Bibirnya tersungging, lipstik merah yang tersapu di bibirnya menambah kian panas penampilan wanita dengan dress merah pendek di atas lutut itu. Sekali lagi ia menyemprotkan sebotol parfum ke area tengkuk, mematut diri di depan cermin juga membenarkan rambutnya yang sengaja ia urai bebas. Berbalik, ia melangkah dengan anggun, mengambil tas selempang yang tergeletak di atas ranjang juga sebuah amplop berwarna coklat. Senyumnya terkembang kian lebar tatkala matanya menyorot ke arah televisi yang sedang menampilkan satu berita soal siapa pria tanpa identitas yang ditemukan tidak bernyawa di pinggir jalan. Wajahnya tersenyum puas, merasa bangga dengan apa yang sudah ia lakukan. “Tidak ku sangka kamu sebegitu bodohnya, Arya. Siapa bilang aku benar-benar bersedia bekerja sama denganmu jika m

