Farel masih betah di kamar kos Damar. Farel yang berasal dari keluarga berkecukupan seolah penasaran bagaimana kehidupan orang-orang seumurannya yang berani tinggal seorang diri. Jauh dari orang tua, bahkan tak mengenal siapapun di tempat yang baru.
“Mar, lo tinggal sendiri saja di sini? Kalau mau makan harus beli?” tanya Farel pada teman yang baru ditemuinya tersebut.
“Iya. Di dekat sini ada warteg. Jadi, kalau lapar ya saya beli,” jawab Damar dengan logat sunda yang masih kental.
“Kalau gitu boros nggak sih? Atau harga makanan di warteg situ murah?”
“Harus hemat-hemat, Rel. Saya berasa banget sehari untuk makan saja bisa habis lima puluh ribu rupiah. Di Garut sana makan tinggal ambil di dapur karena ada ambu yang masak. Harga makanan di Garut juga masih lebih murah,” jawab Damar.
Mungkin untuk Farel lima puluh ribu rupiah bukanlah nominal yang besar. Itu hanyalah sebesar uang sakunya saat duduk di sekolah menengah selama satu hari. Bisa dibilang hanya untuk makan siangnya saja di sekolah.
Kemudian Farel merasa penasaran dengan biaya hidup Damar di Jakarta. “Mar, terus untuk biaya hidup sehari-hari lo gimana?” tanyanya.
“Diberi sama bapak saat berangkat ke Jakarta. Tapi harus dihemat-hemat untuk bayar bulanan tempat kos dan juga ongkos,” jawab Damar tanpa merasa malu.
“Oh begitu. Sorry ya, Mar, bukan maksud terlalu ingin tahu, tetapi gue penasaran saja.” Farel meminta maaf atas segala rasa penasarannya.
“Nggak apa-apa, Farel. Saya mah santai saja. Cuma untuk selanjutnya saya nggak tahu apa bapak saya masih mampu membiayai hidup saya di Jakarta kalau uang yang dia kasih sudah habis hehehe …,” Damar terkekeh. Namun, sebenarnya dia sudah sangat memikirkan kehidupan selanjutnya di perantauan.
“Oh iya ngomong-ngomong boleh pinjam chargeran? Hp gue lowbat deh kayaknya.” Farel mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkannya pada Damar.
Damar melihat ponsel yang ditunjukkan oleh Farel. Damar kemudian tertawa. Lalu pemuda itu berkata, “Mana punya saya charger Hp mahal seperti itu. Hp saya kayak gini nih. Belum diisi juga pulsanya.” Ditunjukkan sebuah ponsel layar sentuh tipe lama pada Farel.
Farel memandangi ponsel Damar dan juga ponselnya secara bergantian. Ponsel Damar sungguh jauh berbeda dengan ponsel miliknya yang keluaran dari brand ternama dengan logo buah apel di belakang ponsel. Sementara ponsel Damar adalah ponsel keluaran lama merk dari China.
Merasa tak enak hati Damar segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Sungguh ia tidak bermaksud menghina Damar dengan menunjukkan ponselnya.
“Sorry banget ya, bukan maksud gue jelek loh,” kata Farel.
Damar menjawab, “Loh kenapa minta maaf? Saya yang seharusnya minta maaf karena tidak punya charger untuk Hp kamu.”
Mendengar hal tersebut justru membuat Farel semakin merasa tidak enak hati. Pada akhirnya dia memutuskan untuk berpamitan pulang.
“Damar, gue balik deh ya. Sampai ketemu lagi di kampus pas OSPEK,” pamit Farel.
“Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan ya. Makasih sudah belikan saya makan siang,” jawab Damar.
Diantarnya Farel keluar rumah kos hingga teman barunya tersebut melajukan motornya pergi dari sana. Setelah itu Damar kembali ke kamarnya.
Saat malam tiba, Damar mulai mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk OSPEK besok. Damar harus membeli beberapa perlengkapan yang ia belum punya seperti name tag.
“Mau beli name tag tapi saya tidak tahu di mana,” gumam Damar yang kebingungan harus membeli benda tersebut di mana.
Tidak tinggal diam, Damar kemudian beranjak keluar dari rumah kosnya. Menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari jalan yang sekiranya ada toko perlengkapan alat tulis.
“Lo penghuni baru ya di sini?” tanya seorang pemuda yang muncul secara tiba-tiba di samping Damar.
“Eh, iya. Saya penghuni baru di sini,” jawab Damar.
Pemuda tersebut tampak mengernyitkan dahinya saat mendengar nada bicara Damar dengan logat Sunda yang kental.
“Perantauan?” tanya pemuda tersebut.
“Iya,” jawab Damar singkat.
“Kenalin, nama gue Gibran. Gue juga tinggal di kosan ini kok.” Pemuda yang mengenalkan dirinya dengan nama Gibran tersebut mengulurkan tangan pada Damar.
Damar menyambut uluran tangan Gibran. Kebetulan juga Damar jadi bisa bertanya pada Gibran di mana ia bisa membeli name tag yang dibutuhkan untuk keperluan OSPEK besok.
“Maaf saya mau tanya, kalau mau beli name tag di mana ya?” tanya Damar.
“Name tag? Untuk apa?” balik Gibran bertanya.
“Untuk keperluan kuliah. Di sekitar sini ada yang jual?”
“Gue antar saja yuk. Di ujung jalan sini ada yang toko fotocopy kok. Jual name tag dan alat tulis juga.” Gibran berbaik hati menawarkan tumpangan pada Damar.
Tidak ada alasan bagi Damar menolak tawaran Gibran mengingat dia juga masih belum familiar dengan wilayah di sekitar tempat kosnya tersebut. Damar pun menerima tawaran Gibran. Diantarnya Damar oleh Gibran ke tempat yang dimaksud dengan menaiki sepeda motor milik Gibran.
Tempat fotocopy yang didatangi oleh Damar dan Gibran benar-benar lengkap. Tak hanya alat tulis saja yang dijual, tetapi tempat tersebut juga menjual perlengkapan ulang tahun.
“Di dekat rumah saya di Garut juga ada yang mirip seperti ini. Warung rumahan tapinya. Menjual sembako, alat tulis, sampai payung juga dijual,” celoteh Damar.
Gibran tertawa. “Hahahaha ….” Dia juga membalas celotehan Damar. “Di tempat fotocopy nggak menjual sembako, Mar. Hahaha ….”
“Iya juga sih hehehe ….”
Damar sudah membeli segala keperluan yang dibutuhkan untuk besok. Kemudian diantar oleh Gibran ia kembali ke tempat kosnya.
Namun, saat diperjalanan Damar merasa lapar. Dia belum makan malam, tetapi dia juga ingin menghemat uangnya. Damar kemudiab melihat sebuah warung dalam perjalanan pulang.
“A’ kita ke warung depan situ dulu ya,” pinta Damar sambil menepuk bahu Gibran. Damar juga memanggil Gibran dengan sebutan Aa’ seperti kebiasaannya di Garut saat memanggil laki-laki yang lebih dewasa darinya.
“Warung mana? Oh, yang di depan situ,” tunjuk Gibran.
“Iya, yang di depan.”
Kemudian Gibran menghentikan motornya tepat di depan warung yang ditunjuk oleh Damar.
“Sebentar ya, A’. Saya mau beli mie instan dulu,” kata Damar saat menuruni motor Gibran.
Damar membeli dua bungkus mie instan serta dua bungkus s**u kental manis. Damar memberikan selembar uang senilai sepuluh ribu rupiah, dan dikembalikan oleh si pemilik warung selembar uang dua ribu rupiah.
“Nah, bisa hemat kalau begini!” jata Damar yang merasa senang.
Setelah membeli mie instan dan s**u kental manis di warung, Damar kembali menaiki motor Gibran. Mereka berdua kembali ke kosan yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.
Akan tetapi sesampainya di tempat kos Damar baru terpikirkan bagaimana ia harus memasak mie instan yang dibelinya. Dia tidak memiliki kompor dan perlengkapan masak. Tempat kos tersebut juga tidak menyediakan dapur yang bisa dipakai bersama.
“Kumaha iyeu (Bagaimana ini)?” Damar kebingungan.
Damar tidak tahu harus bagaimana. Ingin bertanya pada orang-orang yang tinggal di kamar sebelahnya sayangnya Damar belum berkenalan dengan mereka. Sedangkan cacing di perutnya sudah berbunyi nyaring.
“Ya sudahlah, kita makan langsung saja,” kata Damar.
Dia mengambil sebungkus mie instan. Meremasnya hingga sedikit hancur. Lalu ia membuka bagian atasnya. Bumbu-bumbu di dalam mie instan tersebut kemudian di tuang langsung di dalam bungkusnya. Kemudian Damar mengguncang bungkus mie instan sambil menutup bagian yang sudah terbuka. Setelah itu Damar memakan mie instan tersebut tanpa memasaknya terlebih dahulu.
“Bapak sama ambu tidak boleh tahu kalau anaknya sedang berhemat sampai seperti ini,” gumamnya.
Ponsel Damar kemudian berdering. Sang ibu meneleponnya. Damar membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum ia menerima panggilan telepon tersebut.
“Halo Ambu,” sapa Damar.
“Ujang, gimana di Jakarta? Sehat?” tanya sang ibu.
“Sehat, Ambu. Damar mah selalu menjaga kesehatan,” jawab Damar.
“Kami sudah makan atau belum?)” tanya ibunya lagi.
“Sudah, Ambu,” jawab Danar.
“Makan apa kam? Jangan makan mie instan ya." Sang ibu mengingatkan.
Seketika itu Damar langsung melirik ke bungkusan mie instan yang ada di dekat kakinya. Damar tidak mungkin mengatakan jika dia sedang menikmati mie instan yang dilarang oleh sang ibu. Apalagi tanpa dimasak sama sekali.
“Ujang, jaga diri baik-baik ya. Jika memang ada yang kamu butuhkan, jangan sungkan bilang sama Ambu, sama Bapak,” pesan Ambu pada Damar.
“I-iya, Ambu," jawab Damar sungkan.
Kemudian ibu dan anak itu berbincang-bincang sejenak. Ibunya banyak memberi wejangan pada Damar yang kini tinggal jauh dari keluarganya. Menanamkan di benak Damar jika suatu saat nanti pemuda itu harus menjadi pemuda yang sukses dan bisa mengangkat derajat keluarganya. Damar adalah harapan kedua orang tuanya saat ini.