Semakin Arvind memaksa dan merendahkanku, semakin dalam pula kebencian ini tumbuh. Cinta, seharusnya tidak menyakiti. Cinta itu melindungi, memeluk jiwa yang lelah, bukan malah menekan dan membuat seseorang merasa sesak. Tapi Arvind? Ia memperlakukanku seakan aku hanya wadah pembawa kantung bayi. Ia tidak pernah melihatku sebagai perempuan yang layak dicintai. Jadi, jangan salahkan aku jika aku terus menolaknya. Yang kulihat matanya hanyalah obsesi. Sebuah keinginan untuk menang. Untuk membuktikan bahwa ia bisa memiliki segalanya dengan kekuasaan yang ia punya. Bukankah itu kesombongan yang menyamar sebagai cinta? Bagaimana mungkin aku menyerahkan diri dan cinta ini pada tempat yang salah lagi? "Akan kubuktikan kalau kamu bisa takluk di hadapanku," ucap Arvind penuh keangkuhan. "Kamu

