yang sudah terlalu lelah.
Dan aku... harus bertaruh pada luka itu. Entah luka siapa yang akan membunuh lebih dulu.
Bersambung