Ijab Kabul di Tengah Luka

1115 Words

Ijab Kabul di Tengah Luka Arvind membawaku masuk ke dalam kamar hotel yang dingin dan sunyi. Langkahnya cepat, matanya tajam, namun di balik sorot itu, ada kelelahan yang tak ia sembunyikan. “Jangan bilang kamu masih mengharapkan kakak iparku kembali, Sanaz. Hubungan kita sudah membaik, jangan mulai lagi dengan pertengkaran,” ucapnya pelan namun tegas. Aku menatapnya, mencoba tetap tenang. “Aku tidak begitu, Pak Arvind.” ‘Sungguh, aku merindukan Sony. Pelukannya, suaranya, caranya memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti barang buangan. Lima tahun bukan waktu singkat. Semua tentangnya terasa nyata dan hangat. Beda dengan dinginnya tatapan pria di depanku ini’. “Mata kamu nggak bisa bohong, Sanaz,” suaranya lirih, tapi setiap katanya seperti belati. “Matamu bilang kamu masih me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD