. Aku berdiri di depan pintu, menyaksikan Arvind mengeluarkan mobil dari garasi. Wajahnya masih tegang, sorot matanya sinis menyapuku dingin sebelum ia pergi tanpa sepatah kata. Tak ada salam, tak ada penjelasan. Hanya suara deru mesin yang perlahan menjauh, meninggalkanku sendiri di rumah yang terlalu luas untuk satu jiwa. Sepi ini menggerogoti pikiranku. Ada begitu banyak perasaan berseliweran dalam d**a, seperti badai yang tak kunjung reda. Lagi-lagi, keinginan untuk kabur menyelinap masuk ke kepalaku. Tapi aku tahu, tak semudah itu lari dari kenyataan. Kupikir menikah akan sedikit membawa ketenangan, atau setidaknya menyamarkan luka-luka masa lalu. Tapi ternyata, pernikahan ini... justru menjelma seperti neraka kecil yang terus membesar. Baru beberapa minggu menjadi istrinya, Arvind

