Dalam Genggaman Malam

1046 Words
“Apa kamu yang melakukannya?” tanyaku tiba-tiba. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri—pelan, getir, tapi cukup tajam untuk membelah udara. Tubuhku membeku. Nafasku tercekat. Aku tidak boleh lemah. Tidak di hadapan dia. “Iya,” jawabnya enteng. “Gue pikir malam itu kita melakukannya beberapa ronde. Gue bahkan pengin bilang makasih... karena lo sungguh sangat memuaskanku.” Deg. Napasku membentur dinding d**a, tertahan di sana. Kata-katanya menamparku lebih keras dari seribu tamparan. Tatapan matanya menusuk, sinis, menghina—seolah aku cuma angka dalam daftar petualangan kasualnya. Lelaki tinggi bertubuh atletis itu berdiri santai, bersandar dengan aura congkak, mata coklat terang itu menyala dalam kegelapan. Berkarisma, memikat, tapi mematikan. Seperti racun dalam cangkir anggur. Jantungku berdentam keras, ingin meloncat keluar dari d**a. Aku tidak menduga. Ternyata aku sudah datang ke kandang buaya. “Aku... aku tidak mengingatnya. Maaf,” kataku lirih. Lidahku kelu. Pandangan mulai berkunang-kunang. “Oh?” Dia tersenyum sinis. “Padahal malam itu lo yang paling menguasai permainan. Gaya lo liar banget, gue sampe heran.” Hancur. Itu yang aku rasakan saat itu. "Aku tidak mengingatnya," ulangku. Aku menahan air mataku agar tidak tumpah di depan laki-laki yang menghinaku. Walau aku merasa seperti terperosok ke lumpur busuk yang lengket—dan tak ada sabun secanggih apapun yang bisa membersihkanku dari rasa jijik ini. Saat aku hendak masuk ke penginapan, dia mendekat. Nafasnya hangat di telingaku. Kalimat berikutnya menghantamku seperti peluru. “Jalang sepertimu... ternyata bisa juga memuaskan. Gue sangat menikmatinya. Apa kita bisa ulang lagi?” Tubuhku menegang, tanganku hanya bisa mengepal dengan kuat. Aku tidak mau lemah di depannya. Aku pikir aku sudah cukup jauh dari masa lalu yang kelam. Tapi ternyata tidak. Aku hanya berputar dalam lingkaran takdir—kembali ke titik awal, tapi kali ini lebih dalam, lebih menyakitkan. Dengan cepat aku menyingkirkan air di ujung mataku. Tangannya mencengkeram daguku. “Lo nangis? Kenapa? Hahaha! Nyesel ketemu gue?” Aku diam. Tak punya tenaga bahkan untuk berdiri. Luka di tubuhku tidak seberapa dibanding cabikan pada harga diriku. Hinaan itu... menempel seperti racun yang menjalar perlahan. "Aku mau tidur," ucapku lemah. “Aku ingin masuk...” “Kenapa? Lo gak mau layanin gue lagi?” "Aku sak—" BRAK! Dunia gelap. Tubuhku ambruk. Samar-samar kudengar dia memanggilku. “Hei! Hei, lo kenapa?!” Aku membuka mata dengan susah payah. Perutku melilit hebat. Baru kusadari... aku belum makan seharian. Hanya beberapa sendok ketoprak di apartemen Iren yang masuk ke perut ini. Dan sekarang... perut kosong ini memberontak seakan ingin meledak. Mataku melirik kanan-kiri. Aku berada di kamar yang berbeda. Sepertinya kamar miliknya. Syukurlah... pakaianku masih utuh. Dia tidak menyentuhku. Tapi tetap saja, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi. Dengan perut yang terasa seperti dipelintir, aku tertatih berjalan keluar dari kamar. Baru beberapa langkah... “Apa kabur memang jadi hobi lo?” Suara itu terdengar dari balik dinding. Arvind berdiri bersandar, tangan di saku celana, wajah tampannya dingin, sinis. Mata coklat terangnya menelanjangiku seperti sinar X-ray. “Aku cuma mau cari makanan,” jawabku cepat, bohong. “Ini tengah malam, Sanaz. Gak ada warung buka. Kecuali lo mau berenang ke seberang laut itu,” katanya, menunjuk restoran yang lampunya sudah redup di kejauhan. Aku hanya bisa diam. Suara ombak terdengar jauh lebih tenang daripada isi hatiku yang berkecamuk. “Kenapa gak cari di dapur aja?” Aku masuk ke dapur. Hanya menemukan mie instan di laci. Tanganku mulai gemetar. Lapar sudah memelukku terlalu erat. Perkakas? Kompor? Entahlah. "Aku nggak tahu tempat untuk masak," ucapku lirih. Suara itu hampir tenggelam dalam rasa malu. "Dasar orang kampung," sindirnya, lalu membuka lemari dengan kasar. Ia mengeluarkan kotak bubur instan dan menyiapkannya dengan gerakan praktis. Aku terdiam. Mataku hanya mengikuti gerakan tangannya. Aroma bubur yang sederhana itu terasa seperti aroma surgawi. Dia menyodorkan mangkok padaku. "Terima kasih," ujarku pelan. Aku tahu dia tak butuh ucapan itu, tapi aku tetap mengatakannya. “Makan pelan-pelan. Lo kayak monyet kelaparan,” katanya datar. Aku mengabaikannya. Rasa lapar lebih menyakitkan daripada hinaannya. Tapi saat aku sedang menikmati suapan ketiga, mendadak... BRAK! Dia merebut mangkokku dan melemparkannya ke lantai. Bubur dan mangkok pecah berantakan. “Sikap lo bikin gue emosi! Gue tahu lo sengaja nyulut gue! Dasar w***********g!” Arvind berjalan pergi, meninggalkanku di antara puing-puing bubur dan ego yang hancur. Aku hanya bisa menatap lantai. Perutku masih lapar. Tapi yang lebih menyakitkan... hatiku. Aku berjongkok, mencoba membersihkan lantai. Tapi saat tanganku menyentuh pecahan mangkok—SRET! Tangan kananku terluka. Darah mengalir deras. Sakit. Tapi aku tidak ingin dia melihat aku seperti ini. Aku bangkit, mencari kotak P3K. Nihil. Bahkan luka sekecil ini pun aku harus tangani sendiri. Aku melangkah keluar. Ingin mencari obat di luar. Tapi... “Asik banget lo keluar malam-malam begini. Apa yang lo sembunyiin di belakang?” Suara itu terdengar lagi. Arvind muncul, wajahnya kini lebih tajam dari biaSanaza. "Aduh... sakit," aku meringis saat dia menarik tanganku yang berdarah. Dia membawaku masuk kembali ke kamarnya. Tidak dengan kelembutan, tapi dengan d******i khasnya. “Gue gak tahu harus berapa kali lagi ngurusin lo. Apa lo sengaja nyakitin diri sendiri biar dapet perhatian gue?” Suaranya keras, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang hampir menyerupai... kepedulian? Aku diam. Aku tahu, seangkuh dan sedingin apapun dia, dia tetap seorang dokter. Dan luka ini harus diobati. Jarum suntik itu masuk ke kulitku. Aku menahan napas. Menggigit bibir. Bukan karena takut—tapi karena malu. Emosi ini menumpuk. Aku tidak tahu apa yang lebih menyakitkan—luka fisik atau luka hati yang dia tinggalkan. “Sudah,” katanya akhirnya, melepaskan tanganku dengan kasar. Aku menahan erangan pelan. Ketegangan kembali mengalir di udara. “Terima kasih, Dokter,” ucapku. Kata-kata itu terasa seperti serpihan duri yang kucabut sendiri dari dadaku. ** Tangan kiriku masih nyeri, meski dibalut rapi oleh Arvind. Tapi setidaknya... dia tidak pergi begitu saja. Ada sisi dirinya yang menolak membiarkanku hancur. Sekalipun itu diselimuti oleh amarah dan sindiran. Aku berjalan perlahan, mencoba keluar dari kamar. Tapi belum sempat mencapai pintu... "Kenapa lo kabur lagi?" Suara itu lagi. Kali ini terdengar seperti desah napas di antara dua denyut jantung yang tak sinkron. "Aku cuma mau beli obat," jawabku datar. Tenang di luar, padahal dalam hatiku aku ingin berteriak. Tapi akhirnya, aku hanya diam. Karena kadang... diam adalah satu-satunya perlawanan saat semua kata sudah gagal membela diri. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD