LEPAS KENDALI.

2378 Words
Kami  bercinta  entah berapa  kali semalam,baru  berhenti tepat ketika  ayam berkokok. Ash tidak  hanya partner seks yang hebat. Tapi  dia adalah nyawa, unsur, dan segalanya  dalam hidupku. Itulah arti Ash bagiku, dan  begitu juga sebaliknya.       Kemudian  kami tertidur  dan terbangun ketika  room service  mengetuk pintu tepat menjelang  sore hari. Tertawa pada penampilan  kami, dan melanjutkan sesi ‘memandikan’. Percintaan  didalam bath-up dengan Ash selalu menyenangkan. Setelah  selesai berpakaian dan keluar untuk mencari makan, matahari  mulai terbenam.      Sebetulnya  kami bisa saja  menyantap makanan  gratis yang disediakan  pihak Hotel, apalagi tempat  kami menginap mendapat bintan  4 sehingga tidak main-main pelayanan  mereka. Namun ini kan San Diego! Dan aku  ingin mencicipi semua pengalaman yang tak pernah  kudapatkan selama duapuluh tahun hidupku. Hingga detik  ini.      Kamipun  memutuskan  mengunjungi kedai  olahan kalkun terlezat  atas petunjuk dari valley Driver,  Mr. Beam  namanya, kudengar  sudah berdiri sejak  generasi Kakeknya. Dan  benar saja, antrian sudah  melebar ketika kami berhasi  duduk disalah satu sudut kanan  ruangan dekat kaca menghadap pemandangan. Aku  bersyukur karena hanya memiliki pelayan pria, sehingga  lega karena tak harus melihat ‘adegan-pacarku-digoda-gadis-genit-yang-ingin-menjilat-penisnya-dibawah-meja’. Plus, mereka  semua tampan.      Namun  hal sama  tak berlaku  bagi Ash. Dia  jelas-jelas jengkel  dan menunjukkan sikap  protektif melebihi sebelumnya. Ash  pindah posisi dari duduk didepanku  menjadi disampingku, merangkulkan satu  tangan kekarnya pada bahuku, sementara yang  lain menopang wajahnya sehingga membuat siapapun  yang berusaha melihatku akan tertutupi oleh figurnya. Aku  tertawa pada tingkah berlebihannya, meskipun merasa senang.      “ Demi  Tuhan, bisa  tidak kamu menjadi  jelek sedikit!” tukasnya  gusar.      “ Aku  menganggap  itu sebagai  pujian...” godaku, jelas  merasa puas.      Ash  memutar  bola matanya. “ Hentikan  Ai. Kamu tahu aku bisa mencabut  jantung semua lelaki malam ini karena  telah meletakkan mata mereka pada p******a  dan pantatmu”      Kali  ini aku  merasa tak  nyaman. Menundukkan  wajah, melihat jika tak  ada yang salah dengan kaus  tanktop hitam serta celana jeans  pensil coklatku dipadu boot putih. Menengadah  lagi, mataku seakan bertanya pada Ash.      Menghela  nafas panjang, dia  meletakkan dahinya pada  keningku. “ Aku tak tahu mesti  bersyukur atau sedih karena pacarku  tak pernah menyadari betapa cantik, seksi, cerdas, dan  luar biasa dirinya...” ucapnya sungguh-sungguh.      Aku  terharu  pada ketulusan  Ash. Sejujurnya, aku  sadar jika secara fisik  aku paling menonjol diantara  kaumku. Meski tidak tinggi, namun  tubuhku ramping berlekuk. Tapi hei, salahkan  gen latin dari Ibuku, si mantan penyanyi terkenal  asal Spanyol. Vera Caracuga. Kulitku juga tidak terlalu  coklat meskipun genetika kedua Orangtuaku harusnya menghasilkan  anak berpigmen menyerupai warna kopi s**u. Sejujurnya, diantara semua  bagian badanku aku paling suka bulu mataku, karena lentik, lebat dan panjang  tanpa perlu dimodif. Dan bibirku, yang kata Ash, semungil tokoh kartun tweety dan  selalu berwarna semerah mawar. Oke, aku tengah menyombongkan diri.      Kami  harus sedikit  menjauh saat makanan  pesanan kami tiba. Aroma  pizza Beetato  Cheese ( toping  daging sapi, potato, jamur, dan ekstra  keju ), Chicken  mushroom Calzone, dan  Tuna  Spicy Calzone yang  semuanya porsi  besar. Plus satu  pitcher es lemon. Membuat  naga didalam perutku bermain  genderang kencang.       Ash  memberikan  sedikit jarak  untuk kami, dia  membiarkanku menyendok  satu suap penuh chicken  mushroom calzone  dan  mengunyahnya. Ash  tersenyum melihat tingkahku. Membuatku  mendelik padanya. “ Apa? Aku kelaparan?!” ujarku  sedikit kasar.      Ash  menggelengkan  kepalanya, mengambil  sepotong pizza dan membuat  gigitan besar, memperlihatkan barisan  gigi putih berkilat yang seperti pisau  penjagal. Aku tertawa saat noda saus memenuhi  mulutnya. Sebuah ide nakal terlintas dalam pikiranku. Mendekat, tanpa  mempedulikan pandangan sekitar lidahku membersihkan area luar mulutnya.      Ash  terkesiap, menatapku  bingung dan aku memberikan  senyum ternakal yang kupunya.       “ Seandainya  ular didalam perutku  sedang tidak kelaparan, aku  akan menarikmu kembali ke Hotel  sekarang juga...” candanya.      Mengerlingkan  satu mata, aku  menjawab. “ Well, tidak  bisa sayang. Jadwal kita  padat malam ini” *******************       The  Beam Code  adalah  salah satu  club paling asyik  yang pernah kudatangi. Selain  tempatnya seperti ditujukan untuk  kalangan atas ( Dimana kamu bisa masuk  hanya setelah memiliki kartu kuning. Dan  entah bagaimana caranya Ash bisa mendapatkannya  untuk kami setelah menarik salah satu petugas dibagian  dalam ) didalamnya disediakan bilik sebagai tempat duduk konsumen. Penerangannya  juga tidak cenderung gelap sepenuhnya dengan hanya warna-warna dari bola lampu  dilantai dansa. Melainkan disediakan lampu kuning pada setiap bilik. Alat peredam musik  juga dipasang disepanjang bilik, suatu kelebihan tersendiri.       Seorang  pelayan pria  mengantarkan kami  menuju bilik 23 dilantai  dua. Ini salah satu VVIP  milik  mereka. Ash  sepertinya kesal sekali  terhadap si pelayan karena, yeah, untuk  kali ini pacarku benar, sejak tadi tak berhenti  menatap payudaraku. Dulu aku gerah setiap kali ada  laki-laki b******k yang berbuat seperti itu, tapi dengan  keberadaan Ash disampingku, aku jauh lebih tenang.      Ash  memesankan  kami satu botol  anggur meskipun aku  minta cocktail  yang  tidak dia  gubris.       “ Apa  yang kamu  lakukan pada  si petugas tadi?” tanyaku  penasaran.      Ash  menatapku  dengan pandangan Oh-kamu-sudah-tahu-jawabannya. Dan  aku langsung memelototinya. “ Ash! Kamu tahu kan kita  tidak boleh sering-sering mempergunakan permainan pikiran. Mereka  bisa  merasakan  keberadaan ‘jalur’  kita dan menangkap kita”  kataku, mendadak panik.      Jemari  Ash membelai  lembut lenganku, memberikan  getaran ketenangan seperti bius  untukku. “ Tenanglah Ai. Aku cukup  kuat sehingga bisa membangun ‘tembok’. Memangnya  kamu pikir aku tak tahu mengenai hal itu”      Menelan  ludah susah  payah aku melanjutkan. “ Maaf, aku  hanya cemas. Maksudku...” menghela nafas  panjang, menengadahkan kepala menatap langit-langit  dimana banyak terdapat kelipan lampu kecil merah dan  biru menyala bergantian sepanjang atap club. Memejamkan mata, rasa  sesak didadaku yang telah lama kupendam mulai menyeruak perlahan. “ Cepat  atau lambat mereka akan menemukan mereka, pada akhirnya aku akan ditangkap  dan kembali dipaksa pulang ke ‘kandang ’ ”      Untuk sesaat  suasana hening  sejenak, lalu aku  merasakan kedua tangan  kekar Ash merangkum wajahku, menarikku  hingga leherku berputar kekanan. “ Buka matamu” perintahnya.      Aku  melakukannya. Terkesiap  karena mendapati sepasang  iris dimalam indah penuh kerlip  bintang berbalik memberiku tatapan  menantang dan dipenuhi tekad membara. Ash  memberiku ekspresi wajah paling serius yang  bisa dimilikinya.      “ Dengarkan  aku baik-baik  Aiyana Achak. Tak  peduli harus berapa  banyak nyawa kuberikan, takkan  kubiarkan siapapun menyentuh atau  memaksamu melakukan yang tidak pernah  kamu inginkan. Jadi mulai detik ini, jangan  pernah mengkhawatirkan apapun lagi karena lelakimu  ini akan selalu mengikutimu meski harus ke ujung dunia. Dan  satu lagi, berhenti merusak suasana indah yang sudah kita bangun. Aku  tak mau menghabiskan satu malam mengenai perdebatan t***l mengenai ketakutan  akan masa depan ”        Dia  benar, harusnya  tak ada yang perlu  kutakuti selama kami bersama. Mengulum  senyum, aku berkata sambil menarik tanganku  dan berdiri dari duduk. “ Ayo...”      Ash  memberiku  pandangan bingung. “ Mau  kemana?”      “ Ke  lantai  dansa tentu  saja. Kita kemari  untuk bersenang-senang  bukan, akan kuajari padamu  cara menari yang baik” tantangku. Ash  tertawa, mengamit jemariku lalu melangkah  bersamaku.       Pada  awalnya, lantai  dansa tak terlalu  penuh karena pengunjung  belum banyak, namun semakin  malam semakin sesak club ini. Disc  Joker  telah  memutar  lagu Rihanna, itu  menjadi musik dansa  ketiga kami dan aku sudah  terhanyut semakin dalam dengan  intensitas diantara kami berdua. Untuk  pertama kalinya, aku tak merasa cemburu  sama sekali atas perhatian yang didapatkan  kekasihku dari para perempuan disekitar kerumunan.      Ash  memang  sangat tampan. Kaos  coklat lengan pendek  ketatnya semakin menonjolkan  isi didalamnya. Tubuh penuh otot, perut  rata, serta bahu bidang menggoda. Celana jeans  biru tua yang dikenakan sangat sesuai dengan kaki  besar dan tegapnya. Ash melingkupi dengan kedua tangannya, betul-betul  menjagaku dari godaan para hidung belang yang menurut Ash, sudah sejak  awal kami masuk ke tempat ini seakan memberikan target padaku.      Ketika  lagu keempat  dibunyikan, irama  semakin kencang. Aku  dan Ash iseng menari  modern dicampur salsa yang  pernah kami pelajari saat masih  kecil. Membuat kami menjadi pusat perhatian. Para  pedansa lain sampai menghentikan aktifitas mereka dan  bergerak mundur membentuk lingkaran dengan kami berada ditengahnya. Ketika  merasa lagu mulai berakhir, aku membuat gerakan bersalto satu kali diudara  yang membuat pengunjung lain menahan nafas, dan Ash berhasil menangkapku tepat  waktunya. Aku jatuh dalam posisi leher pada punggung tangan kanannya sementara tangan  kirinya menyangga tubuhku.      Tepuk  tangan dan  siulan riuh menggema. Terengah-engah, penuh  keringat. Ash membantuku berdiri secara lembut. Mata  kami bertemu dan dia menciumku satu kali membuat teriak  menggema. Ash melepaskan diriku, menoleh mereka semua lalu membuat  gerakan tangan memutar diudara sambil membungkuk, berkata. “ Terima kasih”      Aku  tertawa  terbahak. Ash  memelukku pinggangku, kami  sudah hendak kembali ke bilik  saat dia berbisik ditelingaku. “ Naiklah  duluan, akan kuambilkan minuman ”       Mengangguk, kakiku  melangkah menuju susuran  tangga melingkar, dimana sudah  dipenuhi banyak sekali anak muda  berkerumun.Mendadak, sebuah tangan dengan  keras mencengkram lengan kiriku, membuatku  tertarik ke pojokan kiri tangga. Meskipun terkejut  tapi aku tak langsung melayangkan tinju, sebab mengira  itu Ash.      “ Halo  manis, wah  tak kuduga ternyata  dari dekat kamu lebih  cantik ya...”      Sial! Itu  bukan suara  Ash! Ash tidak  cempreng dan berbau  bir murahan seperti sosok  didepanku. Seorang pemuda yang  kuduga seorang mahasiswa angkatan  baru, bertubuh berotot namun langsung  kutahu hanya dari hasil latihan gym semata,sebab  cengkramannya lemah ditanganku. Rambutnya pirang pucat, keriting  pendek namun berantakan. Persis model potongan salah satu vokalis  boyband idola anak muda asal Inggris yang tengah mendunia.      “ Sebaiknya  lepaskan cengkramanmu  Nak, atau pacarku akan  menendang pantatmu hingga  tubuhmu melayang ke Colorado”  ujarku memberikan mimik muka serius.      Pemuda  itu tertawa  keras, menoleh  pada kedua temannya  disampingnya, aku sendiri  tak tahu sejak kapan mereka  disana. Saat menoleh lagi padaku, sepasang  mata merahnya akibat bir memandangku penuh  nafsu menjijikkan.       “ Oh, ayolah  seksi. Sesungguhnya  kamu sangat menggairahkan  jika marah. Jadi, daripada buang-buang  waktu berpura-pura tidak tertarik padaku  sebaiknya ikut saja bersenang-senang bersamaku...”      Lalu, satu  tangannya yang  bebas berusaha meraba  payudaraku. Sialan!      Aku  sudah  bersiap  mengangkat  tanganku yang  lain untuk meninju wajahnya. Sayangnya  seseorang telah mendahuluiku untuk memberikan  pukulan telah disamping wajah kirinya. Menyebabkan  pemuda pirang tersebut terjungkal jatuh hingga menatap  undakan tangga. Tanpa perlu menoleh aku sudah tahu siapa  pelakunya.      Ash  berdiri  dibelakangku, wajahnya  sangat-amat-merah dalam  arti sebenarnya. Dadanya naik  turun, kedua tangannya terkepal  erat digenggamnannya. Nafasnya memburu  dan amat cepat.       Pacarku  betul-betul  marah, dan dia  sangat menakutkan.       Seketika  keramaian disekitar  kami berhenti. Waktu seakan  ditarik dari tempatnya. Kedua teman  si pemuda pirang bodoh itu bahkan terlalu  terkejut untuk bisa membantu temannya berdiri. Tapi  tak perlu, sebab dalam satu gerakan cepat Ash telah  menarik bajunya, membuatnya berdiri agar dapat menghajar  si pirang lebih leluasa.      Pada  awalnya  aku membiarkan  itu terjadi. Senang  rasanya melihat orang  yang pantas mendapat hukuman  diberi pelajaran. Namun setelah  beberapa saat Ash tak juga berhenti, pekikan  disekitarku semakin bertambah keras, saat sadar, DJ  bahkan menghentikan musiknya. Beberapa penjaga yang berusaha  melerai juga justru mendapat bogeman keras dari Ash. Teman-teman  si pemuda apalagi, dengan gampang dijatuhkan keatas lantai hingga kesulitan  untuk bangkit.      Saat  si pirang  dilemparkan ke  tengah lantai dansa, sadarlah  aku jika Ash telah kehilangan  kendali. Ini betul-betul gawat.     “ Hentikan  dia!! Atau pemuda  itu bisa mati!” teriak  seorang wanita disampingku. Tanpa  perlu menoleh aku tahu pada siapa  kalimat itu ditujukan.      Aku  berlari  menghampiri  Ash, meneriakinya  sekuat tenaga, namun menghentikan  kaum kami saat sedang marah hanya  dari omongan saja adalah tindakan bodoh. Aku  memekik ketika Ash melemparkan pemuda pirang itu  ke lantai entah untuk keberapa kalinya. Wajahnya berantakan, darah  memenuhi mukanya. Tanpa berpikir dua kali aku berlari memutar dan berhenti  tepat didepan Ash, diantara dia dan ‘si korban’.      Mataku  menatap nanar  pemandagan dihadapanku. Sepasang  iris Ash telah berubah menjadi orange  keemasan sepenuhnya. Sial! Sebentar lagi dia  bisa saja membuka identitas kami semua didepan  banyak orang.      Ash  memandang  tepat pada  wajahku, namun  melalui kedua pupilnya  yang melebar dan menatapku  penuh kebencian, aku sadar dia  bahkan tak tahu aku dihadapannya.      Dengan  terpaksa  aku melayangkan  tinjuku sekeras kubisa  hingga mengenai rahangnya. Diluar  dugaanku, pukulan itu membuatnya terpelanting  ke samping kanan hingga terjatuh. Sekarang semua  orang didalam club ini menjerit kencang, diikuti suara  debuman tubuh Ash.      Terengah-engah, alter  egoku yang lain berhasil  meredam emosiku agar tidak  berubah menjadi Ash. Atau setahuku  selama ini, memang takkan pernah bisa.      Suasana  hening sejenak. Semua  orang menunggu detik-detik  ketegangan. Ketika tubuh Ash  mulai bergerak perlahan. Ash bangkit  berdiri seperti gerakan lambat dalam film-film. Ketika  wajahnya kembali memandangku, ekspresi terkejut terpancar  darinya. Namun warna matanya sudah kembali normal dan itu  melegakanku.      “ Kita  pergi dari  sini “ bentakku  kesal, menarik kasar  tangannya. Untungnya rasa  maluku sudah lama hilang jika  tidak, aku pasti salah tingkah atas  semua kejadian ini. Serta segala tatapan  menuduh dan ketakutan yang ditujukan banyak  orang pada kami. Ash sendiri untungnya, mengikutiku  tanpa banyak bicara. Bahkan petugas sekalipun tak cukup  berani untuk mencegah kepergian kami atau sekedar meminta  ganti rugi pada pacarku karena telah dilukai.       Kami  sudah sampai  dilahan parkir ketika  Ash menyentak peganganku  dengan kasar dari lengannya. Menghentikan  langkah, aku memutar bola mata tanda lelah  lalu membalikkan tubuh hingga menghadapnya.      “ Kenapa  kamu memukulku? Aku  hanya membela kehormatanmu  dan kamu malah menghajarku?!” suaranya  serak karena menahan amarah. Kedua matanya  juga memerah. Jelas dia sakit hati.      Bersedekap, aku  menjawab. “ Terimakasih  karena telah membelaku. Namun asal  kamu tahu, beberapa menit lalu nyaris  saja kamu membongkar rahasia tergelap dunia  pada manusia. Aku harus menghentikanmu sebelum  kamu bertransformasi didepan mereka semua dan menciptakan  kepanikan massal. Dan menurut pengalamanku, kata-kata takkan  bisa semudah itu menghentikan amarahmu”      Kedua  tangan Ash  terkepal erat  disamping pahanya, nafasnya  naik turun sangat cepat dan  aku benar-benar mencemaskan kondisinya. Melangkah  mendekatinya, kuulurkan kedua tanganku untuk merangkum  pipinya, dimana jenggot pendek-pendek sudah mulai tumbuh.        “ Aku  melihatnya  akan bersikap  kurang ajar padamu  dan semua itu, meledak  begitu saja didalam kepalaku” akunya. Sepasang  iris gelapnya terpaku tajam menusuk diriku.       Ash  memejamkan  mata, meletakkan  kedua tangannya pada  pinggangku dan menarikku  kedalam pelukannya.       “ Aku  takkan minta  maaf karena sudah  menghajar b******n itu. Tapi  maafkan aku sebab hampir saja  lepas kendali seperti itu....”      Bisikan  Ash terdengar  tulus dari atas  puncak kepalaku. Menempelkan  kepalaku senyaman mungkin didadanya, aku  mendengar kedua jantungnya mulai berdetak  semakin normal setelah sebelumnya terasa seperti  dentuman bom nuklir.      “ Aku  tahu, dan  aku juga minta  maaf karena seharusnya bisa mengatasinya lebih awal. Tadinya  kupikir, dia, b******n itu, dirimu. Harusnya aku juga lebih  waspada. Maaf ” kataku sungguh-sungguh, membenamkan diri didalam  dadanya. Merasakan panas tubuh Ash, menikmati aroma kayu manis bercampur  keringat lembut dari dirinya.       Ash  menundukkan  kepala tepat  disaat aku menengadah. Mata  kami saling terkunci, jiwa kami  seakan bersatu didalam lautan tautan  pikiran yang baru saja kami buat. Untuk  beberapa saat kami membiarkan pikiran kami  menyelami perasaan satu sama lain, membuat jaringan  kekuatan dari dalam hati dan menyalurkannya melalui sistem  syaraf otak. Inilah salah satu kelebihan dari kaum kami untuk  bisa terhubung, sehingga dapat merasakan serta menjalin kekuatan batin  lebih kuat.      Aku  melihat  aura merah  tua Ash merengkuh  aura ungu muda milikku. Menjalinnya  menjadi satu tautan, melingkari diriku  dalam kehangatan. Dan ketika seutuhnya terlebur, kontak  itu menyatu secara batin tapi putus secara fisik.      ‘ Aku  mencintaimu  Ai. Aku bisa  gila karena memikirkan  tangan biadab lain menyentuhmu. Maafkan  aku...’        Bisik  pikiran  Ash padaku.      Menggelengkan  kepala, dengan mata  berbinar aku menjawab.  ‘ Cium  aku, dan  bawa aku pergi  dari sini’  lalu  kontak  terputus.      Menyeringai. Ash  meraih wajahku, membenamkan  bibir hangatnya pada milikku. Ciuman  kami kali ini murni lembut, penuh ketulusan. Saat  lidah kami mulai bertarung la-gi, Ash melepaskan dirinya, aku  sempat memprotes, lalu Ash secara mengejutkan menaikanku ke punggungnya dan  berlari cepat menuju mobil kami sambil berkata.      “ Sesuai  permintaanmu  tadi, tuan Putri ”      Membuatku  menjerit dan  terbahak-bahak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD