Kami bercinta entah berapa kali semalam,baru berhenti tepat ketika ayam berkokok. Ash tidak hanya partner seks yang hebat. Tapi dia adalah nyawa, unsur, dan segalanya dalam hidupku. Itulah arti Ash bagiku, dan begitu juga sebaliknya.
Kemudian kami tertidur dan terbangun ketika room service mengetuk pintu tepat menjelang sore hari. Tertawa pada penampilan kami, dan melanjutkan sesi ‘memandikan’. Percintaan didalam bath-up dengan Ash selalu menyenangkan. Setelah selesai berpakaian dan keluar untuk mencari makan, matahari mulai terbenam.
Sebetulnya kami bisa saja menyantap makanan gratis yang disediakan pihak Hotel, apalagi tempat kami menginap mendapat bintan 4 sehingga tidak main-main pelayanan mereka. Namun ini kan San Diego! Dan aku ingin mencicipi semua pengalaman yang tak pernah kudapatkan selama duapuluh tahun hidupku. Hingga detik ini.
Kamipun memutuskan mengunjungi kedai olahan kalkun terlezat atas petunjuk dari valley Driver, Mr. Beam namanya, kudengar sudah berdiri sejak generasi Kakeknya. Dan benar saja, antrian sudah melebar ketika kami berhasi duduk disalah satu sudut kanan ruangan dekat kaca menghadap pemandangan. Aku bersyukur karena hanya memiliki pelayan pria, sehingga lega karena tak harus melihat ‘adegan-pacarku-digoda-gadis-genit-yang-ingin-menjilat-penisnya-dibawah-meja’. Plus, mereka semua tampan.
Namun hal sama tak berlaku bagi Ash. Dia jelas-jelas jengkel dan menunjukkan sikap protektif melebihi sebelumnya. Ash pindah posisi dari duduk didepanku menjadi disampingku, merangkulkan satu tangan kekarnya pada bahuku, sementara yang lain menopang wajahnya sehingga membuat siapapun yang berusaha melihatku akan tertutupi oleh figurnya. Aku tertawa pada tingkah berlebihannya, meskipun merasa senang.
“ Demi Tuhan, bisa tidak kamu menjadi jelek sedikit!” tukasnya gusar.
“ Aku menganggap itu sebagai pujian...” godaku, jelas merasa puas.
Ash memutar bola matanya. “ Hentikan Ai. Kamu tahu aku bisa mencabut jantung semua lelaki malam ini karena telah meletakkan mata mereka pada p******a dan pantatmu”
Kali ini aku merasa tak nyaman. Menundukkan wajah, melihat jika tak ada yang salah dengan kaus tanktop hitam serta celana jeans pensil coklatku dipadu boot putih. Menengadah lagi, mataku seakan bertanya pada Ash.
Menghela nafas panjang, dia meletakkan dahinya pada keningku. “ Aku tak tahu mesti bersyukur atau sedih karena pacarku tak pernah menyadari betapa cantik, seksi, cerdas, dan luar biasa dirinya...” ucapnya sungguh-sungguh.
Aku terharu pada ketulusan Ash. Sejujurnya, aku sadar jika secara fisik aku paling menonjol diantara kaumku. Meski tidak tinggi, namun tubuhku ramping berlekuk. Tapi hei, salahkan gen latin dari Ibuku, si mantan penyanyi terkenal asal Spanyol. Vera Caracuga. Kulitku juga tidak terlalu coklat meskipun genetika kedua Orangtuaku harusnya menghasilkan anak berpigmen menyerupai warna kopi s**u. Sejujurnya, diantara semua bagian badanku aku paling suka bulu mataku, karena lentik, lebat dan panjang tanpa perlu dimodif. Dan bibirku, yang kata Ash, semungil tokoh kartun tweety dan selalu berwarna semerah mawar. Oke, aku tengah menyombongkan diri.
Kami harus sedikit menjauh saat makanan pesanan kami tiba. Aroma pizza Beetato Cheese ( toping daging sapi, potato, jamur, dan ekstra keju ), Chicken mushroom Calzone, dan Tuna Spicy Calzone yang semuanya porsi besar. Plus satu pitcher es lemon. Membuat naga didalam perutku bermain genderang kencang.
Ash memberikan sedikit jarak untuk kami, dia membiarkanku menyendok satu suap penuh chicken mushroom calzone dan mengunyahnya. Ash tersenyum melihat tingkahku. Membuatku mendelik padanya. “ Apa? Aku kelaparan?!” ujarku sedikit kasar.
Ash menggelengkan kepalanya, mengambil sepotong pizza dan membuat gigitan besar, memperlihatkan barisan gigi putih berkilat yang seperti pisau penjagal. Aku tertawa saat noda saus memenuhi mulutnya. Sebuah ide nakal terlintas dalam pikiranku. Mendekat, tanpa mempedulikan pandangan sekitar lidahku membersihkan area luar mulutnya.
Ash terkesiap, menatapku bingung dan aku memberikan senyum ternakal yang kupunya.
“ Seandainya ular didalam perutku sedang tidak kelaparan, aku akan menarikmu kembali ke Hotel sekarang juga...” candanya.
Mengerlingkan satu mata, aku menjawab. “ Well, tidak bisa sayang. Jadwal kita padat malam ini”
*******************
The Beam Code adalah salah satu club paling asyik yang pernah kudatangi. Selain tempatnya seperti ditujukan untuk kalangan atas ( Dimana kamu bisa masuk hanya setelah memiliki kartu kuning. Dan entah bagaimana caranya Ash bisa mendapatkannya untuk kami setelah menarik salah satu petugas dibagian dalam ) didalamnya disediakan bilik sebagai tempat duduk konsumen. Penerangannya juga tidak cenderung gelap sepenuhnya dengan hanya warna-warna dari bola lampu dilantai dansa. Melainkan disediakan lampu kuning pada setiap bilik. Alat peredam musik juga dipasang disepanjang bilik, suatu kelebihan tersendiri.
Seorang pelayan pria mengantarkan kami menuju bilik 23 dilantai dua. Ini salah satu VVIP milik mereka. Ash sepertinya kesal sekali terhadap si pelayan karena, yeah, untuk kali ini pacarku benar, sejak tadi tak berhenti menatap payudaraku. Dulu aku gerah setiap kali ada laki-laki b******k yang berbuat seperti itu, tapi dengan keberadaan Ash disampingku, aku jauh lebih tenang.
Ash memesankan kami satu botol anggur meskipun aku minta cocktail yang tidak dia gubris.
“ Apa yang kamu lakukan pada si petugas tadi?” tanyaku penasaran.
Ash menatapku dengan pandangan Oh-kamu-sudah-tahu-jawabannya. Dan aku langsung memelototinya. “ Ash! Kamu tahu kan kita tidak boleh sering-sering mempergunakan permainan pikiran. Mereka bisa merasakan keberadaan ‘jalur’ kita dan menangkap kita” kataku, mendadak panik.
Jemari Ash membelai lembut lenganku, memberikan getaran ketenangan seperti bius untukku. “ Tenanglah Ai. Aku cukup kuat sehingga bisa membangun ‘tembok’. Memangnya kamu pikir aku tak tahu mengenai hal itu”
Menelan ludah susah payah aku melanjutkan. “ Maaf, aku hanya cemas. Maksudku...” menghela nafas panjang, menengadahkan kepala menatap langit-langit dimana banyak terdapat kelipan lampu kecil merah dan biru menyala bergantian sepanjang atap club. Memejamkan mata, rasa sesak didadaku yang telah lama kupendam mulai menyeruak perlahan. “ Cepat atau lambat mereka akan menemukan mereka, pada akhirnya aku akan ditangkap dan kembali dipaksa pulang ke ‘kandang ’ ”
Untuk sesaat suasana hening sejenak, lalu aku merasakan kedua tangan kekar Ash merangkum wajahku, menarikku hingga leherku berputar kekanan. “ Buka matamu” perintahnya.
Aku melakukannya. Terkesiap karena mendapati sepasang iris dimalam indah penuh kerlip bintang berbalik memberiku tatapan menantang dan dipenuhi tekad membara. Ash memberiku ekspresi wajah paling serius yang bisa dimilikinya.
“ Dengarkan aku baik-baik Aiyana Achak. Tak peduli harus berapa banyak nyawa kuberikan, takkan kubiarkan siapapun menyentuh atau memaksamu melakukan yang tidak pernah kamu inginkan. Jadi mulai detik ini, jangan pernah mengkhawatirkan apapun lagi karena lelakimu ini akan selalu mengikutimu meski harus ke ujung dunia. Dan satu lagi, berhenti merusak suasana indah yang sudah kita bangun. Aku tak mau menghabiskan satu malam mengenai perdebatan t***l mengenai ketakutan akan masa depan ”
Dia benar, harusnya tak ada yang perlu kutakuti selama kami bersama. Mengulum senyum, aku berkata sambil menarik tanganku dan berdiri dari duduk. “ Ayo...”
Ash memberiku pandangan bingung. “ Mau kemana?”
“ Ke lantai dansa tentu saja. Kita kemari untuk bersenang-senang bukan, akan kuajari padamu cara menari yang baik” tantangku. Ash tertawa, mengamit jemariku lalu melangkah bersamaku.
Pada awalnya, lantai dansa tak terlalu penuh karena pengunjung belum banyak, namun semakin malam semakin sesak club ini. Disc Joker telah memutar lagu Rihanna, itu menjadi musik dansa ketiga kami dan aku sudah terhanyut semakin dalam dengan intensitas diantara kami berdua. Untuk pertama kalinya, aku tak merasa cemburu sama sekali atas perhatian yang didapatkan kekasihku dari para perempuan disekitar kerumunan.
Ash memang sangat tampan. Kaos coklat lengan pendek ketatnya semakin menonjolkan isi didalamnya. Tubuh penuh otot, perut rata, serta bahu bidang menggoda. Celana jeans biru tua yang dikenakan sangat sesuai dengan kaki besar dan tegapnya. Ash melingkupi dengan kedua tangannya, betul-betul menjagaku dari godaan para hidung belang yang menurut Ash, sudah sejak awal kami masuk ke tempat ini seakan memberikan target padaku.
Ketika lagu keempat dibunyikan, irama semakin kencang. Aku dan Ash iseng menari modern dicampur salsa yang pernah kami pelajari saat masih kecil. Membuat kami menjadi pusat perhatian. Para pedansa lain sampai menghentikan aktifitas mereka dan bergerak mundur membentuk lingkaran dengan kami berada ditengahnya. Ketika merasa lagu mulai berakhir, aku membuat gerakan bersalto satu kali diudara yang membuat pengunjung lain menahan nafas, dan Ash berhasil menangkapku tepat waktunya. Aku jatuh dalam posisi leher pada punggung tangan kanannya sementara tangan kirinya menyangga tubuhku.
Tepuk tangan dan siulan riuh menggema. Terengah-engah, penuh keringat. Ash membantuku berdiri secara lembut. Mata kami bertemu dan dia menciumku satu kali membuat teriak menggema. Ash melepaskan diriku, menoleh mereka semua lalu membuat gerakan tangan memutar diudara sambil membungkuk, berkata. “ Terima kasih”
Aku tertawa terbahak. Ash memelukku pinggangku, kami sudah hendak kembali ke bilik saat dia berbisik ditelingaku. “ Naiklah duluan, akan kuambilkan minuman ”
Mengangguk, kakiku melangkah menuju susuran tangga melingkar, dimana sudah dipenuhi banyak sekali anak muda berkerumun.Mendadak, sebuah tangan dengan keras mencengkram lengan kiriku, membuatku tertarik ke pojokan kiri tangga. Meskipun terkejut tapi aku tak langsung melayangkan tinju, sebab mengira itu Ash.
“ Halo manis, wah tak kuduga ternyata dari dekat kamu lebih cantik ya...”
Sial! Itu bukan suara Ash! Ash tidak cempreng dan berbau bir murahan seperti sosok didepanku. Seorang pemuda yang kuduga seorang mahasiswa angkatan baru, bertubuh berotot namun langsung kutahu hanya dari hasil latihan gym semata,sebab cengkramannya lemah ditanganku. Rambutnya pirang pucat, keriting pendek namun berantakan. Persis model potongan salah satu vokalis boyband idola anak muda asal Inggris yang tengah mendunia.
“ Sebaiknya lepaskan cengkramanmu Nak, atau pacarku akan menendang pantatmu hingga tubuhmu melayang ke Colorado” ujarku memberikan mimik muka serius.
Pemuda itu tertawa keras, menoleh pada kedua temannya disampingnya, aku sendiri tak tahu sejak kapan mereka disana. Saat menoleh lagi padaku, sepasang mata merahnya akibat bir memandangku penuh nafsu menjijikkan.
“ Oh, ayolah seksi. Sesungguhnya kamu sangat menggairahkan jika marah. Jadi, daripada buang-buang waktu berpura-pura tidak tertarik padaku sebaiknya ikut saja bersenang-senang bersamaku...”
Lalu, satu tangannya yang bebas berusaha meraba payudaraku. Sialan!
Aku sudah bersiap mengangkat tanganku yang lain untuk meninju wajahnya. Sayangnya seseorang telah mendahuluiku untuk memberikan pukulan telah disamping wajah kirinya. Menyebabkan pemuda pirang tersebut terjungkal jatuh hingga menatap undakan tangga. Tanpa perlu menoleh aku sudah tahu siapa pelakunya.
Ash berdiri dibelakangku, wajahnya sangat-amat-merah dalam arti sebenarnya. Dadanya naik turun, kedua tangannya terkepal erat digenggamnannya. Nafasnya memburu dan amat cepat.
Pacarku betul-betul marah, dan dia sangat menakutkan.
Seketika keramaian disekitar kami berhenti. Waktu seakan ditarik dari tempatnya. Kedua teman si pemuda pirang bodoh itu bahkan terlalu terkejut untuk bisa membantu temannya berdiri. Tapi tak perlu, sebab dalam satu gerakan cepat Ash telah menarik bajunya, membuatnya berdiri agar dapat menghajar si pirang lebih leluasa.
Pada awalnya aku membiarkan itu terjadi. Senang rasanya melihat orang yang pantas mendapat hukuman diberi pelajaran. Namun setelah beberapa saat Ash tak juga berhenti, pekikan disekitarku semakin bertambah keras, saat sadar, DJ bahkan menghentikan musiknya. Beberapa penjaga yang berusaha melerai juga justru mendapat bogeman keras dari Ash. Teman-teman si pemuda apalagi, dengan gampang dijatuhkan keatas lantai hingga kesulitan untuk bangkit.
Saat si pirang dilemparkan ke tengah lantai dansa, sadarlah aku jika Ash telah kehilangan kendali. Ini betul-betul gawat.
“ Hentikan dia!! Atau pemuda itu bisa mati!” teriak seorang wanita disampingku. Tanpa perlu menoleh aku tahu pada siapa kalimat itu ditujukan.
Aku berlari menghampiri Ash, meneriakinya sekuat tenaga, namun menghentikan kaum kami saat sedang marah hanya dari omongan saja adalah tindakan bodoh. Aku memekik ketika Ash melemparkan pemuda pirang itu ke lantai entah untuk keberapa kalinya. Wajahnya berantakan, darah memenuhi mukanya. Tanpa berpikir dua kali aku berlari memutar dan berhenti tepat didepan Ash, diantara dia dan ‘si korban’.
Mataku menatap nanar pemandagan dihadapanku. Sepasang iris Ash telah berubah menjadi orange keemasan sepenuhnya. Sial! Sebentar lagi dia bisa saja membuka identitas kami semua didepan banyak orang.
Ash memandang tepat pada wajahku, namun melalui kedua pupilnya yang melebar dan menatapku penuh kebencian, aku sadar dia bahkan tak tahu aku dihadapannya.
Dengan terpaksa aku melayangkan tinjuku sekeras kubisa hingga mengenai rahangnya. Diluar dugaanku, pukulan itu membuatnya terpelanting ke samping kanan hingga terjatuh. Sekarang semua orang didalam club ini menjerit kencang, diikuti suara debuman tubuh Ash.
Terengah-engah, alter egoku yang lain berhasil meredam emosiku agar tidak berubah menjadi Ash. Atau setahuku selama ini, memang takkan pernah bisa.
Suasana hening sejenak. Semua orang menunggu detik-detik ketegangan. Ketika tubuh Ash mulai bergerak perlahan. Ash bangkit berdiri seperti gerakan lambat dalam film-film. Ketika wajahnya kembali memandangku, ekspresi terkejut terpancar darinya. Namun warna matanya sudah kembali normal dan itu melegakanku.
“ Kita pergi dari sini “ bentakku kesal, menarik kasar tangannya. Untungnya rasa maluku sudah lama hilang jika tidak, aku pasti salah tingkah atas semua kejadian ini. Serta segala tatapan menuduh dan ketakutan yang ditujukan banyak orang pada kami. Ash sendiri untungnya, mengikutiku tanpa banyak bicara. Bahkan petugas sekalipun tak cukup berani untuk mencegah kepergian kami atau sekedar meminta ganti rugi pada pacarku karena telah dilukai.
Kami sudah sampai dilahan parkir ketika Ash menyentak peganganku dengan kasar dari lengannya. Menghentikan langkah, aku memutar bola mata tanda lelah lalu membalikkan tubuh hingga menghadapnya.
“ Kenapa kamu memukulku? Aku hanya membela kehormatanmu dan kamu malah menghajarku?!” suaranya serak karena menahan amarah. Kedua matanya juga memerah. Jelas dia sakit hati.
Bersedekap, aku menjawab. “ Terimakasih karena telah membelaku. Namun asal kamu tahu, beberapa menit lalu nyaris saja kamu membongkar rahasia tergelap dunia pada manusia. Aku harus menghentikanmu sebelum kamu bertransformasi didepan mereka semua dan menciptakan kepanikan massal. Dan menurut pengalamanku, kata-kata takkan bisa semudah itu menghentikan amarahmu”
Kedua tangan Ash terkepal erat disamping pahanya, nafasnya naik turun sangat cepat dan aku benar-benar mencemaskan kondisinya. Melangkah mendekatinya, kuulurkan kedua tanganku untuk merangkum pipinya, dimana jenggot pendek-pendek sudah mulai tumbuh.
“ Aku melihatnya akan bersikap kurang ajar padamu dan semua itu, meledak begitu saja didalam kepalaku” akunya. Sepasang iris gelapnya terpaku tajam menusuk diriku.
Ash memejamkan mata, meletakkan kedua tangannya pada pinggangku dan menarikku kedalam pelukannya.
“ Aku takkan minta maaf karena sudah menghajar b******n itu. Tapi maafkan aku sebab hampir saja lepas kendali seperti itu....”
Bisikan Ash terdengar tulus dari atas puncak kepalaku. Menempelkan kepalaku senyaman mungkin didadanya, aku mendengar kedua jantungnya mulai berdetak semakin normal setelah sebelumnya terasa seperti dentuman bom nuklir.
“ Aku tahu, dan aku juga minta maaf karena seharusnya bisa mengatasinya lebih awal. Tadinya kupikir, dia, b******n itu, dirimu. Harusnya aku juga lebih waspada. Maaf ” kataku sungguh-sungguh, membenamkan diri didalam dadanya. Merasakan panas tubuh Ash, menikmati aroma kayu manis bercampur keringat lembut dari dirinya.
Ash menundukkan kepala tepat disaat aku menengadah. Mata kami saling terkunci, jiwa kami seakan bersatu didalam lautan tautan pikiran yang baru saja kami buat. Untuk beberapa saat kami membiarkan pikiran kami menyelami perasaan satu sama lain, membuat jaringan kekuatan dari dalam hati dan menyalurkannya melalui sistem syaraf otak. Inilah salah satu kelebihan dari kaum kami untuk bisa terhubung, sehingga dapat merasakan serta menjalin kekuatan batin lebih kuat.
Aku melihat aura merah tua Ash merengkuh aura ungu muda milikku. Menjalinnya menjadi satu tautan, melingkari diriku dalam kehangatan. Dan ketika seutuhnya terlebur, kontak itu menyatu secara batin tapi putus secara fisik.
‘ Aku mencintaimu Ai. Aku bisa gila karena memikirkan tangan biadab lain menyentuhmu. Maafkan aku...’
Bisik pikiran Ash padaku.
Menggelengkan kepala, dengan mata berbinar aku menjawab. ‘ Cium aku, dan bawa aku pergi dari sini’ lalu kontak terputus.
Menyeringai. Ash meraih wajahku, membenamkan bibir hangatnya pada milikku. Ciuman kami kali ini murni lembut, penuh ketulusan. Saat lidah kami mulai bertarung la-gi, Ash melepaskan dirinya, aku sempat memprotes, lalu Ash secara mengejutkan menaikanku ke punggungnya dan berlari cepat menuju mobil kami sambil berkata.
“ Sesuai permintaanmu tadi, tuan Putri ”
Membuatku menjerit dan terbahak-bahak.