Saat aku membuka mata, cahaya lembut dari jendela besar langsung menyilaukan pandanganku. Aroma laut yang segar menyeruak masuk lewat tirai tipis yang melambai pelan. Aku terbaring di sebuah kamar asing, namun terasa begitu tenang. Segalanya berwarna putih. Dinding, tirai, seprei semua bersih dan menenangkan. Tapi ketenangan itu segera berubah menjadi was-was ketika aku menyadari satu hal, aku berada di kamar pribadi Arvind. "Kamu sudah bangun. Ayo kita sarapan." “Pas Arvind ? Kenapa ka-“ Kalimatku mengantung, otakku seketika melihat gaun pengantin tergantung di depan lemari ‘Oh, Apa aku kembali menjadi istri laki-laki ini?’ “Kenapa? Apa kamu mengharapkan Sony yang di sini?” Suaranya terdengar begitu datar, tak berperasaan. Arvind berdiri di dekat jendela, siluetnya membingkai cahaya

