"Aku hanya ingin hidup sederhana, yang penting anak-anakku bahagia," ucapku pelan, mengalihkan pandanganku dari laut ke wajah Bimo yang menatapku dalam. "Tentu saja, Sanaz. Siapa yang bisa menolak menikahi wanita secantik kamu? Aku mau, aku mau menikah denganmu. Ayo kita jalani semua seperti yang kamu mau," ujar Bimo dengan nada bersemangat, wajahnya tampak bersinar. Aku tersenyum, tetapi hatiku masih penuh keraguan. "Tapi aku harus jujur padamu. Aku lelaki miskin, Sanaz. Tak punya apa-apa. Harta nggak punya, tampang pun pas-pasan. Kamu yakin nggak keberatan?" tanyanya dengan nada tak yakin. Matanya seperti sedang menunggu jawaban yang bisa menghancurkan harapannya. Aku mengangguk pelan. Ada kebahagiaan yang mengalir perlahan ke dalam dadaku. Seperti beban berat yang selama ini mengika

