Di sebuah ruangan gelap, terdapat satu orang lelaki dewasa yang sedang mengerang kesakitan setelah cambuk panjang itu mengenai punggung telanjangnya. Pria itu mengerang lagi dan lagi tatkala rasa perih juga sakit itu menjalar begitu hebatnya ke seluruh bagian tubuh saat cambukan itu bertubi-tubi datang mengenai tubuhnya yang tidak terlindungi sehelai benang pun. Seorang lelaki paruh baya dengan cerutu yang ada di mulutnya menyaksikan kejadian itu dengan wajah datar, ia duduk di sebuah kursi yang tersorot sedikit cahaya dari jendela kecil yang ada di bagian atas sebagai satu-satunya cahaya yang ada. “Ampun tuan, maafkan saya. Saya minta maaf,” suara pria itu terdengar serak dan lirih. Wajahnya sudah tidak lagi berbentuk dengan luka memar juga darah yang terlihat ada di mana-mana. Ramb

