“Oma, Anya?” Aleena menelan ludah dengan gugup. Tiba-tiba saja napasnya seperti tercekat dengan degub jantung yang berdetak hebat. Kenapa wanita baya itu ada di sana? Duduk diam dengan tatapan tajam juga aura mematikan yang seolah ditujukan untuknya. Bukankah Aksa bilang jika yang akan berkunjung hanya ibunya saja. Tapi ini apa? “Mau sampai kapan kamu berdiri di situ?” suara Oma Anya terdengar dingin dan ketus. “Oh, iya.” Aleena yang seolah tersadar segera beranjak mendekat, menyalami dia orang tua di hadapannya dan tersenyum kikuk. “Mama sama Oma apa kabar? Seharusnya bilang aja kalau mau datang, biar Aleena bisa jemput,” ucap Aleena memulai percakapan. “Baik, sayang. Nggak perlu repot-repot, kata Aksa kamu juga kan kerja.” Aleena mengangguk saja membenarkan. Kemudian wanita yang

