bc

THE WINGS TRILOGY : #1. the RED WINGS

book_age18+
80
FOLLOW
1K
READ
dark
fated
kickass heroine
powerful
witch/wizard
bxg
mystery
small town
supernatural
special ability
like
intro-logo
Blurb

TRIGGER WARNING!

ADULT CONTAINT, s*x SCENE AND ABUSED.

Aiyana 'Ai' Achak (20) bukanlah manusia biasa, dia tengah kabur dari 'perkumpulannya' bersama Ash, pacarnya yang seksi, menawan dan merilupakan seorang Were-Eagle alias manusia-burung Elang. Pelarian mereka membawa ke Red Dawn, kota kecil yang justru menjadi tempat semua rahasia tentang Ai terungkap.

Tak cuma itu, kini Ai harus menghadapi kenyataan jika sang pemimpin kegelapan tengah mengejarnya dan ingin mendapatkannya. Perang akan segera dimulai, dan sebelum semuanya terlambat Ai harus memilih lelaki yang dia cintai atau jati diri aslinya.

chap-preview
Free preview
PELARIAN.
Aku  mengetuk-ngetukkan  jari diatas meja kasir. Sepasang  mata abu-abuku melebar dari balik tudung  jaket merah tuaku. Hidungku mendengus dan dengan  sengaja mendesah panjang-panjang. Berharap pelayan kasir  didepanku ini sadar jika kemarahanku dapat meledak sebentar  lagi, apabila dia masih dengan  sengaja memperlama  proses pembayaran  ini demi bisa memelototi   pemuda dibelakangku. Yang bahkan  tak menyadari sinyal kegenitannya  sejak tadi.      Minimarket  yang kudatangi  memang sedang tidak  ramai, itu sebabnya si  penjaga bisa bertindak seenaknya  seperti sekarang. Melalui bentuk tubuh, wajah, serta  kelakuan, kutebak gadis berambut pirang perak sepunggung  dikuncir kuda dengan papan nama bertuliskan ‘ Rebeca’ didepanku  ini, pastilah masih remaja. Tebakanku, baru lulus SMA dan memutuskan  tak melanjutkan ke perguruan tinggi karena masalah ekonomi. Sehingga  harus terjebak bekerja di tempat pemberhentian utama wajib  para  pengendara  yang hendak  melewati Rute 66 dari  Los Angeles, California  menuju kemanapun.      Aku  bisa saja  simpatik padanya  jika saja matanya  tidak menyiratkan pikiran dari  otak cabulnya tentang pria dibelakangku  ini. Merasa kesal, aku membentaknya.      “ Permisi  Nona, apa perlu  aku sendiri yang  melabeli semua barang  belanjaanku pada alat barcode?” kataku dingin.      Rebeca  si kasir  tersentak, menoleh  padaku, sadar jika telah  terpergok. Pipinya bersemu merah. Tanpa  menjawab ucapanku dia mempercepat pekerjaannya. “ Err. Semuanya  $1.40,00 ”      Aku  sudah  hendak menarik  dompetku dari saku  celana samping,namun tangan  kekar berkulit emas kecoklatan  menahanku. Menjulurkan lembaran dolar  pas kepada Rebeca, dengan mudahnya melewati  atas kepalaku. Membuatku bertambah jengkel. Si  kasir menerimanya, memberikan senyum lebar termanisnya  dan aku merasa si pria juga membalasnya diatasku. Namun, mendadak  dia dengan sengaja melingkarkan satu tangannya kesekeliling pinggangku. Membuat  tawa diwajah berlian Rebeca menghilang seketika. Bagiku itu cukup sebagai tanda  atas ‘kepemilikan’ diri kami satu sama lain.      Wajah  kami bisa  jadi mirip, dan  itu yang membuat  banyak orang menyalah  artikan jika kami bersaudara. Pada  awal perjalanan ini, kami cukup menikmatinya, karena  artinya orang-orang takkan merasa curiga. Namun terkadang, memang  diperlukan pengukuhan atas kondisi kami sebenarnya disaat-saat tertentu. Salah  satunya sekarang.       Dimana  pacarmu dipandangi  dengan tatapan ‘ingin  melahap’ dari seorang gadis  remaja berdada besar yang mengenakan  seragam berkerah putih tembus pandang ekstra  ketat dan rok super pendek. Sungguh deh, sepertinya  Rebeca ini memang ingin menjadi ikan teri dan disantap  kucing sewaktu-waktu.      Ashiki  Cheveyo, atau  lebih suka dipanggil  Ash. Memang lima tahun  lebih tua dariku. Dia juga  duapuluh centi lebih tinggi  dariku yang hanya mencapai bahunya. Dengan  tubuh kekar terpahat disetiap ujungnya. Kulit  emas kecoklatan sempurna. Hidung berbentuk rajawali. Rahang  persegi dibingkai rambut hitam pekat bergelombang mencapai leher. Serta  sepasang iris coklat dengan warna keemasan bagian luar lingkarannya. Perempuan  normal manapun yang berselera tinggi akan meneteskan air liur melihatnya.      Salah  satu kebanggaan  sekaligus kelemahanku.      Ash  dengan  enteng mengangkat  tiga kantong plastik  besar belanjaan kami dengan  satu tangannya yang masih kosong. Tanpa  berbasa-basi lagi menarik pinggangku dan berjalan  bersama keluar dari minimarket. Suasana area pom bensin  dan rest  area masih  amat ramai  meskipun jarum  pada jam tangan  karet merahku telah  menunjukkan pukul 22.00  lebih.       Ash  melepaskan  pelukannya saat  kami tiba didepan  mobil Chevrolet  kuning  kelu-aran  awal tahun  2000-an, miliknya. Memasukkan  belanjaan kebagian jok belakang  lalu menutupnya pintunya cukup keras. Ash  sempat memandangi wajahku sesaat, mencoba menilai  perasaanku melalui mata batinnya seperti biasa. Dalam  satu gerakan cepat dan tanpa antisipasi dia menarikku  kedalam pelukannya dan bibir panasnya menghujamkan ciuman  hebat kedalam bibirku.      Mendesah. Kutarik  kerah jaket kulit  hitamnya, mengalungkan  kedua tanganku pada lehernya  dan membalas ciumannya. Lidah kami  bertarung. Dan tanpa mempedulikan tatapan  mata disekitar kami, dengan berani dia meletakkan  satu tangannya pada p******a kiriku dan meremasnya keras. Membuatku  harus menggigit bibir bawahnya.      Sebuah  kesadaran  membuatku berhasil  menahan diri. Mundur  dari ‘pertarungan ini’. Sama-sama  terengah, dengan wajah semerah kepiting  rebus kami berdua tertawa bersamaan.        “ Jadi, masih  mau cemburu Miss. Achak?”       Aku  mencubit  d**a Ash, dan dia  pura-pura kesakitan. “ Hentikan  menyebut nama belakangku. Aku paling  tak suka dipanggil begitu “      Ash  tersenyum  lagi, sepasang  lesung pipitnya  muncul dan dia terlihat  sangat menawan. Dia selalu  membuatku memerah setiap kali  melakukan itu. Tangannya mengamit  tanganku lalu membantuku masuk ke  kursi penumpang depan. Saat memakaikan  sabuk pengaman, dia berbisik tepat diluar  daun telingaku. Yang membuat setiap sarafku  bergejolak akibat desahan lembut suaranya.      “ Aku  ingin kita  cepat-cepat sampai  di Hotel” kemudian  menjauhkan wajahnya  dariku sambil mengulum  senyum penuh makna. Puas  telah membuat jantungku berdetak  dengan kecepatan pembalap diarena F1.     ****************      Ash  menjatuhkan  semua barang  belanjaan kami begitu  saja diatas lantai kamar  Hotel. Lalu meraihku yang berjalan  didepannya untuk tadinya meletakkan tasku, ke dalam  pelukannya. Aku tertawa melihat betapa mudahnya pria  itu meraihku keatas bahunya dan membawaku keatas ranjang  double  queen bed .      Aku  terkikik  geli saat  Ash dengan mudahnya  melucuti semua kain pada  tubuhku. Menelanjangiku. Saat  aku hendak melakukan yang sama, dia  membuat gerakan dengan jarinya, tanda melarangku. Aku  merengut, dan secepat kibasan angin dia sudah bersih dari  baju ditubuhnya.      Mataku  dimanjakan  oleh gambaran  sosok laki-laki  nyaris sempurna dihadapanku. Kulitnya  berkilauan oleh cahaya kekuningan lampu  kamar Motel. Rambut gelapnya terlihat seperti  berlian hitam murni. Kusapukan tanganku lembut mulai  dari bahunya yang tegap. Terus turun menelusuri alur otot-otot  kekar hasil latihan dari olahraga dan berburunya sejak masih kanak-kanak. Jemariku  meluncur mengikuti alur, seperti arus air di kolam tenang.       Semua  bulu halus  Ash berdiri ketika  aku mulai memasuki daerah  pinggang. Dia memejamkan mata, tampak  menikmati setiap detik dari sentuhanku. Hidungnya  bernafas pelan-pelan, menyesap aroma melati dari tubuhku. Tanganku  mulai bermain nakal ketika mencapai pinggul menuju tulang belikatnya. Terdapat  tanda lahir menyerupai tato berwarna merah berbentu bulu disana. Itu benar-benar  gambar alami darinya. Kesedihan selalu menyerangku setiap kali melihatnya.       Ash  menyadari  kediaman mendadakku. Membuka  mata, sepasang iris langit malam  berbintang terang melelehkanku. Mendekatkan  wajahnya, ekspresi khawatir terpasang didalam  matanya. “ Ada apa sayang?”      Bisikannya  tulus, namun  entah kenapa, hormon  estrogenku yang tengah  mencapai puncak menjadi bergejolak  mendengarnya. Menggelengkan kepala, aku  berusaha mengembalikan fokusku. Tapi Ash  sudah terlanjur tahu. Sedikit merenggangkan  tubuhnya, aku langsung menarik lehernya dengan  kedua tanganku dan mencium bibirnya dengan kuat, penuh  gairah. Pada awalnya Ash terkejut, berusaha melawan. Namun  berhenti saat kedua kakiku melilit pinggangnya, perutku menggesek  kulit halus kejantanannya yang telah mengeras dan membesar sejak  dibawahku.      Ash  mengumpat, sadar  kebutuhan biologis  kami butuh diledakkan  secepatnya.       “ Aku  membutuhkan  kejantananmu yang  lezat itu memasuki  lubangku Ash....” kataku  c***l dan keras, meletakkan  kedua tanganku pada bahunya.      Mata  gelap Ash  kini berkilat  penuh perhitungan. Seulas  senyum licik tersungging pada  wajahnya. “ Kalau begitu aku harus  memenuhi keinginanmu bukan. Tuan Putri”      Aku  tertawa. Tapi  tertahan ketika  dia menaikkan panggulnya  pada diantara kakiku. Ash menundukkan  wajahnya perlahan,menciumku penuh ketulusan. Tanpa  antisipasi menggoyangkan pinggulnya, meluncurkan miliknya  menembus lubang kewanitaanku. Diawal begitu perlahan dan lembut. Nyaris  membuatku berteriak padanya karena kegilaan, keinginan, dan hawa nafsu. Hingga  seluruh miliknya terkubur didalamku.      Hatiku  bersorak  riang ketika  dari mulut lezatnya  mengatakan. “ Aku mencintaimu  Ai.....”       Aku  membungkus  lenganku disekeliling  bahunya dan kakiku erat  pada pinggulnya. Mendekapnya  erat. Kening kami saling menempel. “ Aku  juga mencintaimu Ashku yang jelek....” kataku  diikuti air mata bahagia.     “ Katakan  itu nanti setelah  aku selesai denganmu”      Dengan  itu, dia  mengeluarkan  miliknya dan kali  ini menembusku lebih  cepat. Kugerakkan pinggulku, memompanya  naik turun, meremas disekeliling kejantanannya. Dia  mencengkram kuat dan keras kedua pantatku, dan aku  mengangkat pinggulku dengan cepat menyebabkan miliknya  menembus bagian-bagian tak terjamah dariku. Kami sama-sama  mengerang penuh kenikmatan.      “ Ya  Tuhan Ai, kamu  begitu nikmat....aku...sang...at...mencintai...mu....” ujarnya  terbata-bata dan keras.      Mendadak  Ash berubah  brutal. Dia mencengkram  pinggulku lagi dan mendorongku  keluar masuk dengan sangat keras  serta ekstrem. Hal yang takkan pernah  bisa diterima wanita manusia pada normalnya. Tapi  aku sangat menyukai permainan kami, dan well, aku  kan bukan  gadis normal.       Pada  gerakan  terakhir dia  kejantanannya mendorong  sekeras, sekencang, dan sedalam  dia bisa. Dia mengirim kami sama-sama  ketepian, saling menjeritkan nama. Benihnya  tumpah didalamku, tak lama kemudian Ash ambruk  disamping kananku. Terengah-engah. Tangan kanannya menyelubungi  payudaraku.       Aku  menoleh  padanya, mencoba  menggerakkan pinggulku  yang mendapatkan rasa lelah  penuh kenikmatan. Dan itu sangat  indah karena bersama Ash. Bergelung  didalam tubuh kekarnya. Mencium aroma  seks bercampur kayu manis khasnya, lalu  mengingit putingnya hingga dia mengerang. Kedua  jantungnya berdebar secepat dua jantung milikku.      Ya, itulah  kami. Makhluk  dengan dua jantung  dalam satu tubuh. Namun  alih-alih malu, kaum kami justru  amat bangga.       “ Pengendalian  dirimu sudah jauh  lebih baik sayang” bisiknya  sambil mengecup puncak dahiku.      Menganggukkan  kepala, aku menengadah  hingga mata kami bertemu. Satu  seringai nakal terbersit dari bibirku. “Aku  belum selesai denganmu” kataku nakal.      Ash  terlalu  terkejut saat  aku meluncur turun  kebawahnya. Menarik kejantanannya  hingga membuatnya mengerang dan terlentang. Kulit  sehalus beludru itu kembali tegak hanya dalam satu  sentuhan panas tanganku. Menundukkan kepala, aku mengulus, mengisap  dan memasukkannya sejauh tenggorokanku bisa.      “ Kamu  makhluk cantik  yang menyebalkan” erangnya  keras saat spermanya memenuhi  bibirku.      Bangkit  duduk, dia  menarikku dan  menindihku diatas  ranjang, aku tertawa  kencang.      Kedua  matanya  dipenuhi cahaya  bulan purnama. Ash  berkata.       “ Baiklah, tantanganmu  kuterima. Ronde kedua. Dimulai.....”         

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Touch The Cold Boss

read
242.0K
bc

Stuck With You

read
75.9K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

The Perfect You

read
297.8K
bc

Everything

read
283.6K
bc

Saklawase (Selamanya)

read
69.7K
bc

Rewind Our Time

read
168.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook