Aleena duduk terdiam di atas sofa dengan dua tangan menyangga dagu. Raut terkejut juga ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya. “Minum dulu, nak,” Ibu Shafira datang dengan segelas air, meminta sang Puteri untuk meminumnya agar sedikit lebih tenang. Aksa baru saja kembali setelah membereskan paket aneh tersebut. Pria itu berjalan ke arah kamar mandi dan mencuci tangan lebih dulu sebelum turut bergabung bersama istri dan sang ibu mertua. “Gimana, Sa? Ada petunjuk?” tanya Ibu Shafira tanpa basa-basi. Aksa menggeleng, pria itu mengarahkan tatapannya ke arah sang istri dan menggengam tangannya erat. “Nggak ada, bu. Pun di paket tersebut nggak tersemat siapa nama pengirimnya. Cuma ada alamat kita sebagai penerima,” kata Aksa lirih. “Kalian nggak ada musuh, kan? Ibu takut kalau hal ini

