Udara malam ini dingin, menusuk kulit meski aku berada di dalam ruangan yang seharusnya hangat. Lampu gantung kristal di atas meja memancarkan cahaya temaram, memantulkan bayangan kami berdua di dinding apartemen mewah itu. Tapi tidak ada kehangatan di ruangan ini. Yang ada hanya dingin, benci, dan rasa jijik yang kian pekat di antara kami.
“Berapa harga lo untuk satu malam ini?”
Pertanyaan itu meluncur tajam dari bibirnya. Suaranya rendah, tapi dinginnya mengiris lebih dalam dari udara malam yang berembus dari celah jendela. Tidak ada emosi. Hanya cemoohan. Hanya kebencian. Hanya penghinaan yang begitu telanjang.
Aku mengangkat kepala, menatap lelaki itu. Arvind.
Pria tinggi dengan sorot mata cokelat terang yang seharusnya mampu meluluhkan hati perempuan mana pun. Tapi malam ini, matanya justru menancapkan belati ke dalam dadaku. Beku, dingin, penuh amarah. Tidak ada ruang untuk belas kasih.
“Maaf,” ucapku pelan, nyaris seperti bisikan, tapi cukup jelas untuk didengar.
“Maaf untuk apa?” tanyanya lagi, satu alisnya terangkat, seolah menunggu lelucon lain dariku.
“Karena aku bukan p*****r,” jawabku tegas, meski suaraku terdengar pecah di ujung.
Tawa sinisnya memenuhi ruangan. Tawa yang tidak lagi manusiawi, melainkan tawa penuh penghinaan. Aku tahu, setiap kata yang keluar dari mulutnya, setiap tatapan itu, adalah bentuk hukuman yang sudah dia siapkan.
“Oh iya? p*****r sama pelakor itu sama aja,” ucapnya, nadanya tajam, seperti bilah pisau yang mengoyak harga diriku.
Aku terdiam. Nafasku tercekat. d**a ini seolah dililit tali tak kasat mata. Kini semuanya masuk akal. Sikap dinginnya. Tatapan yang dipenuhi kebencian. Kata-kata kejam yang dilontarkan tanpa ragu.
Wajah itu… wajah Arvind… terlalu mirip dengan perempuan yang sering kulihat di galeri ponsel Sony. Wanita yang selama ini kusebut "korban" dalam kepingan hidupku yang berantakan.
Istrinya.
“Aku nggak pernah berniat—”
“Kamu merebut suami kakak gue. Dan lo pikir bisa cuci tangan kayak nggak pernah ngelakuin apa-apa?” potongnya cepat, matanya menyala seperti api yang siap membakar apa saja.
Setiap katanya seperti palu godam yang menghantam dadaku. Aku hanya bisa menggigit bibir, menahan sakit yang merambat ke ubun-ubun.
“Apa pun yang aku katakan, mungkin kamu nggak akan percaya.”
“Benar. Makanya gue kerja sama sama Irena. Gue bahkan bayar mahal ke g***o buat malam itu,” balasnya.
Aku terpaku. Kata-katanya menggema di kepalaku seperti petir yang membelah langit. Irena? Mami? Mereka… menjualku?
“Kamu… kerja sama sama Irena? Dan… Mami…?” suaraku nyaris tidak terdengar, seperti sisa-sisa keyakinanku yang baru saja hancur.
Arvind hanya mengangguk pelan, senyum sinis terpulas di wajah tampannya. Dunia seketika seperti runtuh di bawah kakiku. Sahabat yang kusebut keluarga, ibu pengganti yang kupeluk saat dunia meninggalkanku… ternyata merekalah yang mendorongku ke jurang ini.
Tanganku mengepal. Dadaku bergemuruh. Aku ingin menjerit, ingin menangis, ingin lari. Tapi tidak di depan dia. Tidak di hadapan lelaki ini. Aku tidak akan memberikan dia kemenangan kedua.
“Kamu tahu?” bisikku pelan, menahan air mata, “Irena bukan cuma mengkhianatiku. Dia ingin menghancurkanku. Karena dia tahu… lewat kamu… aku pasti jatuh.”
Arvind melangkah maju, tubuh tingginya mendekat, matanya menusuk lurus ke dalam jiwaku. “Setidaknya sekarang lo ngerasain jadi korban. Kakak gue… dipukulin Sony waktu mereka liburan di Bali. Karena lo.”
Aku memejamkan mata. Luka lama terbuka lagi. Luka yang bahkan belum sempat kering. “Iya… sangat sakit,” suaraku bergetar, menahan pecahnya tangisan. “Dan dia… hampir ngebunuhku.”
“Kamu pikir gue puas tidur sama p*****r kayak lo? Gue cuma butuh videonya. Gue cuma pengen Sony menderita,” katanya, datar, dingin, seolah semua ini adalah permainan kecil baginya.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba berdiri lebih tegak meski kakiku nyaris goyah. Harga diri ini… sudah diinjak-injak, tapi aku masih punya sisa keberanian.
“Terima kasih,” kataku getir.
Alis Arvind terangkat. “Untuk apa?”
“Karena kamu justru nolongin aku. Dengan semua ini, mungkin Sony bakal lepasin diriku. Dan aku bisa bebas.”
Sejenak, sorot matanya berubah. Ada kebingungan, seolah kalimatku tidak sesuai naskah yang dia bayangkan.
“Kamu serius pengen lepas dari lelaki b******k itu?” tanyanya, nadanya kini lebih tenang.
“Iya. Apa pun caranya. Aku siap.”
Ia mendengus, memalingkan wajah sejenak, sebelum kembali menatapku. “Kalau gitu… kita nikah.”
Dunia seolah berhenti berputar. “Apa?”
“Pura-pura. Sampai Sony bener-bener lepasin lo. Hari itu juga gue ceraikan lo. Ini semua demi kakak gue.”
Aku menelan ludah, otakku berputar cepat. Menikah? Dengan lelaki yang menjebakku? Dengan lelaki yang menganggapku p*****r? Bahkan pura-pura saja terasa gila.
“Tidak, aku tidak bisa melakukan itu.”
“Lo yang bilang mau lepas dari Sony. Ini cara tercepat. Gue urus semuanya.”
“Pasti ada cara lain. Aku tidak ingin berurusan dengan keluargamu,” tolakku lagi.
“Gue urus. Lo nggak perlu pikirin mereka. Yang penting kakak gue nggak luka lagi.”
Aku mengembuskan napas. Luka di hati masih menganga. Luka dikhianati, dipermainkan, dijebak, dan diseret ke drama hidup mereka. Apa… harga kebebasan hanya dengan cara itu? “
“Aku nggak mau.”
Arvind menatapku lama. Matanya menyelidik, mencari kebohongan, mencari celah dalam keteguhan kata-kataku.
“Apa lo pikir gue bangga tidur sama lo?” katanya pelan. “Gue cuma pengen ngasih pelajaran ke Sony. Biar dia tahu rasanya dihancurin.”
“Oh, terima kasih… karena Bapak Makhluk Mulia ini kasih aku ‘hukuman’,” sahutku, sarkasme meluncur mulus dari bibirku.
Dia tersenyum miring. “Untuk apa? Karena gue kasih lo kepuasan malam itu?”
Aku menggeleng pelan. “Bukan. Karena Bapak bantu aku lepas dari Sony.”
Arvind terdiam. Entah kenapa, kalimat itu membuat dia kehilangan kata. Sejenak, ruangan ini hanya dipenuhi suara jarum jam yang berdetak lambat.
“Aku udah lama pengen kabur dari dia. Tapi dia selalu ngancemku. Anak-anakku juga. Dengan Bapak ngelakuin ini, mungkin dia bakal lepasin aku. Aku bakal bebas. Terima kasih, Bapak Arvind.”
Arvind menyipitkan mata, mengamati wajahku dalam-dalam. “Lo pikir gue percaya kata-kata manis lo?”
“Aku nggak maksa kamu percaya. Tapi kalau kamu bisa… sampaikan permintaan maafku ke kakakmu . Kalau takdir bisa diulang, Aku pengen benerin semuanya.”
“Lo bener nggak mau balik ke Sony?” tanyanya lagi, matanya menelisik.
“Aku akan cari cara ngebuat dia ninggalin Aku selamanya… Aku lakuin. Apa pun itu.”
“Maka menikah denganku saja.”
Aku menggeleng pelan. “pasti ada cara lain.”
Dia melangkah lebih dekat. “Kita nikah. Gue akan bawa loe ke rumah keluarga gue, ingin menghancurkan hidup Sony juga.”
Tapi mendengar kalimat itu, seluruh tubuhku menolak.
“Bertemu keluargamu?Tidak. Aku nggak mau nikah dan bertemu dengan keluargamu.”
“Jangan lebay. Ini cuma pura-pura. Gue nikahin lo, lalu gue ceraikan. Demi kakak gue. Demi keluarga gue.”
“Apa kamu pikir keluarga kamu bakal setuju?”
“ Uda gue bilang tadi, Lo nggak usah mikirin mereka,” katanya datar. “Jawab aja. Lo serius mau bebas dari Sony?”
“Aku mau bebas. Tapi bukan cara yang kamu tawarin, bertemu keluarga dan Sony lagi. Itu hal yang tidak mungkin.”
Tawa sinis keluar dari bibirnya. “Asal tahu aja, di mata gue, lo cuma sampah yang harus disingkirin dari rumah kakak gue. Tujuanku menikahi lo ingin membalas Sony juga dan videonya juga sudah gue kirim.”
Pikiranku kacau. Hatiku remuk. Orang-orang yang aku percaya, yang aku sebut keluarga, mengkhianatiku. Dan kini, lelaki ini menyeretku ke permainan yang lebih kejam.
Video itu… sudah dikirim ke Sony. Pantas dia marah besar. Dan aku?
‘Tidak, kalau dia ingin memaanfaatkanku balas dendam pada Sony. Aku menolak menikah’ ucapku membatin.
Aku hanya bisa menatap pantulan wajahku di jendela. Wajah yang dulu penuh mimpi, kini tinggal bayangan luka.
Kadang, hidup memang tidak adil. Kadang, orang terdekat justru menjadi pisau yang paling dalam menancap.
Tapi satu hal yang pasti… aku tidak akan membiarkan ini jadi akhirku. Luka ini, pengkhianatan ini, dendam ini… semua akan jadi pijakan. Karena dalam hidup, bahkan di tengah kehancuran, selalu ada satu pelajaran:
Orang yang jatuh bukan berarti kalah. Kadang, jatuh adalah cara semesta memak