PELARIAN.
Aku mengetuk-ngetukkan jari diatas meja kasir. Sepasang mata abu-abuku melebar dari balik tudung jaket merah tuaku. Hidungku mendengus dan dengan sengaja mendesah panjang-panjang. Berharap pelayan kasir didepanku ini sadar jika kemarahanku dapat meledak sebentar lagi, apabila dia masih dengan sengaja memperlama proses pembayaran ini demi bisa memelototi pemuda dibelakangku. Yang bahkan tak menyadari sinyal kegenitannya sejak tadi.
Minimarket yang kudatangi memang sedang tidak ramai, itu sebabnya si penjaga bisa bertindak seenaknya seperti sekarang. Melalui bentuk tubuh, wajah, serta kelakuan, kutebak gadis berambut pirang perak sepunggung dikuncir kuda dengan papan nama bertuliskan ‘ Rebeca’ didepanku ini, pastilah masih remaja. Tebakanku, baru lulus SMA dan memutuskan tak melanjutkan ke perguruan tinggi karena masalah ekonomi. Sehingga harus terjebak bekerja di tempat pemberhentian utama wajib para pengendara yang hendak melewati Rute 66 dari Los Angeles, California menuju kemanapun.
Aku bisa saja simpatik padanya jika saja matanya tidak menyiratkan pikiran dari otak cabulnya tentang pria dibelakangku ini. Merasa kesal, aku membentaknya.
“ Permisi Nona, apa perlu aku sendiri yang melabeli semua barang belanjaanku pada alat barcode?” kataku dingin.
Rebeca si kasir tersentak, menoleh padaku, sadar jika telah terpergok. Pipinya bersemu merah. Tanpa menjawab ucapanku dia mempercepat pekerjaannya. “ Err. Semuanya $1.40,00 ”
Aku sudah hendak menarik dompetku dari saku celana samping,namun tangan kekar berkulit emas kecoklatan menahanku. Menjulurkan lembaran dolar pas kepada Rebeca, dengan mudahnya melewati atas kepalaku. Membuatku bertambah jengkel. Si kasir menerimanya, memberikan senyum lebar termanisnya dan aku merasa si pria juga membalasnya diatasku. Namun, mendadak dia dengan sengaja melingkarkan satu tangannya kesekeliling pinggangku. Membuat tawa diwajah berlian Rebeca menghilang seketika. Bagiku itu cukup sebagai tanda atas ‘kepemilikan’ diri kami satu sama lain.
Wajah kami bisa jadi mirip, dan itu yang membuat banyak orang menyalah artikan jika kami bersaudara. Pada awal perjalanan ini, kami cukup menikmatinya, karena artinya orang-orang takkan merasa curiga. Namun terkadang, memang diperlukan pengukuhan atas kondisi kami sebenarnya disaat-saat tertentu. Salah satunya sekarang.
Dimana pacarmu dipandangi dengan tatapan ‘ingin melahap’ dari seorang gadis remaja berdada besar yang mengenakan seragam berkerah putih tembus pandang ekstra ketat dan rok super pendek. Sungguh deh, sepertinya Rebeca ini memang ingin menjadi ikan teri dan disantap kucing sewaktu-waktu.
Ashiki Cheveyo, atau lebih suka dipanggil Ash. Memang lima tahun lebih tua dariku. Dia juga duapuluh centi lebih tinggi dariku yang hanya mencapai bahunya. Dengan tubuh kekar terpahat disetiap ujungnya. Kulit emas kecoklatan sempurna. Hidung berbentuk rajawali. Rahang persegi dibingkai rambut hitam pekat bergelombang mencapai leher. Serta sepasang iris coklat dengan warna keemasan bagian luar lingkarannya. Perempuan normal manapun yang berselera tinggi akan meneteskan air liur melihatnya.
Salah satu kebanggaan sekaligus kelemahanku.
Ash dengan enteng mengangkat tiga kantong plastik besar belanjaan kami dengan satu tangannya yang masih kosong. Tanpa berbasa-basi lagi menarik pinggangku dan berjalan bersama keluar dari minimarket. Suasana area pom bensin dan rest area masih amat ramai meskipun jarum pada jam tangan karet merahku telah menunjukkan pukul 22.00 lebih.
Ash melepaskan pelukannya saat kami tiba didepan mobil Chevrolet kuning kelu-aran awal tahun 2000-an, miliknya. Memasukkan belanjaan kebagian jok belakang lalu menutupnya pintunya cukup keras. Ash sempat memandangi wajahku sesaat, mencoba menilai perasaanku melalui mata batinnya seperti biasa. Dalam satu gerakan cepat dan tanpa antisipasi dia menarikku kedalam pelukannya dan bibir panasnya menghujamkan ciuman hebat kedalam bibirku.
Mendesah. Kutarik kerah jaket kulit hitamnya, mengalungkan kedua tanganku pada lehernya dan membalas ciumannya. Lidah kami bertarung. Dan tanpa mempedulikan tatapan mata disekitar kami, dengan berani dia meletakkan satu tangannya pada p******a kiriku dan meremasnya keras. Membuatku harus menggigit bibir bawahnya.
Sebuah kesadaran membuatku berhasil menahan diri. Mundur dari ‘pertarungan ini’. Sama-sama terengah, dengan wajah semerah kepiting rebus kami berdua tertawa bersamaan.
“ Jadi, masih mau cemburu Miss. Achak?”
Aku mencubit d**a Ash, dan dia pura-pura kesakitan. “ Hentikan menyebut nama belakangku. Aku paling tak suka dipanggil begitu “
Ash tersenyum lagi, sepasang lesung pipitnya muncul dan dia terlihat sangat menawan. Dia selalu membuatku memerah setiap kali melakukan itu. Tangannya mengamit tanganku lalu membantuku masuk ke kursi penumpang depan. Saat memakaikan sabuk pengaman, dia berbisik tepat diluar daun telingaku. Yang membuat setiap sarafku bergejolak akibat desahan lembut suaranya.
“ Aku ingin kita cepat-cepat sampai di Hotel” kemudian menjauhkan wajahnya dariku sambil mengulum senyum penuh makna. Puas telah membuat jantungku berdetak dengan kecepatan pembalap diarena F1.
****************
Ash menjatuhkan semua barang belanjaan kami begitu saja diatas lantai kamar Hotel. Lalu meraihku yang berjalan didepannya untuk tadinya meletakkan tasku, ke dalam pelukannya. Aku tertawa melihat betapa mudahnya pria itu meraihku keatas bahunya dan membawaku keatas ranjang double queen bed .
Aku terkikik geli saat Ash dengan mudahnya melucuti semua kain pada tubuhku. Menelanjangiku. Saat aku hendak melakukan yang sama, dia membuat gerakan dengan jarinya, tanda melarangku. Aku merengut, dan secepat kibasan angin dia sudah bersih dari baju ditubuhnya.
Mataku dimanjakan oleh gambaran sosok laki-laki nyaris sempurna dihadapanku. Kulitnya berkilauan oleh cahaya kekuningan lampu kamar Motel. Rambut gelapnya terlihat seperti berlian hitam murni. Kusapukan tanganku lembut mulai dari bahunya yang tegap. Terus turun menelusuri alur otot-otot kekar hasil latihan dari olahraga dan berburunya sejak masih kanak-kanak. Jemariku meluncur mengikuti alur, seperti arus air di kolam tenang.
Semua bulu halus Ash berdiri ketika aku mulai memasuki daerah pinggang. Dia memejamkan mata, tampak menikmati setiap detik dari sentuhanku. Hidungnya bernafas pelan-pelan, menyesap aroma melati dari tubuhku. Tanganku mulai bermain nakal ketika mencapai pinggul menuju tulang belikatnya. Terdapat tanda lahir menyerupai tato berwarna merah berbentu bulu disana. Itu benar-benar gambar alami darinya. Kesedihan selalu menyerangku setiap kali melihatnya.
Ash menyadari kediaman mendadakku. Membuka mata, sepasang iris langit malam berbintang terang melelehkanku. Mendekatkan wajahnya, ekspresi khawatir terpasang didalam matanya. “ Ada apa sayang?”
Bisikannya tulus, namun entah kenapa, hormon estrogenku yang tengah mencapai puncak menjadi bergejolak mendengarnya. Menggelengkan kepala, aku berusaha mengembalikan fokusku. Tapi Ash sudah terlanjur tahu. Sedikit merenggangkan tubuhnya, aku langsung menarik lehernya dengan kedua tanganku dan mencium bibirnya dengan kuat, penuh gairah. Pada awalnya Ash terkejut, berusaha melawan. Namun berhenti saat kedua kakiku melilit pinggangnya, perutku menggesek kulit halus kejantanannya yang telah mengeras dan membesar sejak dibawahku.
Ash mengumpat, sadar kebutuhan biologis kami butuh diledakkan secepatnya.
“ Aku membutuhkan kejantananmu yang lezat itu memasuki lubangku Ash....” kataku c***l dan keras, meletakkan kedua tanganku pada bahunya.
Mata gelap Ash kini berkilat penuh perhitungan. Seulas senyum licik tersungging pada wajahnya. “ Kalau begitu aku harus memenuhi keinginanmu bukan. Tuan Putri”
Aku tertawa. Tapi tertahan ketika dia menaikkan panggulnya pada diantara kakiku. Ash menundukkan wajahnya perlahan,menciumku penuh ketulusan. Tanpa antisipasi menggoyangkan pinggulnya, meluncurkan miliknya menembus lubang kewanitaanku. Diawal begitu perlahan dan lembut. Nyaris membuatku berteriak padanya karena kegilaan, keinginan, dan hawa nafsu. Hingga seluruh miliknya terkubur didalamku.
Hatiku bersorak riang ketika dari mulut lezatnya mengatakan. “ Aku mencintaimu Ai.....”
Aku membungkus lenganku disekeliling bahunya dan kakiku erat pada pinggulnya. Mendekapnya erat. Kening kami saling menempel. “ Aku juga mencintaimu Ashku yang jelek....” kataku diikuti air mata bahagia.
“ Katakan itu nanti setelah aku selesai denganmu”
Dengan itu, dia mengeluarkan miliknya dan kali ini menembusku lebih cepat. Kugerakkan pinggulku, memompanya naik turun, meremas disekeliling kejantanannya. Dia mencengkram kuat dan keras kedua pantatku, dan aku mengangkat pinggulku dengan cepat menyebabkan miliknya menembus bagian-bagian tak terjamah dariku. Kami sama-sama mengerang penuh kenikmatan.
“ Ya Tuhan Ai, kamu begitu nikmat....aku...sang...at...mencintai...mu....” ujarnya terbata-bata dan keras.
Mendadak Ash berubah brutal. Dia mencengkram pinggulku lagi dan mendorongku keluar masuk dengan sangat keras serta ekstrem. Hal yang takkan pernah bisa diterima wanita manusia pada normalnya. Tapi aku sangat menyukai permainan kami, dan well, aku kan bukan gadis normal.
Pada gerakan terakhir dia kejantanannya mendorong sekeras, sekencang, dan sedalam dia bisa. Dia mengirim kami sama-sama ketepian, saling menjeritkan nama. Benihnya tumpah didalamku, tak lama kemudian Ash ambruk disamping kananku. Terengah-engah. Tangan kanannya menyelubungi payudaraku.
Aku menoleh padanya, mencoba menggerakkan pinggulku yang mendapatkan rasa lelah penuh kenikmatan. Dan itu sangat indah karena bersama Ash. Bergelung didalam tubuh kekarnya. Mencium aroma seks bercampur kayu manis khasnya, lalu mengingit putingnya hingga dia mengerang. Kedua jantungnya berdebar secepat dua jantung milikku.
Ya, itulah kami. Makhluk dengan dua jantung dalam satu tubuh. Namun alih-alih malu, kaum kami justru amat bangga.
“ Pengendalian dirimu sudah jauh lebih baik sayang” bisiknya sambil mengecup puncak dahiku.
Menganggukkan kepala, aku menengadah hingga mata kami bertemu. Satu seringai nakal terbersit dari bibirku. “Aku belum selesai denganmu” kataku nakal.
Ash terlalu terkejut saat aku meluncur turun kebawahnya. Menarik kejantanannya hingga membuatnya mengerang dan terlentang. Kulit sehalus beludru itu kembali tegak hanya dalam satu sentuhan panas tanganku. Menundukkan kepala, aku mengulus, mengisap dan memasukkannya sejauh tenggorokanku bisa.
“ Kamu makhluk cantik yang menyebalkan” erangnya keras saat spermanya memenuhi bibirku.
Bangkit duduk, dia menarikku dan menindihku diatas ranjang, aku tertawa kencang.
Kedua matanya dipenuhi cahaya bulan purnama. Ash berkata.
“ Baiklah, tantanganmu kuterima. Ronde kedua. Dimulai.....”