Bel rumah berbunyi nyaring. Aksa yang saat itu tengah memasak air guna membuat kopi menoleh sebentar. Itu pasti Selena. Batinnya. “Aksa, tolong bukain pintu dong,” teriak Aleena dari arah ruang televisi. Beberapa saat yang lalu wanita itu meminta Aksa untuk membantunya pindah. Ia merasa sungkan apabila menyambut Selena di kamar. Dengan malas juga langkah kaki yang sengaja ia buat super lamban, Aksa berjalan ke arah pintu depan. Jika boleh, ia ingin kabur. Malas harus bertemu dengan wanita itu. Lagi pun, kenapa Selena bisa berteman dengan Aleena. Aksa yakin betul, ia yakin seratus persen jika Aleena dan Selena tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Pertemuan pertama mereka adalah saat makan siang di perusahaan Aksa beberapa waktu yang lalu. “Kamu jalan atau apa sih? Lama banget, g

