Aku Bukan Pion

1112 Words

“Kita akan ke rumah Sony dan Monik,” ucap Arvind dengan nada dingin—suara yang tak pernah mengenal ampun, tajam seperti bilah pisau yang menggores perlahan namun pasti ke kulitku. Aku sontak berdiri, napasku tercekat seolah ditahan oleh jari-jari tak kasat mata. “Apa? Tidak! Aku tidak mau!” Dia menatapku dengan sorot sinis, senyuman menyeringai menghiasi wajah tampannya yang tak pernah ramah. “Kenapa? Takut ketemu Sony kekasih gelapmu?” Darahku terasa seperti ditarik turun ke dasar bumi. “Itu rumah Monik! Rumah istri Sony! Kamu gila? Mau mempermalukanku di depan mereka?” Arvind hanya mengangkat bahu, santai seolah baru saja mengomentari cuaca. “Justru di situ tempat paling cocok buat orang sepertimu. Lagian, bukankah kita udah sah secara hukum? Apa salahnya gue kenalin pada ke keluar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD