Tubuhku masih terjepit di dinding balkon hotel. Satu tangan Arvind menahan kedua lenganku di atas kepala, sementara tangan lainnya dengan lembut mengusap perutku. Tatapannya menusuk, sorot matanya seperti bara yang tak padam, dan lumatan bibirnya di bibirku semakin liar. Aku berusaha menolak, mengalihkan wajahku ke samping, tapi ia tak menghentikan perbuatannya. Justru kini, bibir panasnya mendarat di lekuk leherku. “Arvind, hentikan!” bentakku marah. “Aku bukan wanita yang bisa seenaknya kamu cium dan sentuh semau jidatmu!” Tawanya meledak, kecut, namun entah kenapa, seolah ia menikmati kemarahanku. Tawanya justru menyulut api yang sudah membara dalam dadaku. “Menjauh dariku!” teriakku, napasku memburu. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong tubuhnya. Tapi, sama saja. Ia sepe

